Penyu dan Konservasi Alam

Malam harinya, usai shalat di masjid Agung di pulau tersebut kami bertiga memutuskan untuk jalan-jalan mengelilingi pulau ini. Hiasan yang sering kami lewati di tengah jalan adalah kuburan, ya betulan kuburan tampak berserakan di tepi jalan dan tampak kuno. Jika sepi mungkin akan terasa menyeramkan meskipun di dekat itu ada pantai dan orang masih ramai hingga tengah malam. Kemudian kami juga mendapati seorang bapak yang berjaga di instalasi listrik milik PLN. Rupanya masyarakat di sini mendapatkan suplay listrik dari diesel yang dinyalakan di malam hari dan panel surya yang aktif di siang hari. Dalam hatiku aku merasa terharu melihat perjuangan mereka yang bukan warga asli rela berhari-hari menjalani kehidupan yang monoton bersama mesin itu. Semoga dijalani dengan ikhlas.

Kami terus berjalan menyusuri jalan di pinggir pantai itu hingga kami tak sadar membelok dan memasuki kompleks makam yang luas. Ternyata kami salah jalan. Ga tahu kenapa, tiba-tiba aku merasa merinding. Padahal biasanya lewat makam juga hal biasa saja. Tapi kali ini jadi merinding. Sambil menyembunyikan perasaan takut itu, aku membunyikan mp3 ponselku sambil menikmati lagu-lagu yang ada. Dan rasa merinding itu pun lenyap dalam obrolan kami.

Sampailah kami di kawasan pantai yang khusus disediakan bagi para penyu yang akan bertelur. Meskipun Derawan telah menjadi ramai dan basis bertelur penyu di alihkan di Pulau Sangalaki, ternyata masih ada juga penyu-penyu yang bertelur di sini. Kami adalah pengunjung yang beruntung, karena ada yang sudah 5 kali ke Derawan ini belum pernah melihat pemandangan yang langka itu. Penyu cenderung menghindari pulau ini karena banyaknya lampu yang bersinar dan ramai. Kami pun hanya diizinkan melihat penyu bertelur setelah dia menggali lubang dan telah memulai aktivitas bertelurnya. Sebelum itu, para petugas konservasi akan menghalau kami dari kejauhan agar penyu tidak kembali ke laut.

Penyu hijau yang bertelur mala mini berukuran sangat besar. Sepertinya ini penyu senior yang sudah berpengalaman. Kata petugas konservasi, si penyu sudah lima kali bertelur dalam sebulan. Umumnya penyu itu bertelur setiap 12 hari sekali. Tapi khusus yang ini petugas sudah mendapatinya 5 kali bertelur di pantai ini. Kata mereka, ini adalah pantai tempat kelahirannya, maka penyu itu akan tetap bertelur di sini selama tidak diusik daerah bertelurnya. Para petugas menunggui penyu itu sampai selesai bertelur dan menutup lubangnya. Tak lupa sang penyu juga membuat lubang pengecoh lainnya.

Barulah kami bisa leluasa berfoto dengan penyu hijua super besar itu. Maklum dia tampak kepayahan untuk sekedar berjalan kembali ke laut. Bagi dia mungkin itu siksaan karena selain harus berusaha keras kabur dari kerubungan manusia, dia juga harus menerima flash dari kamera yang bertubi-tubi. Bak artis yang dinantikan, kami para manusia yang berkunjung ke pulau itu satu demi satu melakukan foto bareng dengan Ibu Penyu yang kepayahan itu. Memanglah, hewan ini adalah hewan yang menyerah saat di daratan tetapi sangat gesit ketika sudah berada di air. Dan foto-foto dengan ibu penyu itu pun mengakhiri sesi jalan-jalan kami.

Sebelum tidur, aku sempat mencari momen untuk bisa bertegur sapa dengan bule yang ada di penginapan. Dia bersama pasangannya (mungkin istrinya) tinggal di kamar sebelah. Aku berkenalan dengannya, namanya Mr. Urlich dari Dresden, negara bagian Saxony Jerman. Wow, jerman, aku punya basa-basi untuk memulai diskusi itu. Dan tentu saja tujuanku adalah memberi kesempatan lidahku berbicara bahasa Inggris. Namun hal yang pertama kuterima darinya adalah kesannya bahwa orang Indonesia masih belum sadar akan kebersihan lingkungan. Menurutnya masyarakat sini masih terbiasa buang sampah sembarangan dan kurang memperhatikan keseimbangan lingkungan. Ah malu rasanya, namun dengan tegar aku jawab, kami sedang berproses untuk perbaikan mengingat Indonesia adalah negara berkembang. Berikutnya aku promosi tentang Yogyakarta. Rupanya mr. Urlich belum pernah ke sana. Ah semoga suatu saat dapat bertemu dengannya lagi. Dan malam ini pun berakhir dengan tidur pulas di penginapan.

bersambung …

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.