Kalender di lepiku hari ini menunjukkan tanggal 6 Muharram 1435 H atau bertepatan dengan 10 November 2013. Ada apakah gerangan? Ternyata ini adalah hari pahlawan. Hari ini pula ada pilihan kepala desa, jadi aku harus pulang untuk ikut berpartisipasi dalam ajang pemilihan pemimpin di desa itu. Kendati mungkin tak ada yang begitu fenomenal untuk diharapkan membawa perubahan, tetapi turut berpartisipasi akan memberikan kontribusi yang baik bagi desa ke depan.

Selain itu, kepulanganku hari ini sebenarnya untuk menunggu bukti dari seseorang atas debat yang sempat kami langsungkan beberapa waktu lalu. Aku pun sengaja membawa satu junior untuk mengenalkan daerah sendiri. Rupanya yang ditunggu tak hadir, jadilah kami memutuskan untuk melakukan jelajah ke sebuah obyek wisata yang sangat populer akhir-akhir ini, tapi aku sendiri merasa belum pernah berkunjung ke sana, Goa Pindul. Kadang-kadang lucu juga sih, sebagai orang Gunungkidul tetapi obyek wisata itu justru aku sendiri belum tahu.

Setelah melakukan perjalanan blusukan sambil mengenang jalan-jalan yang biasa kulewati dengan sepeda motor ketika liburan SMA dulu, sampailah aku pada suatu tempat yang membuatku terbengong. Oh, ternyata ini to lokasi Goa Pindul itu. Nanar mataku melihat tempat yang sudah tidak asing lagi bagiku karena ternyata aku dahulu telah berkali-kali mengunjungi tempat ini. Hanya saja dahulu tempat ini masih sepi, bahkan katanya angker. Hari ini, puluhan bus telah berjubel memenuhi lapangan parkir dan tepian jalan yang sudah sempit itu.

Goa Pindul, ternyata adalah goa yang dialiri sungai bawah tanah di dusun Gelaran, Bejiharjo, Karangmojo. Lokasinya dekat dengan kawasan pembenihan ikan dan tempat perkemahan yang dulu sering dipakai para peserta pramuka. Ayah memperkenalkan tempat ini pertama kalinya padaku ketika masih SD. Kala itu, tempat ini masih rimbun dan sangat sepi. Cukup mengerikan. Namun suasananya masih sangat asri dan teduh. Di bagian puncak bukitnya, terdapat monument dan puing-puing rumah. Dalam monument itu bertuliskan bahwa rumah tersebut pernah menjadi markas komando pemerintahan militer selama perang gerilya menghadapi Agresi Militer II Belanda. Desa ini adalah bagian dari rute perjalanan panjang Panglima Besar RI, Jend. Soedirman.

Tanpa pikir panjang, kuajak juniorku untuk kembali mengunjungi monumen yang terletak di puncak bukit itu. Sembari melihat aktivitas para turis yang kini memadati lokasi telaga yang terhubungkan ke bibir Goa Pindul. Masih tetap seperti yang dulu. Monumen itu tetap sepi, bahkan di hari pahlawan ini. Meskipun ditangga bawah sudah diberi papan nama monumen perjuangan Jend. Soedirman yang dibuat oleh para mahasiswa KKN PPM UGM, rupanya tidak begitu banyak menarik para wisatawan untuk naik dan mengheningkan cipta sejenak. Seperti inikah bangsa yang katanya menghargai jasa para pahlawannnya? Mungkin ini hanya keluhan seorang yang niatnya cari tempat baru tetapi tersesat di tempat yang dulu sering ia kunjungi.

 

Tempat yang dulunya sepi dan hanya bersuarakan gemericik air dan kicauan beburung merdu, kini telah berubah dengan riuh rendahnya manusia dan bunyi klakson kendaraan mulai dari sepeda motor hingga bus. Tempat yang dulunya hanya ada masjid dan bilik kecil di pinggir tempat perkemahan yang ada makamnya itu, kini ramai dengan kedai dan rumah-rumah makan yang di sepanjang jalan. Tempat ini telah menjadi tempat yang ramai lagi, bukan lagi sebagai tempat merenung yang damai.

Karena aku tak berniat untuk melakukan susur goa yang katanya memiliki stalagtit indah itu, maka aku hanya melihat bibir goa dari kejauhan. Tampak silih berganti pengunjung memasuki goa yang sejatinya sungai bawah tanah itu dengan pelampung dari ban kendaraan dan pakaian pengaman. Mungkin di kesempatan yang lain akan kulakukan. Telaga yang dahulu tenang dalam warna hijaunya, yang ketika itu tidak pernah kusadari bahwa di sudutnya adalah mulut goa yang kini menjadi daya tarik banyak orang telah beriak. Tempat yang sekelilingnya masih alami telah dipenuhi anak tangga yang terbuat dari semen dan pasir. Mungkin ini memang akhir dari fase alami goa tersebut, saatnya menjadi goa wisata yang harus sesuai dengan keinginan wisatawan.

Sore harinya, aku mendapat undangan untuk berbagi inspirasi di forum teman-teman KAMMI UNS. Temanya cukup berat, meskipun itu tema yang kusukai. Yakni menyangkut sejarah. Sebenarnya karena faktor hari pahlawan saja sih, sehingga diskusi sore hari ini mengambil tema itu. Meskipun sebenarnya itu adalah sebuah diskusi kebangsaan, aku tidak teralu berminat untuk membahas hal-hal yang sifatnya utopis. Tidak, itu bukan waktunya lagi dilakukan oleh mahasiswa. Yang paling utama adalah gerakan penyadaran diri dan upaya untuk melakukan berbagai eksplorasi ide-ide kreatif. Perubahan adalah hal yang pasti, dan tentu tidak perlu kita teriak-teriakkan. Yang penting adalah akan menjadi seperti apa dan bagaimana caranya? Pertanyaan pertama mungkin gampang di jawab, tetapi pertanyaan kedua nyatanya masih membuat kita harus terus berjuang agar bisa terjawab.

Aku tidak menyangka bahwa di hari pahlawan ini, ada banyak hal tak terduga yang ternyata membuatku mengerti tentang sebuah perjalanan. Memperingati hari pahlawan tidak cukup dengan formalitas dan seremonial belaka. Ada yang lebih penting untuk selalu kita upayakan, mengupdate pengetahuan sejarah kita, lantas melakukan rekonstruksi di kepala kita tentang sejarah, hingga kita bagikan ke yang lain dalam rangka membangkitkan kembali semangat kebangsaan ini. Semangat untuk membangun negeri dan menjadikan Indonesia yang lebih baik. Satu demi satu, hingga kelak terwujudkan di atas bangsa yang sangat besar ini. Amiin

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.