Cinta

Nah, yang ini terkadang bikin menggelitik juga. Dan kadang juga bikin banyak orang sekarang ngomong, Ihirrrrrr, Cie cie, atau apalah namanya. Tapi ini penting juga untuk dibahas. Ternyata sudah lebih dari 23 tahun ini, aku mengalami beberapa fase perubahan paradigma tentang cinta. Terutama cinta dalam arti asmara yang berkembang di jiwa pemuda seperti umumnya pemuda hari ini.

Ketika kecil aku biasa dijodoh-jodohin sama gadis di desaku (but, sekarang udah nikah yee). Aku sangat pemalu soal itu, dan cenderung cuek serta tidak suka jika ada orang-orang yang mengatakan hal itu padaku. Fase-fase itu mungkin bisa dikatakan aku nol besar soal suka dengan lawan jenis. Begitu memasuki SMP, mulai deh gituan. Tapi lagi-lagi rasa malu, bahkan untuk sekedar orang tahu bahwa aku ada rasa seseorang membuatku tidak pernah mengatakannya sama sekali.

Begitu SMA, nah ini nih, mulai rada berani. Maklum, saat itu memang aku baru awal-awalnya mengenal dunia pesantren, jadi mulai beneran kenal dengan Islam baru saat masuk SMA. Awal-awal SMA adalah saat dimana aku menjadi paling mellow sedunia dengan segala puja puji cinta. Lebih-lebih sejak SMP aku adalah pelahap novel Balai Pustaka yang penulisnya adalah para pujangga di era lama. Termasuk waktu SMA aku khatamkan Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Aku terkadang ingin guling-guling sendiri saat mengingat masa-masa mellow kelas berat itu. Ada satu kisah lucu yang tidak bisa kuceritakan di sini soal rasa cinta yang tumbuh di waktu itu. Namun setidaknya saat-saat itu menjadi hal teraneh sekaligus terlucu dalam hidupku. Ada apa denganku yang jadi lemah begini saat lihat cewek. Namun hal itu pun berakhir sejak Kerohanian Islam memanggilku untuk menjadi bagian dari aktivis dakwah sekolah. Sejak saat itu, cinta adalah sesuatu yang indah untuk dipelajari dan dimaknai.

Dan mungkin fase cintaku setelah itu sudah tidak segalau masa-masa sebelumnya. Meskipun ketika memasuki masa-masa kuliah juga masih sering tarik ulur. Tapi setidaknya banyak hal yang lebih menarik bagiku ketimbang memperturutkan rasa untuk mencobai dunia yang tidak halal itu. Nikmati saja jika lagi suka, karena fitrah laki-laki kalau lagi lihat wanita ya terkadang ada rasa ketertarikan. Tapi kendalikan diri agar tidak macam-macam apalagi sampai buat program follow up.

Transisi gaya pergaulanku pun juga berkembang dari yang awalnya memang terwarnai sebagai anak di lembaga dakwah, akhirnya keluar dari sarangnya. Mungkin sebagian akan menilaiku jadi bebas, mungkin juga nakal. Tapi aku lebih menikmati suasana egaliter yang tidak didramatisir dengan berbagai aroma melankolis yang luar biasa. Kata temanku yang psikolog aku orang yang koleris-melankolis. Jadi menurutku justru aku tidak boleh membuat hari-hariku mellow, karena sifat kepribadianku jika dihiasi dengan hari-hari yang mellow akan bernasib seperti Zainuddin. He he he

Semakin hari aku mulai menemukan sisi kedewasaan dari pergaulan hidup ini. Dalam soal lawan jenis, ya bagiku semua biasa saja. Tidak ada yang spesial, dan tidak perlu dispesialkan. Yang selalu spesial adalah Ibuku dan bidadari kecilku yang selalu menelponku dengan suara lucunya, Zahra Nur Aida Azkiya. Bahkan mungkin hari ini aku termasuk orang yang tidak terlalu berbasa-basi dengan cewek. Jika tidak ada kepentingan, maka jangan harap ada diskusi. Teman-teman cewek yang dekat sejak kecil aja kadang jatah diskusinya lama banget. He he. Maaf, mungkin keautisanku di masa muda hari ini sering membuat kalian terlupakan.

Aku percaya bahwa cinta itu adalah karunia Allah. Ada pun rasa-rasa yang tidak pernah berhenti dan mungkin berganti-ganti hari ini adalah hal manusiawi yang selalu bergelora di jiwa pemuda yang belum menikah. Jadi menikah itu adalah untuk mengarahkan seluruh potensi rasa itu untuk seorang saja yang menjadi bagian dari perjalanan hidup nanti. Ha ha, trus nikahnya gimana, kapan? Itu rahasia dong.

Apa pun itu, bagaimana pun itu, mau melalui lajnah munakahat, atau langsung main ke calon mertua, yang penting semua diawali dari niat yang sungguh-sungguh. Dengan diriku yang spesial ini, semoga dipertemukannya dengan orang yang sangat spesial. Yang siap mendampingi untuk hidup susah dan senang dengan segala idealisme yang dimiliki. Yang tidak banyak berbicara soal kalkulasi, tetapi berbicara bagaimana mencari suasana dan ruang petualangan hidup. Karena aku masih punya mimpi paling gila setelah punya anak nanti.

Hari ini, saatnya membangun karakter diri dan membentuk komunitas orang-orang aneh. Jika semakin ke sana sekolah hanyalah ladang bisnis, maka aku lebih suka anak-anakku nanti bergabung bersama anak-anak komunitasku. Kami bikin sekolah dan kurikulum belajar sendiri, dididik secara bergantian tentang kehidupan dan agama dengan baik. Jika usianya memasuki ujian seperti anak sekolahan lainnya, ya tinggal diikutkan ujian persamaan paket C, B, dan A. Setelah itu kupersilahkan apakah masih merasa perlu kuliah atau tidak. Itu pilihan dia nanti. Dan aku merasakan aroma pencarian itu secara tidak sadar telah kumulai di tahun 2013 ini. Dan perjalanan ini, akan tetap dilanjutkan.

Maka hari ini mencari dan membangun komunitas idealis itu sama pentingnya dengan mencari calon ibu untuk anakku. Atau jangan-jangan nanti aku bertemu dengannya di ruang-ruang pencarian itu. Allah yang lebih tahu untukku. Ha ha.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.