Sudah hampir setahun akhirnya aku menggunakan metode pembayaran online cepat, PayPal. Sistem pembayaran yang praktis untuk jual beli online itu rupanya membuatku termudahkan untuk melakukan bisnis pembuatan web selama ini. Tapi sebenarnya, dalam sistem layanan yang dibuat oleh PayPal, para pemilik akun diharuskan memiliki Kartu Kredit (CC). Dan apakah aku punya? Jawabannya jelas. Jelas Tidak

Bukan orang Indonesia jika tidak kreatif. Adanya sistem layanan ini membuka puluhan orang membuka layanan Virtual Credit Card, VCC. Aku pun juga mengambil cara ini, cukup dengan 100 ribuan maka akan kudapatkan kartu kredit yang tidak ada kartunya untuk memverifikasi akunku yang telah dibuat di PayPal. Katanya yang menyediakan layanan, kartu itu akan valid untuk empat tahun ke depan. Wah keren dong, murah dan bisa memudahkan banyak orang. Bayangkan jika kami harus memiliki kartu kredit untuk merasakan layanan PayPal.

Apakah ini dibenarkan? Benar (kata teman-teman netter), asal tidak ketahuan. Jika ketahuan tinggal minta maaf dan ganti VCC baru. Jika akun dinonaktifkan tinggal bikin akun yang baru lagi dan diverfikasi dengan VCC. Nah ceritanya aku juga baru saja ketahuan memakai VCC. Jadinya mimin PP akhirnya membatasi transaksi akunku. Jadilah aku galau selama beberapa waktu dan terpaksa pinjam akun teman untuk berbagai transaksi yang kulakukan.

Setelah beberapa bulan lalu menyelesaikan sengketa dengan telepon ke pihak PayPal yang kantor cabang terdekatnya ada di Singapura (jadinya sekali telepon bisa 50 ribu), akhirnya kuputuskan untuk tidak langsung menghubungi pihak PayPal. Karena pengalaman yang lalu aku habis 150 ribu untuk telepon tiga kali. Jadinya sekarang update dulu perkembangan terbaru tentang VCC. Maklum, karena kami para pencari celah selalu bermain kreatif saat PayPal mulai cerewet dan menceramahi kami di notifikasi-notifikasi.

Ya wajar jika suatu ketika akhirnya ketahuan. Karena dalam otorisasi transaksi terkadang toko yang kita beli meminta verifikasi kartu kredit kita. Lah kan kita hanya seolah-olah punya kartu kredit, padahal kenyataannya tidak. Seharusnya kartu kredit dijadikan sumber dana untuk PayPal kita ngisi rekening saldo PayPal dengan cara membeli dari teman lain (yang juga ada grup rahasianya). Mereka yang telah bekerja atau berdangang dengan mata uang dolar biasanya masuknya ke rekening paypal. Untuk merupiahkan mereka tinggal ngecer ke yang hobinya beli dengan dolar. Dengan rate sekian maka transfer rupiah masuk ke rekening mereka, dan dolar setaranya mengisi rekening kita.

Intinya akhirnya kudapatkan VCC murah yang katanya ada verifikasi alamatnya secara otomatis. Setelah melengkapi berkas-berkas yang tidak fiktif (jadi saya menggunakan data-data faktual dari paspor loh ya) tetapi dengan kartu kredit awang-awangen itu, akhirnya akun saya kembali aktif setelah menelpon mbak-mbak cakepnya. Alhamdulillah rupanya bahasa Inggrisku makin baik, buktinya aku lebih mudeng sekarang bercakap-cakap dengan mbak-mbaknya yang jaga layanan. Jika dulu harus lewat mbak Anis yang bisa bahasa Indonesia, sekarang mbak-mbak yang bahasa Inggris pun siap.

Dengan aktivasi VCC baru dan penghapusan pembatasan, kini aku bisa bertransaksi dengan lancar yang tidak ditanyai macam-macam lagi untuk verifikasi. Dulu belum bisa transaksi dengan PayPal ke Godaddy.com sekarang sudah bisa. Jadi ….. semoga PayPal tidak cerewet lagi. Setidaknya untuk setahun yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.