Bagaimana pun, kami hanyalah tamu yang mendapatkan kesempatan untuk belajar di tanah seberang, tanah Berau, Kalimantan Timur. Sebuah tanah yang merupakan karunia Allah bagi Indonesia dengan banyaknya hutan dan tambang batu bara, serta pemilik keindahan alam bawah laut yang sangat tersohor di dunia, kepulauan Derawan. Maka selama-lamanya kami di sana, ada saatnya kami harus kembali ke daerah kami masing-masing untuk melanjutkan tugas yang diamanatkan kepada kami.

Subuh hari kami diantar oleh mas Baihaqi dan Syuaib menyusuri jalan mengular menuju simpang empat Tanjung Redeb yang dilanjutkan ke arah Bandara Kalimarau, tempat kami berangkat dahulu. Inilah titik perjumpaan akhir kami dengan mereka dan seluruh orang-orang yang pernah menjadi bagian dari hidup kami selama beberapa hari kemarin. Ada rasa berat di hati untuk meninggalkan mereka. Namun apa daya, jadwal penerbangan kami bahkan dipercepat dari seharusnya jam 3 sore menjadi jam 7 pagi. Lambaian tangan menjadi isyarat terakhir kami bahwa di tempat inilah kita berpisah dan berharap semoga di pertemukan kembali di kesempatan lainnya.

Pesawat pun mengudara meninggalkan tanah yang penuh dengan hutan lebat dan tambang batu bara itu. Perlahan pandangan hijau dan sesekali terlihat lubang-lubang galian itu pun menghilang tertutupi oleh awan. Kami pun mengalami rute penerbangan yang panjang menuju Jakarta hari ini. Dari Bandara Kalimarau Berau kami transit sebentar ke Bandara Sepinggan Balikpapan. Dari Sepinggan kami transit lagi di Bandara Adisucipto Yogyakarta. Dan dari Bandara Adisucipto ini barulah kami mengakhiri perjalanan ini ke Bandara Soekarno – Hatta, bandara terbesar kebanggaan Indonesia.

Keluar dari pesawat aku sadar, waktu telah berubah dan berbeda. Aku telah berada di belahan lain Indonesia lagi, di pulau kelahiranku, di kawasan Ibukota negeriku. Dan kuucapkan dalam hatiku, selamat tinggal tanah Berau. Terima kasih atas pelajaran hidup yang kau berikan selama kami di sana. Terima kasih Mas Baihaqi atas segala inspirasinya, Pak Asrie, Pak Giman, Pak Ibrahim, Pak Darwis, Syuaib, Pak Ismoyo, para dewan guru, dan adik-adik yang luar biasa. Semoga kita bisa bertemu lagi.

Dan taksi burung biru itu mengantar perjalanan kami yang melelahkan hari ini menuju markas di mana kami diutuskan, Lembaga Pengembangan Insani, Dompet Dhuafa di Parung Bogor.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.