Dari sekian perjalanan organisasi yang kulalui di kampus, jelas Studi Ilmiah Mahasiswa (SIM) adalah organisasi terhebat yang membuatku belajar banyak hal. Tempat di mana kami para pengurus bisa bertemu untuk belajar dan berbagi. Bahkan hingga hari ini, khususnya kami yang berada di jajaran pengurus harian masih menikmati nostalgia sebagai pengurus, meskipun tidak ada lagi kekuasaan.

Hal yang menarik dengan angkatanku yang kini telah menjadi alumni pengurus SIM, kami masih suka dengan kreativitas dan kemandirian berusaha. Kami masih terobsesi untuk melakukan banyak hal yang sifatnya kreatif, meskipun ujung-ujungnya memang kami tetap mencari uang. Yah, memang saatnya kami harus lulus dan bekerja. Tapi lagi-lagi kami masih ngeles karena baru separuh dari kami yang lulus meskipun kami sudah berstatus angkatan tua sekali.

Bahkan meskipun SIM dulu diproyeksikan sebagai UKM akademis, artinya ketika itu gambarannya orang-orang SIM adalah orang yang IPK-nya selangit dan lulusnya secepat pesawat Sukhoi, ternyata angkatan kamilah yang memutus tesis itu. Bagi kami berprestasi bukanlah semata-mata pada titik akademis seperti yang banyak dicita-citakan orang untuk mencari kerja. Tapi kami menikmati banyak petualangan, melihat dunia yang luas, menemukan berbagai cara pandang dan persepsi yang baru. Berprestasi adalah ketika kita mengalami titik ledakan dalam hidup untuk bangkit menjadi manusia yang idealis dalam kacamata manusia. Bukan idealis dalam pikiran kita sendiri.

Sore ini, kami menikmati hidangan makan sore yang disediakan oleh salah satu dari kami yang baru merasakan wisuda. Tidak ada sepatah kata pun dari kami tentang pertanyaan, “mau kerja di mana?“. Well, inilah puncak kebahagiaan kami di mana kami selalu ceria dan tidak terlalu peduli soal apa pekerjaanmu (karena kami tahu sama tahu bahwa kami telah tersibukkan dengan berbagai pekerjaan yang juga sekaligus menjadi petualangan kami). Kami menikmati dunia yang selalu dinamis dalam dimensi belajar yang tak terbatas. Tidak terbetik kata juga soal mengapa di antara kami ada yang belum lulus (karena semua memahami bahwa waktu lulus adalah pilihan masing-masing). Dan kami hanya sepakat bahwa kami semua wajib lulus, soal waktu itu tanggung jawab masing-masing.

Akhirnya, kami sejatinya tetaplah menjadi periang yang menikmati masa-masa pensiun lembaga dengan melihat adik-adik kami yang penuh dengan kreativitas. Mungkin sebagian melihat kami kekanak-kanakan. Tapi kami bahkan seperti teman di masa kecil yang tetap bebas bercanda dengan segala dinamikanya. Bahkan kalau aku boleh bilang, sekali dilantik kita telah menjadi pengurus SIM selamanya. Kreativitas, karya, dan persahabatan adalah hiasan indah yang membuat kami bisa meredam berbagai iri hati, apalagi kurang kerjaan dengan sering mencurigai sesama kami. Semoga ukhuwah ini senantiasa berkekalan hingga akhir hayat nanti.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.