Ini adalah hari-hariku yang cukup kritis. Mengapa? Aku sedang tidak mood melanjutkkan 3 tugas akhirku yang tertunda akibat pilihan untuk fokus di organisasi dan studi di Jerman selama sebulan. Dan sekarang ternyata aku belum bisa memutuskan untuk segera melanjutkan kembali karena urusan di penghujung amanah ini masih menyita perhatianku khususnya keinginan yang besar untuk menatap adik-adik dapat melanjutkan roda pemerintahan (gayanya kayak ngatur negara saja) dengan sebuah visi yang kuat. Aku ingin masa setelahku adalah pembuktian untuk memutus mata rantai kejumudan, ketakutan dan segala tradisi klasik cara orang berorganisasi. Sekarang bukan lagi saatnya terjebak pada tradisi dan stagnasi, tetapi terus berinovasi untuk masa depan berdasarkan pembelajaran sejarah yang panjang dan dalam.

Akhirnya aku memutuskan untuk menulis risalah panjang tentang opini bebasku untuk negeri ini. Negeri yang telah membesarkanku dalam bangunan pemikiran yang sangat kaya dan komprehensif. Negeri yang seburuk dan sememalukan apa pun di mata orang barat, namun aku yakin suatu saat akan bangkit lagi mengulang masa kejayaan Sriwijaya, Majapahit, hingga masa Perjuangan Diponegoro yang gagah berani itu. Dan inilah Indonesia dalam benakku. Benak seorang mahasiswa strata satu yang masih mencari banyak guru untuk belajar tentang hidup ini.

Menengok Sejarah

”Bangsa yang besar adalah bangsa yang senantiasa menghargai jasa para pahlawannya“, itulah kata-kata yang masih sering kita ingat ketika SD dahulu, terutama waktu pelajaran sejarah dan kewarganegaraan. Yah, kemajuan suatu bangsa salah satunya ditentukan oleh warisan sejarah yang mendahuluinya serta persepsi generasi itu dikemudian hari terhadap jejak hidup pendahulunya.

Aku pernah membaca sebuah tulisan panjang dari Indragani, seorang pemerhati sejarah yang reputasinya kurang ternama. Meskipun bukan orang terkenal, tetapi aku tergelitik dengan statemennya ketika beliau mengulas tentang asal mula moyang bangsa Indonesia. Menurutnya kita adalah bangsa pelarian, yaitu bangsa Proto dan Deutero Melayu yang terusir dari dataran Yunan hingga ke kawasan nusantara. Itulah mengapa kata beliau mental bangsa kita itu pengecut, karena kita bangsa pelarian yang berstatus kalah.

Benarkah? Tidak usah berdebat masalah pendapatnya pak Gani, tetapi menarik juga untuk mengulas masalah pelarian orang-orang Proto dan Deutero Melayu dari dataran tinggi Yunan. Karena aku bukan ahli sejarah, aku hanya berpedoman pada buku sejarah SMA yang pernah kubaca bahwa orang-orang itu hijrah secara bergelombang menuju kawasan nusantara ini hingga akhirnya menjadi nenek moyang kita. Jika hijrah itu karena terusir, lantas apa itu menjadi latar belakang bangsa kita menjadi bangsa pengecut seperti sekarang ini? Kurasa tidak. Karena kaum Mujahirin pun hakikatnya terusir dari tanah kelahirannya, tetapi mereka rela meninggalkan seluruh kepunyaan mereka untuk menuju Allah dan Rasulnya dan kita semua tahu hasilnya, Islam akhirnya mewarnai peradaban di muka bumi ini dan menunjukkan kemuliaannya selama berabad-abad, bukan dengan pedang (seperti yang sering dipersepsikan oleh kalangan orientalis) tetapi dengan warisan ilmu dan tata hidup yang agung. Maka tak heran jika Nabi Muhammad mendapatkan tempat tertinggi dari 100 orang yang paling berpengaruh di dunia versi Michael Heart. Jadi aku tidak sependapat dengan beliau ini.

Kemudian kita berlanjut ke fase-fase kehidupan bangsa ini mulai dari masa kerajaan hingga masa kolonialisme terjadi. Pada zaman kerajaan Hindu-Buddha kita pernah mengalami masa kejayaan. Konon katanya waktu itu wilayah nusantara ini dapat dipersatukan lewat panji Sriwijaya, kemudian Majapahit. Kemudian fase pemerintahan pun beralih ke zaman kerajaan Islam ketika masyarakat Islam telah menguat di kawasan nusantara. Sebenarnya masa ini pun tak kalah jayanya dengan masa sebelumnya. Mengapa? Hal yang tidak pernah diungkap adalah bahwa para raja/sultan yang berkuasa di berbagai wilayah nusantara ini sebenarnya bersatu di bawah satu bendera khalifah Islam. Karena mereka diangkat sebagai amir wilayah oleh khalifah yang berkedudukan di Turki Utsmani untuk melindungi dan memakmurkan wilayah kekuasaan mereka masing-masing. Inilah kekuatan yang sebenarnya menjadi potensi besar bangsa ini yang menyebabkan kolonialisme Belanda terus dirongrong jika saja tidak lahir generasi Abdullah bin Ubay ala Indonesia. Bukankah masa perang ini terjadi di masa kesultanan Islam berkuasa di nusantara? Maka inilah bukti bahwa kita adalah bangsa pejuang yang memiliki harga diri. Hanya saja para pengkhianat bangsa telah mencederai harga diri bangsa yang tinggi ini dan menjadikannya terhina di mata bangsa-bangsa lain.

Maka aku sangat setuju dengan statement Sujiwo Tejo dan beberapa tokoh lain dalam sebuah talkshow yang pernah berkata bahwa pernyataan negara kita dijajah Belanda selama 350 tahun itu adalah sebuah pernyataan yang salah besar. Sebuah kalimat yang mematikan generasi muda Indonesia dan menjadi biang ketersesatan pembelajaran sejarah bangsa kita. Yang terus diajarkan oleh para guru sejarah sebagai pelajaran pengantar tidur di kelas yang kini justru semakin menjauhkan generasi muda dari masa lalunya yang jaya.

Dalam pandanganku, sesungguhnya kita tidak pernah dijajah Belanda, mereka hanya datang karena kebutuhan ekonomi untuk kelangsungah hidup akibat terbatasnya sumber daya alam dan itu manusiawi bagi mereka yang memasuki masa renaisans setelah kekhalifahan Turki Utsmani terus mengalami kemunduran dan digantikan oleh kebangkitan Eropa. Tetapi sebagian dari kitalah yang menjajah saudara mereka sendiri. Merekalah para pengkhianat bangsa yang berselindung dalam gelar Kepala Suku, Adipati, Demang, Patih, bahkan hingga Raja hingga akhirnya Trunojoyo, Imam Bonjol, Diponegoro, dan beberapa yang lain mengangkat senjata bersama rakyat yang tertindas untuk menunaikan janjinya sebagai pembela tanah air.

Tanyakan siapa yang mengalahkan rakyat Aceh, barisan pejuang tanah air yang paling sulit ditaklukkan oleh Belanda hingga akhirnya Belanda harus mengirim ahli sosiologi yang merangkap sebagai orientalis, Snouck Hugronje untuk mempelajari karakteristik masyarakat Serambi Makkah yang terkenal paling tangguh sejak zaman Iskandar Muda. Tahukah siapa yang mengalahkan para pejuang pemberani itu? Mereka dikalahkan oleh bangsa Indonesia sendiri yang berhimpun dalam pasukan Marsose, pasukan mengerikan yang dipimpin oleh Kapten Belanda untuk tugas-tugas spesial seperti pembunuhan dan pembantaian. Mereka lebih tangguh dari pasukan Belanda, lebih kejam dan lebih mengerikan. Mereka mengadu nasib dengan menjadi pengkhianat. Belum lagi ulah para penjilat dan penguasa yang lebih memilih menjadi sahabat akrab Belanda. Itulah mengapa Belanda bisa bercokol selama 3,5 abad. Sekali lagi mereka tidak menjajah kita, mereka berbisnis dengan para pengkhianat bangsa ini. Dan para pengkhianat itulah yang terus menjajah tanah air ini. Sampai kini.

Maka kita tarik saja perilaku kebanyakan wakil rakyat dan pejabat sekarang. Apa bedanya. Zaman dan sarana saja. Prinsipnya tetap sama, pengkhianat. Dalam bahasa yang satir, mengapa sidang para dewan dan pemerintah tidak pernah diunggah di internet dan disiarkan ke publik? Yah simpel saja, karena memang sidangnya bukan untuk tujuan menyejahterakan rakyat. Mungkin saja sebenarnya berbagai pertemuan itu tidak lebih sebagai transaksi jual beli, dimana rakyat dan tanah Indonesia sebagai komoditas utama. Sebuah transaksi mengerikan antara para pengkhianat bangsa dengan pengusaha serakah dan bangsa asing yang mungkin keturunan atau kerabat dekatnya Belanda dulu. Aku hanya berdoa, semoga Allah segera memenangkan pemimpin-pemimpin berhati baik yang jumlahnya sedikit di kursi panas itu untuk bisa memimpin negeri ini dengan keadilan. Dan aku yakin, ketika Allah telah menakdirkan itu terjadi maka sebesar apa pun kekuatan jahat itu pasti tidak akan mampu mencelakakannya sedikit pun.

Maka belajar sejarah itu bukan perkara menghafal kronologi dan mengerti detail setiap peristiwa, apalagi menyalahkan dan membenarkan saja. Tetapi belajar sejarah itu adalah untuk mengambil berbagai inspirasi dalam membangun bangsa ke depan. Untuk tidak berkhianat lagi, untuk tidak korupsi lagi, dan untuk tidak menjadi bangsa yang bodoh lagi. Untuk bekerja keras, untuk menggalang persatuan, dan untuk mendahulukan kepentingan nasional. Belajar sejarah itu untuk mengarahkan pemikiran generasi bangsa ini pada sebuah visi besar kejayaan bangsa dan umat manusia dalam sebuah naungan kedamaian dan ketaatan pada sang pencipta.

Jadi mengajar sejarah itu tidak hanya sekedar bercerita, tetapi membangkitkan moral bangsa. Dan itu jelas bukan tugas guru sejarah saja, tetapi siapa pun yang merasa bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup bangsa ini. Maka jangan pernah menganggap enteng ketika kita sekarang sudah terlanjur menyandang gelar kaum intelektual. Kecerdasan kita akan menjadi jalan masuk neraka dengan mudah ketika kita tidak menunaikan janji cendikiawan itu sendiri.

bersambung …..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.