Tujuh Belas Hari Mengenal Berau Kami : Hari Ketujuhbelas #3

Senja yang Sedih

Sore harinya, anak-anak sudah menantiku untuk mengucapkan perpisahan. Entah mengapa, para gadis-gadis Berau itu lebih berminat untuk merubungi saya, sedangkan yang cowok-cowok lebih memilih merubungi temanku. Padahal aku tidak punya tampang playboy sedikitpun. Tapi sudahlah, ini mungkin momen-momen yang akan dialami para pemuda yang melakukan perjalanan di daerah-daerah pedalaman untuk kegiatan pengabdian.

Entahlah apa yang ada di benak mereka. Ada mulai alay merayu-rayuku agar tidak pulang. Ada yang bertanya sudah punya pacarkah? Ada yang PDKT ini itu (maaf bukan GR ya). Dan pada intinya mereka menginginkan aku tidak pulang. Inilah momen-momen penting untuk memberikan wejangan kunci kepada mereka agar menjaga mimpi-mimpi yang telah mereka bangun selama ini. Setidaknya kami yang hanya 17 hari di sini memiliki kesempatan untuk berbagi dengan mereka. Yah, anak-anak pedalaman butuh sentuhan luar untuk memperbaiki mimpinya dan mengenalkan mereka tentang Indonesia.

Aku hanya mengulang apa yang kubagi di kelas-kelas ketika mengisi pelajaran. Bermimpi besar, belajar giat, tekun dan berjuang keras meraih cita-cita itu. Keluar dari tanah Berau untuk menuntut ilmu dan kembali lagi untuk membangun daerahnya. Maaf ya adik-adik, kami harus kembali ke daerah asal kami untuk mengerjakan amanah kami lagi di sana.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses