Istana Sambaliung dan Adat Berau

Begitu sampai di kampong, aku meneruskan perjalananku ke ibu kota Berau, Tanjung Redeb. Di sana, tujuan utama kami adalah mengembalikan pinjaman motor ke Pak Ismoyo. Tapi bukan kami kalau langsung datang begitu saja. Kami membelok dulu ke sebuah jembatan kuno yang kata orang itu menuju Istana Sambaliung, rival kesultanan Gunung Tabur di masa Belanda menjajah negeri ini.

Karena sama-sama belum tahu, aku dan mas Baihaqi malah tersesat di sebuah Pura Hindu yang besar. Aku sebenarnya sudah merasa tidak baik sejak berhenti di tempat itu. Masak Sambaliung yang katanya pecahan dari kesultanan Gunung Tabur berbasis Hindu? Akhirnya benarlah ketika kami bertanya kepada tokoh di pura itu kami memang salah alamat. Sempat kami menjadi perhatian para pengunjung pura, karena mas Baihaqi menggunakan baju koko dan aku menggunakan kaos bergambar Soekarno. Kami hanya tertawa kecil dengan kebodohan kami. Untung kami belum tersesat masuk ke pura yang disucikan oleh penganutnya itu. Maaf ya Bapak/Ibu sekalian.

Setelah puas menertawakan kebodohan kami, perjalanan pun dilanjutkan ke Sambaliung. Benar saja, inilah istana di seberang sungai yang diceritakan Pak Ismoyo dahulu. Sebuah kerajaan pecahan kesultanan Gunung Tabur hasil intervensi Belanda untuk melemahkan pemerintahan rakyat di kawasan itu. Istananya yang megah seperti Batiwakkal itu dihiasi dengan prasasti di depannya. Ada dua tugu prasasti yang berhuruf arab berbahasa Melayu dan berhuruf lontar Bugis. Isinya mengagumkan bagiku karena kerajaan ini ternyata memberikan penghormatan yang tinggi kepada raja dan wanita. Bahkan dalam prasasti itu ditegaskan, siapa pun wanita yang berjalan baik ia budak atau pun bukan maka setiap laki-laki harus menepi dan menundukkan pandangannya. Hal itu sebagai penghormatan kepada para wanita sebagaimana hal itu diperintahkan untuk raja ketika sedang berjalan atau para pejalan berlalu di depan istana.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.