Karir

Perjalanan pulang dari Eropa juga membuatku berpikir keras tentang bagaimana membangun karirku di masa depan. Mungkin adalah hal yang berat bagiku mengingat sejak kecil aku hidup dalam pemandangan masyarakat yang menganggap bahwa PNS adalah pekerjaan paling mapan dan terhormat. Tapi realita hari ini tidak kujumpai demikian. Bahwa PNS adalah profesi sekaligus kedudukan terhormat di masyarakat, maka aku sangat setuju sekali. Tapi apakah itu pekerjaan yang mapan dalam arti secara finansial.

Kalau arti mapan yang dipahami adalah rutinnya, ya benar. Tiap bulan pasti rutin. Tapi banyak atau tidak? Tidak banyak. Gaji PNS itu bisa dihitung besarannya, bisa diperkirakan pendapatannya. Jadi jika ada PNS sangat kaya itu kadang menimbulkan fitnah. Bahkan meskipun sejatinya pendapatannya halal, tapi seringkali orang lain akan banyak mencibir. Akhirnya aku gamang juga untuk menjadi penerus ayahku yang telah membaktikan diri untuk negeri ini. Aku tahu, beliau adalah teladan terbaik bagiku bagaimana menjadi orang yang bersih dan enggan berbasah ria di ladang duit seperti sebagian rekan-rekannya dahulu yang kini sudah berganti tumpangan dari roda dua ke roda empat.

Maka kupikir, ladang itu adalah ladang untuk yang mantap hati mengabdi dengan cara yang negara pilih. PNS yang baik adalah PNS yang siap ditempatkan dimanapun oleh negara, dengan gaji yang telah diputuskan oleh negara. Karena PNS adalah sosok pengabdi yang resmi oleh negeri ini, yang hidup dari uang rakyat yang dilayaninya. Maka sudah seharusnya menjadi PNS itu tidak melakukan macam-macam untuk menumpuk kekayaan dan tidak banyak tingkah. Apakah aku bisa bertahan mengambil pilihan ini? Sepertinya tidak. Aku ingin punya uang banyak dan ingin menikmati kesenangan berpetualang, tanpa beban yang terikat pada orang lain. Just for myself.

Jadi kuputuskan untuk mencari peruntungan pekerjaan diluar itu selagi masih bisa. Susah juga rupanya jika tidak ada mentor yang mengarahkan. Apalagi belasan tahun aku dimanja dalam suasana nyaman. Kaya sih enggak, tapi setidaknya aku tidak merasakan suasana keluarga yang kalut karena kekurangan dalam sisi finansial. Bukan karena berlebih, tapi memang karena berhemat. Sejak kecil, sejak SD ayah selalu melibatkanku dalam diskusi-diskusi pengambilan keputusan strategis. Yah, tahu sendiri bahwa senjata PNS untuk membangun rumah, membeli kendaraan, dan segala perabotan rumah adalah dengan berhutang duluan dan potong gaji.

Alhamdulillah, Allah membukakan jalan dengan menyadarkan bahwa dunia IT yang sudah kusukai sejak SMP dan dunia baca-tulis yang sudah dibiasakan orang tua sejak kecil itu harus kuuangkan hari ini. Ternyata itu pintu terbaik untuk memperluas cakrawalaku. Meskipun sejatinya mulai terbuka sejak aku menjadi ketua SIM yang terdidik untuk berkembang mandiri di saat rekan-rekan seperjuangan larut dalam status Quo mereka, aku tidak punya pilihan selain otodidak untuk memilih jalan hidup yang berbeda dari kebanyakan. Apakah lantas keinginanku jadi PNS hilang? Belum juga, tapi setidaknya ini telah menjadi hiburan dari kegalauanku ketimbang besok mencari pekerjaan. Bikin pekerjaan sendiri aja. Siapa tahu bisa membantu orang lain.

Kini aku menemukan status yang terkeren untuk kusandang. Blogger. Yah, itu status pertengahan yang membuatku sangat nyaman menjadi apa pun. Aku bisa berinteraksi dengan banyak orang dari yang paling kiri hingga yang paling kanan. Dari yang kalangan bawah hingga kalangan atas. Aku bisa jadi guru, bisa jadi pedangang, bisa jadi apa pun yang aku mau. Status ini tidak begitu membuat masyarakat menuntutku, sehingga aku bisa lebih sibuk untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Status ini juga tidak membuat ekspektasi orang terlalu tinggi kepadaku, sehingga ketika suatu saat aku tergelincir dalam kesalahan (sebagai konsekuensiku sebagai manusia) tidak akan terlalu membenamkanku.

Di titik inilah, aku bisa lepas dan bebas untuk berbagi sekaligus menimba ilmu dari banyak orang. Mungkin hanya orang-orang terdekat yang sungkan menasihatiku. Tapi orang-orang jauh yang baru tersambung denganku di masa-masa ini adalah guru-guru baru yang dengan setia akan menasihatiku. Bahkan orang-orang yang sejak SMA menjadi inspiratorku pun tetap menasihatiku dengan baik. Terima kasih untuk semuanya. Aku kini memilih jalan Blogger sebagai ruang aktualisasiku.

Apakah dengan ini lantas uangku berlimpah. Entahlah, tapi aku yakin Allah akan membukakan jalan itu. Setidaknya aku bisa mengatakan bahwa jika aku bekerja sesuka waktuku atau bekerja sedikit saja dalam sebulan dan penghasilanku sudah sama dengan PNS bukankah aku lebih kaya. Sehingga aku punya banyak waktu untuk belajar, membaca, diskusi, jalan-jalan, dan menikmati berbagai hal yang selama ini tersembunyi.

Berdiskusi dengan teman-teman difabel. Belajar dari semangat hidup mereka meskipun diuji Allah dengan keterbatasan. Mencari guru-guru yang tersembunyi dalam berbagai profesi yang selama ini dipandang rendah oleh kebanyakan manusia yang terlanjur diwarnai pola pikir kapitalis. Terlibat dalam komunitas-komunitas sosial sekaligus mendapatkan kesempatan untuk belajar menyusun konsep pendidikan yang integratif dan lebih manusiawi. Mungkin ini akan menjadi jalan bagiku untuk tetap bertahan menjadi idealis, meskipun di sisi lain aku akan siap menerima umpatan sebagai pengecut karena hanya mencari zona aman saja. Well, terserah saja.

bersambung ….

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.