Hutan dan Akses Jalan Raya

Pagi hari di Pulau Derawan hari ini tak seperti harapanku. Aku berharap dapat melihat indahnya matahari terbit di sana. Tetapi apa daya, sejak jam 3 pagi hujan yang sangat deras terus mengguyur kawasan itu hingga matahari meninggi sepenggalah. Ah, sudahlah bukan rezekinya kami untuk melihat pemandangan itu. Setidaknya kami bersyukur bisa hadir di tempat ini. Terutama aku, ini hanya tanah mimpi yang pernah kubuat tulisannya beberapa bulan lalu saat digelarnya Festival Derawan 2013. Tapi ternyata aku bisa bermalam di atasnya. Alhamdulillah.

Dan kami pun segera melunasi kewajiban kami kepada sang pemilik penginapan. Sebelum kami meninggalkan pelabuhan itu, kami meminta mas Bayu untuk mengantarkan kami memutari pulau Derawan dengan pelan. Kami amati lekat-lekat pulau indah dengan pohon kelapa yang tinggi itu. Mungkin lagu Rayuan Pulau Kelapa itu adalah representasi dari mayoritas kepulauan kita yang indah dihiasi pepohonan itu dari kawasan pantainya. Setelah itu, speed boat kembali melaju kencang membawa kami ke dermaga yang indah di pulau terbesar Indonesia itu, Tanjung Batu di Kalimantan Timur.

Perjalanan pulangku kali ini kuniatkan untuk mengamati hutan-hutan yang dibakar dan digundulkan oleh aktivitas industry yang mulai tumbuh. Menurut kepala kampung yang kukunjungi, selain tanah-tanah yang ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung, para warga diperbolehkan untuk menebang pepohonan dan membangun pemukiman. Benarkah sesederhana itu? Bagaimana nasib hutan hujan tropis Kalimantan yang menjadi salah satu paru-paru dunia itu? Aku kemudian berimajinasi dengan jalan mulus yang kulalui ini. Bukankah ini akan menjadi potensi pencurian kayu-kayu dan segala kejahatan di kawasan ini membesar nantinya? Ah, ini asumsi mahasiswa ingusan yang belum banyak belajar.

Baiklah kita tinggalkan dulu pembicaraan ini. Pemandangan hutan yang monoton itu pun berakhir di areal pertambangan batu bara, Berau Coal yang berada di kampung Sambakungan. Kami pun terus bersemangat untuk mencapai Kampung Samburakat yang tinggal beberapa puluh menit lagi. Perjalanan ini memberiku persepsi baru tentang arti dekat. Dekat itu benar-benar relative dalam benak masing-masing orang.

bersambung ….

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.