Alhamdulillah, Allah masih membuka mataku untuk menatap hari Ahad keduaku di tanah Borneo ini. Sebuah pagi yang menjadi saksi keceriaan anak-anak SD N 002 Gunung Tabur untuk belajar tentang pasar secara nyata. Seperti yang sudah kami agendakan, kami merencakan kegiatan Outing Class untuk seluruh siswa kelas I-VI. Meskipun tidak datang semuanya, tetapi anak-anak yang sudah berkumpul di sekolah hari ini lebih dari cukup untuk membuat sebuah pasar.

Anak-anak kubagi menjadi 5 kelompok. Ada yang menjadi petugas pasar, jumlah anggotanya paling sedikit, dipimpin Joni, anak berdarah Jawa yang sudah tidak dapat berbahasa Jawa. Berikutnya adalah kelompok produsen, dipimpin Vina, gadis berdarah Berau yang putih dan membuat si Syuaib tergila-gila pada anak SD ini. Kemudian ada kelompok distributor yang dipimpin Rita, gadis berdarah Timor yang mampu melantunkan lagu Indonesia Raya dengan fasih dan indah. Kemudian kelompok pedagang pasar yang dipimpin Faishal, keturunan Bugis – Brunei yang gampang menangis meskipun sudah kelas 6. Terakhir adalah kelompok pembeli yang dipimpin Tino, si mungil berdarah Timor yang sangat energik dan gigih sejak aku beri penugasan membuat uang-uangan kemarin.

Adegannya adalah para produsen membuat barang-barang yang akan dijual di pasar. Mereka tampak kreatif mulai menggunakan pot hingga aneka dedaunan yang dilintingi seolah-olah sayuran. Para petugas pasar sibuk berjaga di gerbang sekolah (sebagai gerbang pasar) untuk menahan para pembeli yang sudah membawa uang banyak. Sementara itu para pedagang mulai membuka toko. Melihat hal itu, para distributor yang merangkap sebagai sales berkeliling melayani pesanan para pedagang. Beberapa tampak berjalan dari gudang (tempat produsen) ke pasar.

Kegiatan yang sempat diwarnai kericuhan karena adanya oknum pencopet yang mengambili uang para pembeli itu akhirnya berjalan normal setelah para penjaga pasar yang gagah itu berhasil menangkapnya. Mereka cerdas sekali dalam melakukan aktivitas itu. Suasana riuh antara antara pembeli dan pedagang yang saling beradu argumentasi itu tampak menggelikan. Ada yang marah-marah karena ada penjual yang menawarkan dagangan dengan harga melangit.

Usai kegiatan pasar itu, mereka pun masih tetap riuh saat masuk ke dalam kelas untuk membuat laporan. Memang tak seideal mimpiku ketika mereka bagus dalam beraksi di lapangan, harapannya juga dapat membukukan laporan dengan rapi. Yang jadi produsen dapat membuat daftar produksi dan pemasukannya. Yang menjadi distributor dapat melaporkan kegiatan transaksi dan keuntungan dari ongkos kirim yang mereka terima. Yang jadi pedagang harapannya juga dapat membuat laporan yang menunjukkan apakah aktivitas mereka mendatangkan keuntungan hari ini setelah dipotong pengembalian hutang saat pemesanan barang, ongkos kirim, dan sewa kiosnya. Yang jadi pembeli pun diharapkan membuat laporan kronologis hasil pembeliannya dan mana saja yang dapat mereka tawar. Demikian juga para pegawai pasar dapat membuat laporan administratif seperti pengunjung yang datang, pemasukan kios, dan kejadian-kejadian yang berhasil ditangani. Itu impian idealku, tetapi harus bagaimana lagi mengingat kondisi mereka yang sudah kuceritakan di kesempatan sebelumnya. Pasar berjalan sukses saja sudah membuatku bersyukur. Mereka gembira, maka aku pun gembira.

Kegiatan Outing Class hari ini pun ditutup dengan outbond yang dipimpin rekanku dengan permainan ular-ularan dengan target memecah balon yang dipasang di kaki anggota yang jadi ekor. Kemudian mereka melanjutkan dengan acara berenang di sungai Berau. Aku pun memilih menyingkir mengingat tempat renang anak-anak adalah pinggiran sungai yang ada dermaga kecil dan empang yang tiap pagi dipake untuk menabung para warga.

bersambung …

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.