Kategori
Catatan Perjalanan

Amsterdam, Ibu Kota Negeri Penjajah : Crazy Travelling Edisi III #4

Bertemu Kakek dari Indonesia

Ketika menunggu waktu check ini bus Eurolines di Amstel, aku mendapati seorang yang sangat sepuh agak berwajah jawa, namun karena putih seperti bule jadi ya tetap kuanggap bule tiba-tiba menganggukan kepala ketika berjalan di dekat kami. Ini bule dari mana ya, kok bergaya orang timur gini. Beliau kemudian duduk tak jauh dari kami dan menikmati makanannya dengan lahap.

Usai beliau makan tiba-tiba beliau menyapa kami dalam bahasa Indonesia. Loh, kakek-kakek yang wajahnya agak-agak mirip dengan Pak Soeharto waktu sudah sepuh ini ternyata bisa berbahasa Indonesia. Kami kemudian saling berbincang dengan beliau, ternyata beliau itu peranakan Indonesia. Ayah belanda dan ibu dari Jawa, di daerah Weleri. Beliau bilang pernah 30 tahun di Indonesia, makanya masih fasih berbahasa Indonesia. Sayangnya beliau tidak menikah sehingga kemudian kami ketahui bahwa beliau itu gelandangan di Amsterdam yang hidup berkeliaran dan mencuri makanan. Oh sayangnya orang tua yang perkiraanku telah memasuki kepala 7 (maklum usia harapan hidup di negara maju itu sangat tinggi, jadi usia 80 pun masih pada bugar untuk jalan kaki dan bepergian jauh), harus hidup sebatang kara dalam kondisi yang tidak baik seperti ini.

Demikian sekelumit cerita perjalanan gila kami ke negeri yang pernah menjajah ibu pertiwi kita dahulu. Kota yang indah permai itu terus mengingatkanku bahwa mereka dahulu pernah mengeruk kekayaan dan menindas para pendahulu kita. Namun sudahlah, semua telah berlalu, ada baiknya dengan kesempatan yang banyak diberikan oleh mereka kepada kita saat ini dalam belajar dan bekerja di sana bisa kita ambil untuk setidaknya menagih kembali harta kita yang pernah di rampas oleh mereka, bukan justru menjadi anak buah mereka untuk menjajah negeri sendiri di kemudian hari. Cukuplah korupsi dan segala turunannya adalah warisan mereka yang membuat bangsa kita terjajah lebih kejam oleh sekian banyak koruptor yang bergelar Dewan Perwakilan Rakyat dan Pejabat Negara.

Bus EUROLINES pun melaju di tengah hujan lebat mengantarkan kami ke ibu kota negara bagian NRW, Dusseldorf. Kemudian kereta lokal, disusul bus WSW mengantar kami hingga dekat dengan apartemen. Dan kami pun berjalan sambil mengingat bahwa kami telah menginjakkan kaki di negeri lain di tanah Eropa ini.

Kategori
Catatan Perjalanan

Amsterdam, Ibu Kota Negeri Penjajah : Crazy Travelling Edisi III #3

Realita Kota Air

Adalah Amsterdam, kota yang memang sangat bebas dalam mengumbar berbagai hal. Di sini bahkan sangat mudah dijumpai berbagai alat yang sebenarnya sangat tabu di Indonesia, bahkan di Jerman sekalipun juga masih ditutupi. Tidak perlu saya ceritakan di sini apa saja. Hemm, mengerikan sekali, sampai-sampai kawan-kawanku yang putri ketakutan waktu lihat barang-barang itu juga dijual bebas di toko-toko souvenir.

Kami terus di ajak mas Taufik menyusuri gang-gang kota yang memang sangat indah di malam hari. Tiba-tiba beliau bertanya, “Sudahkah kalian ke Lampu Merah (Red Light District)?”. Apa itu? Beliau tertawa, itu adalah zona prostitusi paling besar di Eropa yang diumbar terbuka laksana pasar burung. Begitu denger itu aku langsung merinding. Ih, mengerikan banget ya. Parah. Lebih lanjut lagi beliau bilang bahwa di sini, yang namanya Kafe sudah pasti satu set sebagai tempat transaksi berbagai narkoba mulai dari ganja hingga yang lebih mahal dari itu. Pembicaraan kami berhenti di sebuah restoran suriname dan kami memesan nasi goreng dengan potongan ayam goreng yang super besar di atasnya. Jangan tanya di sini porsinya ya tetep besar seperti waktu di Mr. Pung City Arkaden Jerman.Setelah kenyang di restoran berharga terjangkau ini (karena rata-rata di Amsterdam sekali makan biayanya di atas 10 euro, gila sekali makan 130 ribu rupiah coba), mas Taufik mengantar kami mencari penginapan yang terjangkau. Ada hotel dan hostel. Kalau hotel itu per kamar satu orang, tapi harganya mahal. Kalau hostel itu satu kamar dengan beberapa kamar tidur sehingga harga per orangnya relatif murah. Singkat cerita kami mendapatkan hostel dengan harga 10 euro per orang untuk satu malam. Dan lagi-lagi tempatnya tidak terlalu jauh dari Lampu Merah. Meski agak merinding, tetapi karena lihat kantong juga akhirnya kami memilih menempati hostel ini. Dan kami bisa menikmati malam dengan tidur pulas usai membeli tiket harian seharga 7,5 euro untuk agenda jalan-jalan besok paginya.

Tour de Amsterdam

Pagi-pagi sekali kami sudah bangun (maksudnya pukul 7, waktunya subuh), karena matahari terbit jam 8.30, kami segera berkemas pukul 8 pagi untuk melihat keindahan kanal Amsterdam di pagi hari. Indah memang, tapi lagi-lagi yang kuingat adalah ini mah hasil meras bangsaku 350 tahun yang lalu. Ya sudahlah, sekarang mari orang Indonesia manfaatkan kesempatan untuk belajar di sini ketika negeri ini memberi banyak beasiswa, seperti bang Ucup, salah satu generasi Indonesia yang banyak berbagi inspirasi tentang belajarnya di sini. Mumpung politik etis itu masih berjalan hingga kini, ambillah salah satu pilihan di sini, dari pada hanya protes dan terlalu banyak mikir politik di negeri sendiri yang ga kunjung selesai karena selalu dikawinkan dengan korupsi.

Tak banyak target kami di Amsterdam ini, hanya dua saja yakni Museum Plein dan Ajax Arena. Yang lain kami nikmati dari balik kaca trem saja. Toh semuanya sangat indah dilihat dengan mata kepala sendiri. Meskipun pada akhirnya aku tidak punya foto-foto yang nampang di tempat-tempat indah itu. Tidak masalah. Target pertama adalah kami mengunjungi Museum Plein, yaitu kawasan yang bertuliskan I AMSTERDAM. Apa sih yang menarik? Tulisannya? Bagiku itu mah biasa saja. Yang menarik adalah daerah ini sangat bersih dan beberapa jenis burung bebas berterbangan ke sana kemari. Orang-orang ramai bersepeda. Tenang, mobil-mobil melewati jalan kota berdampingan dengan trem dan semua terlihat harmony. Aku masih melihat jenis-jenis sepeda yang kalo di Indonesia itu termasuk jenis sepeda kuno (tapi sebenarnya malah lebih kuat) yang hanya diminati orang tua. Di sini jenis-jenis sepeda seperti itu masih banyak dan nampaknya sangat disukai oleh para penduduk baik usia anak-anak maupun dewasa.

Yah, saatnya Indonesia itu harus mau belajar untuk saling mendukung. Yang jadi pemerintah dan DPR/DPRD mbok ya jangan saling main uang terus. Jangan korupsi terus seperti itu, cukupilah kebutuhan publik seperti sarana transportasi yang nyaman. Yang masyarakat biasa, mari sedikit menahan diri, jika memang tidak terlalu memerlukan sepeda motor, mari kita budayakan jalan kaki saja atau bersepeda. Hemm, aku pernah berjalan kaki waktu ke kampus hampir setahun, kemudian karena punya banyak urusan di kampus akhirnya terpaksa motoran lagi. Pulang dari sini sepertinya aku harus bertekad untuk jalan kaki lagi. Yah, ketika kota-kota di Eropa telah didesain untuk ramah lingkungan, kenapa justru orang Indonesia hari ini cinta banget dengan kemacetan dan polusi. Kata Pak Erie, itulah egoisme. Sepeda motor dan mobil yang terus bertambah setiap tahun adalah saksi bagaimana manusia Indonesia hari ini, mau yang pintar atau pun bodoh menjadi sama saja. Sama ga jelasnya.

Setelah puas ke Museum Plein, kami kembali ke Amsterdam Central untuk memborong berbagai souvenir (gayanya saja memborong, karena temanku ada yang beli besar-besaran, kalo aku mah karena ga ada souvenir yang semurah di Perancis jadi ya sudahlah ga usah beli macem-macem). Karena rute kami ke Ajax Arena (Stadion) itu sejalan dengan Amstel Amsterdam jadi kami sekalian pulang setelah dari sana. Kali ini kami tidak menaiki trem, tetapi menuju ruang bawah tanah tempat metro 54 mengantar kami ke Amsterdam Biljmer Arena, stasiun megah yang di bangun di samping Stadion Ajax Arena, markasnya klub elit di Belanda itu.

Hemm, stasiun-stasiun di Amsterdam desainnya lebih cerah dan modern dibanding di Jerman. Kalau di Jerman, justru kesan bangunan kunonya lebih ditonjolkan, terutama saat di Wuppertal Hbf, Dusseldorf Hbf, Magdeburg Hbf dan beberapa stasiun yang pernah kulewati. Di stasiun dekat markasnya Ajax ini aku berfoto-foto dan menikmati indahnya burung-burung yang bebas beterbangan ke sana ke mari. Alangkah bebasnya mereka menikmati suasana kota yang tidak bising dan bersih dari polusi. Setelah puas melihat-lihat kemegahan stadion dan bangunan di sekitarnya, kami segera kembali ke metro dan meluncur ke Amstel Amsterdam.

…. bersambung

Kategori
Catatan Perjalanan

Amsterdam, Ibu Kota Negeri Penjajah : Crazy Travelling Edisi III #2

Beginilah Negeri Penjajah Itu

Aku menikmati perjalanan hari ini karena suasana cerah ketika memasuki perbatasan Jerman-Belanda. Tidak seperti di Jerman yang hampir setiap hari mendung dan hujan ketika sore hari. Di Belanda matahari bersinar dengan terang dan awan pun tak terlihat pekat. Langit biru terlihat indah dengan hiasan awan-awan memanjang bekas perjalanan pesawat yang mengudara.

Satu demi satu kota ku lewati, mulai dari Utrecht, kemudian Rotterdam hingga akhirnya kami sampai di pemberhentian akhir bus EUROLINES di Belanda, yaitu kawasan Stasiun Amstel Amsterdam. Seperti halnya di Paris, kami kebingungan di sini karena banyak plakat yang menggunakan bahasa Belanda. Namun demikian, orang-orang di Belanda hampir sangat mudah di ajak bercakap-cakap dengan bahasa Inggris, bahkan sangat fasih dan cepat. Saking cepatnya aku sesekali meminta mengulangi apa yang dikatakan.

Begitu menjejakkan kaki di Amsterdam, aku mencoba berimajinasi dengan membayangkan bagaimana pembantaian yang dilakukan oleh bangsa ini terhadap Indonesia ketika itu. Alangkah mengerikannya, hingga sekarang akhirnya negeri yang sangat kecil ini dapat membendung laut yang luas untuk tempat tinggal mereka, membangun kota Amsterdam dengan sangat indah dan sangat modern. Menatap berbagai bangunan yang dominan dicat merah tua atau cokelat muda seperti membayangkan ceceran darah (lebay). Tetapi gara-gara imajinasi yang coba kubangun tadi aku berusaha menempatkan diriku agar aku tidak termasuk orang yang melakukan senang-senang saja ketika di sini, tetapi mencoba menelisik banyak hal agar aku mendapatkan banyak hikmah dari perjalanan yang panjang ini.

Karena perjalanan ke Belanda tidak terencana rapi seperti ketika ke Paris maka banyak sekali penggelembungan anggaran yang kemudian terjadi. Pertama, ketika kami kebingungan saat menuju stasiun pusat Amsterdam Central, kami akhirnya membeli tiket kereta dari Amstel Amsterdam ke Amsterdam Central seharga 2,60 euro untuk sekali jalan. Hemm, sesampai di Amsterdam Central, kami terus mengontak satu orang Indonesia yang kenal dengan salah satu temanku. Wah, ternyata beliau masih kerja dan baru bersedia menemani kami setelah jam 18.00.

Ya sudahlah, kami akhirnya jalan-jalan di sekitar kanal di dekat Amsterdam Central sambil melihat-lihat souvenir cantik di sana. Ternyata ada peta wisata gratis di sana, akhirnya aku mengambil satu dan ku baca-baca. Ketika sedang asyik membaca, tiba-tiba aku melihat beberapa wajah yang setipe dengan kami. Eh, ada orang Indonesia juga. Kelihatannya mahasiswa juga. Wah kebetulan dong. Mereka juga tahu ada kami dan akhirnya kami saling bertemu. Rupanya mereka adalah anak-anak student college (pendidikan bahasa Jerman sebelum nanti memasuki berbagai universitas di Jerman) di negara bagian Saxony, tepatnya di Zittau (baca “citao”). Mana tuh? Cari aja di google map. Kami saling bersapa dengan hangat. Ada Aldi, Nia, Nurul dan beberapa teman lain yang mereka sudah terlanjur memasuki restoran sehingga hanya sempat menyapa kami lewat jendela. Pembicaraan kami singkat saja, tapi seperti biasa berakhir dengan foto-foto. Lumayan, dapat kenangan baru deh ketemu orang Indonesia di Belanda (padahal sama-sama dari Jerman).

Akhirnya malam pun tiba, dan kami terus menunggu kedatangan Pak Taufik. Eh, ternyata yang datang menyapa kami seorang mas-mas yang masih muda. Kok tadi SMS-annya pake kata Bapak terus. Kawanku yang punya koneksi dengan beliau langsung bengong, seakan tidak percaya. Soalnya selama ini memang baru ketemu sekali di Belanda ini.

…. bersambung

Kategori
Catatan Perjalanan

Amsterdam, Ibu Kota Negeri Penjajah : Crazy Travelling Edisi III #1

Inilah edisi terakhir perjalanan kami yang paling gila. Meskipun musim dingin, mimpi kami untuk mengunjungi kota-kota di Eropa barat laut terus menggema. Usai dari Paris kemarin. Hari ini kami berencana mengunjungi negeri kincir, negeri yang pernah menjajah Indonesia, yaitu Belanda. Kami tak akan berkeliling ke penjuru negerinya yang kecil, cukuplah berkunjung ke ibukotanya saja, Amsterdam.

Persiapan

Seperti ketika ke Paris, kami memesan tiket EUROLINES. Lagi-lagi karena kemarin tanggalnya juga tidak segera di fix-kan, kami baru memesan tanggal 25 kemarin. Dan seperti biasanya harganya telah melambung tinggi. Ketika kami menengok harga tiket ke Belanda ketika bersamaan dengan rencana kami ke Paris harga tiketnya masih 19 euro, dan ternyata pada tanggal pemesanan kemarin kami mendapati tiket telah naik menjadi 53,2 euro termasuk pajaknya. Ya sudahlah, inilah resiko ketika bepergian bersama dan ketika sama-sama belum punya pengalaman.

Hal yang paling berharga di sini adalah menyatukan visi dan menekan ego pribadi untuk berusaha saling mengalah terhadap pilihan. Untuk selanjutnya, aku berharap ini menjadi nasihat berharga buat kami, dan siapa pun yang telah mendengar atau membaca kisah ini. Dan aku mencoba mengambil pilihan untuk jadi kurir yang wira-wiri ke apartemen mas Ferdi ngurus pemesanan tiketnya. Untung saja ada mas Ferdi, semua pembayaran yang berbau online langsung beres lewat bantuannya. Terima kasih mas.

Siang ini, jam 12.45 kami pun kembali meluncur dari Dusseldorf menuju tanah yang katanya berada di bawah permukaan air laut. Tanah yang dibentuk dari hasil penjajahan, salah satunya penjajahan di Indonesia selama hampir 3,5 abad.

…. bersambung

Kategori
Catatan Perjalanan

Tour de Paris : Crazy Travelling Edisi II #5

Nyasar di Kantor Pemerintah

Kami melanjutkan perjalanan pulang dengan bus 69, di sepanjang jalan kami melihat tempat-tempat yang indah lainnya. Rasanya ingin turun dan berfoto lagi. Tapi sudahlah, biarlah hari ini menara Eiffel dan Museum Louvre dahulu. Semoga ada kali yang lain untuk aku dapat mengunjungi seluruh detil kota Paris ini. Dan sampailah kami di Gambetta, tempat kami tadi pagi memulai perjalanan.

Seperti biasa, temanku yang sangat suka Mc D, segera jajan di dekat situ. Karena aku lagi tidak berminat jajan, dan kebelet pipis akhirnya buru-buru ke stasiun bawah tanah Gambetta. Eh, tidak ada toiletnya. Aduh, bisa ngompol nih. Aku amati satu-satu gedung di sekitarnya (di sini yang sering bermasalah itu adalah cari toilet), karena di Mc D pun ternyata tidak ada waktu aku ikut-ikut masuk (belakangan aku dikabari temanku letaknya di lantai dasar/ bawah tanah). Karena sudah frustasi, aku melihat ada bangunan mirip gereja aku nekat masuk agar bisa segera kencing sekaligus wudhu untuk shalat Dzuhur. Waktu masuk ke dalam, wah ini bukan gereja, tetapi seperti kantor. Waktu aku tanya satpamnya, eh dijawabnya pake bahasa Perancis, dan aku ga mudeng apa-apa. Untung ada tanda arah toiletnya. Aku segera berlari sekencang-kencangnya menuju toilet. Yah, ada yang make lagi, aduh cepetan dong mas. Alhamdulillah, tak berapa lama berselang akhirnya masnya keluar juga. Aku bisa menunaikan hajatku dan sekaligus berwudhu di tempat cuci muka di luar kamar mandi.

Ketika keluar, aku melihat ketiga temanku sudah tidak ada lagi. Pikirku mereka sudah duluan. Aku pun segera menaiki metro menuju Gallieni. Eh ternyata mereka belum nyampe. Ya udahlah aku check in duluan. Tak berapa lama mereka datang. Yah, klop dah. Aku sempat khawatir jangan-jangan mereka menunggu ku.

Pulang

Rasa capek jalan-jalan seharian mulai terasa ketika badan merebahkan diri di kursi bus EUROLINES yang empuk. Hemm, akhirnya aku tidur pulas di perjalanan dan terbangun ketika bus sampai di Belgia. Aku bangun karena ada keributan antara penumpang yang bingung dengan tempat ia turun dengan sopir busnya. Sang penumpang yang tidak bisa berbahasa Jerman hanya geleng-geleng kepala setiap kali bertanya dengan bahasa Inggris dan dijawab sopirnya dengan bahasa campuran Inggris-Jerman.

Di perjalanan pulang ini aku mendapatkan pengalaman baru bagaimana para pengemudi kendaraan itu mengisikan bensin mereka sendiri di SPBU. Wau, di sini SPBU tidak ada yang jaga seperti di Indonesia. Cukuplah yang punya SPBU menjaga toko yang sepaket dengan SPBU-nya. Dan para pengemudi tinggal memasukkan kartu kredit/uangnya untuk mendapatkan bahan bakar yang mereka inginkan. Bagaimana dengan Indonesia? Bangkrut pasti para pemilik SPBU-nya lantaran bahan bakarnya habis tapi uangnya ga masuk. He he he.

Begitulah perjalanan berlalu dan akhirnya kami sampai Dusseldorf menjelang hampir jam setengah 11 malam. Karena perut sudah keroncongan dan bosan makan roti, kami mampir di restoran turki di samping halte. Karena di sini semua dijamin halal kami leluasa memilih menu yang kami inginkan. Hemm, lumayan sebuah menu yang sulit kami hafal (berisi nasi dan semacam gulai daging kambing) dapat mengobati rasa lapar kami. Segeralah kami pulang ke Wuppertal Hbf, disambung taksi ke apartemen, kami pulang dengan selamat. Demikianlah perjalanan gila kami edisi kedua ke Paris. Semoga menginspirasi.

selesai

Kategori
Catatan Perjalanan

Tour de Paris : Crazy Travelling Edisi II #4

Dari Menara Eiffel hingga Museum Louvre : Keindahan di Balik Paganisme

Begitu turun dari bus, aku hampir tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Dulu hanya sering kutatap di balik layar komputer tentang menara Eiffel atau cerita motivasi dari Pak Sutanto. Hari ini menara itu benar-benar kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Hanya saja, ternyata menara Eiffel itu tak sebesar imajinasiku di waktu lalu. Bagaimana pun, menara Eiffel sebenarnya tidak terlalu besar seperti bayanganku ketika masih sering melihat gambarnya. Dalam canda kami, jangan-jangan ini Eiffel tiruannya. Ha ha ha.

Ketika kami sampai di Eiffel, fajar kedua baru muncul. Suasana cerah tampak merekah dari langit tenggara (bukan timur). Perlahan kulihat langit mulai membiru dengan sedikit awan sehingga tampak sekali keindahannya. Meskipun ini awal musim dingin, aku masih mendapati indahnya pagi di Paris. Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang akan kau dustakan. Segala puji bagi-Mu yaa Allah yang telah memperkenankan hamba-Mu melihat negeri yang jauh ini.

Kami segera berfoto-foto sepuasnya di depan taman menara Eiffel. Kesempatan ini benar-benar kami gunakan dengan baik. Setelah puas, kami membuka bekal kami yang berupa roti tawar dan selai yang kami angkut dari apartemen (beginilah orang Indonesia, ngirit dan pelit). Sambil sesekali berbagi potongan roti-roti kecil dengan merpati yang berkeliaran bebas, seolah mendapati kehidupan yang bahagia di sekitar menara Eiffel kami terus memakan bekal kami dengan lahapnya. Meskipun siang hari di musim dingin itu selama 8 jam, namun serapan energi untuk tubuh jauh lebih banyak dari pada di Indonesia.

Usai berfoto di depan taman menara Eiffel (dekat halet Camp de Mars), kami melanjutkan perjalanan mendekati menara Eiffel. Makin dekat, dan kulihat ia sangat tinggi menjulang. Makin dekat, dan kini aku di bawahnya. Perlahan-lahan mulai banyak orang mengantri untuk membeli tiket naik ke atas menara. Bagaimana denganku? Jelas tidak lah, mahal dan waktunya lama. Padahal jam 14.00 nanti kami harus sudah di Gallieni untuk check in dan pulang. Di dekat situ ternyata ada toko souvenir, tak ku sia-siakan kesempatan ini untuk melihat-lihat dan membeli beberapa souvenir cantik untuk oleh-oleh keluarga dan teman-teman di Indonesia nanti. Awalnya aku berpikir sudah cukup murah, ternyata ….. ikuti kelanjutannya nanti.

Kami kemudian menyempatkan diri untuk melihat sungai Seine yang keruh karena alirannya cukup deras. Keindahan sungai Seine itu akan tampak ketika musim panas, terlihat jernih dengan hiasan kapal-kapal yang berlayar di atas sana. Namun, bagiku ini tetap indah karena sungai di sini relatif bersih dan tidak berkubang sampah seperti di Jakarta. Setelah puas menatap indahnya sungai Seine, kami melanjutkan perjalanan ke Palais de Chaillot, sebuah tempat yang cukup tinggi dan direkomendasikan untuk melihat keindahan menara Eiffel. Sebelum dihancurkan pada perang dunia pertama, tempat ini bernama Palais du Trocadéro. Desainnya lebih modern dan sangat elegan.

Di tempat ini aku mengeluarkan kertas-kertas dan berbagai atribut yang telah kusiapkan untuk mempersembahkan foto-foto pesanan maupun foto-foto sendiri yang ingin kutunjukkan kepada teman-temanku bahwa aku telah menggapai salah satu impian hidupku. Tampak indah sekali menara Eiffel di pandang dari kejauhan. Sayangnya kamera kami adalah kamera biasa-biasa saja yang kurang baik dalam mengabadikan momentum indah ini. Tak mengapa, kehadiranku di sini merupakan anugerah yang besar. Semoga suatu saat nanti bisa terulang lagi dan aku dapat mengabadikan momen yang indah itu dengan lebih baik. Tiba-tiba aku rindu ketika suatu saat nanti aku bisa mengajak belahan jiwaku kemari. Siapakah dia? Masih bersemayam dihatiku. Setelah puas berfoto ria di sana, kami pun turun dan kembali melewati jembatan sungai Seine untuk ke halte Camp de Mars untuk mengikuti rute bus menuju Gambetta.

Kami turun di Les Invalides, sebuah kompleks bangunan di Paris, Perancis, yang pendiriannya diperintahkan oleh Louis XIV pada tanggal 24 Februari 1670 bagi veteran penyandang cacat. Saat ini, kompleks bangunan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi penyandang cacat, tetapi juga menjadi lokasi sejumlah museum dan pemakaman militer, termasuk tempat peristirahatan terakhir Napoleon Bonaparte (www.wikipedia.org). Berfoto-foto lagi dan melanjutkan perjalanan ke kawasan pertokoan yang gedungnya bagus-bagus hingga di tepi sungai Seine. Inilah kehebatan pemerintah kota Paris, mereka membangun kota Paris dengan nuansa kuno sehingga bukan masalah bangunannya yang memang kuno, tetapi memang kota Paris ini dikonsep sebagai kota dengan cita rasa seni yang tinggi, sehingga bangunan yang dibangun di era modern pun tetap bercorak seni dan seperti bangunan kuno. Karena memang yang menjual dari kota ini adalah tata kota dan arsitekturnya.

Tak terasa, kami terus berjalan hingga sampai di depan taman Museum Louvre. Kami membuka bekal kami lagi dan makan siang. Hemm, berjalan di kota yang indah seperti ini tak terasa capeknya meskipun sudah berkilo-kilometer. Di sana kami melihat orang mulai memadati kawasan piramida di depan museum Louvre. Kami terus asyik menikmati hijaunya taman di depan museum Louvre. Wah, di awal musim dingin saja masih hijau seperti ini, indahnya.

Setelah istirahat cukup kami melanjutkan perjalanan menuju Piramida Museum Louvre. Orang sudah ramai sekali di sana. Di sepanjang jalan, orang-orang berkulit hitam menawarkan souvenir seperti yang kami beli di kedai dekat menara Eiffel tadi. Wah kok di sini lebih murah. Di kedai sana 1 euro saja cuma dapat 2 buah di sini satu euro dapat 3-4 buah. Awalnya aku tidak tertarik, hingga suatu ketika ada seorang yang berseru, “mas, souvenir mas, 1 euro dapat 4”. Aku menoleh, lah itu kan orang-orang afrika tadi, kok bisa bahasa Indonesia. Aku membalas dengan senyum, eh dia bilang lagi, “mas, tawaran terakhir, 1 euro dapat 5”. Wah, aku langsung menghampirinya dan membeli 25 buah. Aku heran dan bertanya, apakah pernah belajar bahasa Indonesia. Dia menjawab tidak, dan tidak bisa bahasa Indonesia.

Dia cerita katanya sering ketemu orang Malaysia dan orang Indonesia di sini sehingga bisa. Aku salut waktu dia memberikan souvenirnya kepadaku, dia menghitungnya pakai angka Indonesia loh. Keren kan. Aku minta berfoto bersama dengannya. Sebelum berpisah dia bertanya kepadaku, “muslim?”. Aku mengangguk, dia kemudian menjabat tanganku dan mengucapkan salam kemudian berucap, “marhaban ya akhiy”. Hemm, sapaan indah dari saudaraku Senegal ini. Terima kasih mas atas bahasa Indonesianya. He he he.

Demikianlah perjalanan ini berakhir di Museum Louvre. Ada keindahan yang luar biasa di sini. Meskipun demikian, setiap detilnya terbaca bahwa paganisme masih menjadi akar dari setiap seni yang berkembang di sini. Berbagai patung dan diorama manusia yang terukir di setiap kemegahan bangunannya mengekspresikan sebuah seni yang bebas tanpa batas. Memanglah ini sebuah jebakan realita antara paganisme dengan dunia modern yang mungkin terdiferensiasi dalam dunia yang bebas tanpa batas dalam hubungan sesama manusia. Dan Eropa lah negeri yang menjunjung tinggi kebebasan ini. Sehingga terkadang moralitas yang bagus dari mereka berupa kepedulian, solidaritas, dan kejujuran yang tinggi harus dicederai dengan sebuah jalinan kehidupan yang tak jauh berbeda dengan binatang. Inilah sebuah realita hidup yang akan membuka mata kita bahwa dunia ini penuh dengan teka-teki yang sangat rumit seperti rangkaian algoritma paling kompleks.

Kami merasa cukup dengan menara Eiffel dan Museum Louvre, karena waktu kami sudah hampir tiba untuk datang ke Gambetta dan akhirnya ke Gallieni. Meskipun banyak tempat indah lain di zona 2-5, cukuplah kami harus berpuas dan bersyukur dapat menikmati indahnya kota Paris di zona 1.

… bersambung

Kategori
Catatan Perjalanan

Tour de Paris : Crazy Travelling Edisi II #3

Paris Menyambut Kami (24 Desember 2012)

Ketika bus EUROLINES berhenti di Gallieni Gare-Internationale-Rotiere (alias garasi Internasionalnya bus EUROLINES di Paris), aku merasakan ada perbedaan antara Jerman dan Paris. Yah, memang benar apa yang diceritakan mas Ferdi, kota Paris tak sebagus dan serapi Jerman dalam hal manajemen perkotaan dan sarana transportasinya. Setelah menimbang-nimbang, awalnya kami hanya ingin jalan kaki dari Gallieni menuju tempat-tempat indah di zona 1. What? Itu gila kawan. Sudahlah, setelah berjalan hampir 1 km dan kebingungan, akhirnya kami memilih kembali ke Gallieni dan membeli Paris Visit Pass.

Mengacu pada pengalaman ke Parisnya mbak Nella, harusnya tiket sehari itu 12 euro untuk zona 1-3. Eh, ternyata ada tiket sehari yang khusus zona 1 saja dan harganya cuma sekitar 6 euro sekian (lupa harga pasnya, cz nyari di online juga sepertinya tiket jenis itu ga ada di daftar). Wah spesial banget nih, kebetulan karena waktu tamasya kami tak banyak jadi cukup tiket untuk zona 1 saja sudah cukup. Karena hampir 50 % tempat indah di Paris itu tercakup di zona 1 seperti menara Eiffel dan Museum Louvre. Jadi biayanya jadi lebih murah. Bisa buat beli tambahan oleh-oleh deh.

Akhirnya dengan tiket kecil itu kami segera menaiki metro (sebutan untuk kereta bawah tanah di Perancis dan Belanda, kalau di Jerman namanya U-Bahn) menuju Gambetta. Dari Gambetta kami menaiki bus nomor 69. Bus inilah yang mengantar kami ke tempat-tempat indah di kawasan zona 1. Berikut adalah rute bus 69.

Karena waktu itu masih jam 7 pagi (artinya matahari belum terbit), maka kami tidak jadi ke Museum Louvre dulu, tetapi langsung menuju menara Eiffel. Usai menunaikan shalat subuh di bus, kami sempat melihat keindahan piramida di depan Louvre ketika pagi hari. Wah indahnya. Bus terus melaju dan mengantarkan kami ke tempat berdirinya salah satu 7 keajaiban dunia, Menara Eiffel. Alhamdulillah, bus berhenti di Camp de Mars – La Bourdonais, rute terakhir bus ini sebelum berbalik arah ke Gambetta.

…. bersambung

Kategori
Catatan Perjalanan

Tour de Paris : Crazy Travelling Edisi II #2

Perjalanan Dimulai

Dimulai dengan kegaduhan karena dua teman kami tak kunjung muncul di Wuppertal Hbf gara-gara ditahan oleh si gadis Mesir yang udah kuceritakan kemarin di rumahnya, hampir kami terlambat kereta menuju Dusseldorf. Alhamdulillah, setelah melewati berbagai keributan juga di sana akhirnya kedua temanku itu bisa sampai juga di stasiun. Kami segera meluncur bersama kereta regional ekonomi (yang setara dengan eksekutif kalau di Indonesia) menuju ibukota negara bagian NRW, Dusseldorf. Sesampai di sana kami segera menuju lokasi halte bus EUROLINES.

Satu jam kami menunggu sesuai petunjuk di bus. Untung hawanya tidak terlalu dingin. Alhamdulillah, mulai pekan ketiga Desember suhu udara tidak pernah lebih rendah dari empat derajat sehingga kami tidak menggigil saat di luar ruangan. Lama tak kunjung datang, eh malah di sebelah ada sepasang cewek-cewek yang asyik berciuman, yang satu sepertinya orang Korea, berambut pendek dan mirip laki-laki, tapi cewek, yang lainnya sepertinya warga lokal. Huft, kata temenku beginilah kalau kiamat sudah dekat. Semua jadi ga jelas gini.

Tepat pukul 21.45 bus EUROLINES tiba di halte. Wah, ontime banget angkutan di sini. Apalagi angkutan swasta seperti ini. Kereta aja kalau pun telat tidak pernah lebih dari 5 menit. Dan begitu masuk ke dalam bus. Waw, ini mah bus kelas eksekutif kalau di Indonesia. Baru kali ini aku naik bus yang sangat mewah. Maklum lah, kalau di Indonesia mending naik Mira atau Sumber Kencono yang sama-sama AC namun tarifnya ekonomi. Ha ha ha.

Di perjalanan berangkat aku memilih tidur agar esok hari ketika sampai badanku menjadi segar dan kuat berjalan-jalan. Seperti perkiraan cuaca yang kubaca sebelum berangkat, besok akan cerah bahkan matahari akan bersinar cerah di Paris. Yah, semoga memang begitu. Beginilah kenekatan kami bertamasya di musim dingin. Meskipun pemandangannya tak seindah musim panas (gara-gara dipamerin foto liburannya mas Ferdi dan istrinya), tapi kami akan membuat sejarah baru dalam hidup, terutama aku yang dulu pernah mengucapkan mimpi ini ketika membaca lembar-demi lembar Novel Da Vinci Code.

….. bersambung

Kategori
Catatan Perjalanan

Tour de Paris : Crazy Travelling Edisi II #1

Hemm, kemarin kami terus berdebat tentang jadi tidaknya ke Paris. Akhirnya diputuskan kami akan berangkat nanti malam, setelah melewati serangkaian lobi karena ada yang tidak ingin berangkat. Alasannya karena semua tiketnya mahal, yah itu karena sulitnya membuat rencana hari pasti ketika di awal-awal dulu. Kalau dulu sudah diputuskan harinya dan pesan tiket seharusnya kami dapat harga yang jauh lebih murah dari pada pesan sehari sebelum berangkat. But, semuanya sudah terlanjur, dan rugi rasanya ketika sudah di tanah Eropa, mimpi ke tanah impian tak terjamah semuanya. Kapan lagi waktunya kalau tidak pekan yang baik ini. Dan ini akan jadi pengalaman berharga kami jika nanti kami bisa menjejakkan kaki ke Eropa lagi.

Persiapan (23 Desember 2012)

Seharian kemarin aku terus browsing mencari tiket yang paling murah di antara yang semua tiket mahal menuju paris. Naik Thalys, wow harganya menggila. Naik ICE/IC, ini lebih parah lagi. Dan akhirnya atas saran dari salah satu teman blogger Indonesia yang tinggal di Jerman, aku memutuskan untuk memilih EUROLINES. Sebuah perusahaan jasa angkutan yang melayani perjalanan wisata di seluruh Eropa dengan bus.

Dengan bantuan mas Ferdi, lurahnya orang Indonesia di Wuppertal katanya, he he, aku mendapatkan harga tiket per orang + pajak 82,9 euro untuk pergi-pulang Dusseldorf – Paris. Jika menggunakan EinzelTiket Wuppertal – Dusseldorf, maka per orang akan menambah biaya 9,6 euro pergi-pulang. Juga taksi dari Wuppertal Hbf (kalau nanti sudah kecapekan parah) ke apartemen 8,8 euro (dibagi empat orang). Kemudian dengan tiket harian di Paris nanti sekitar 12 euro, jadi untuk biaya per orang diperkirakan sekitar 107-an euro. Masih lumayan murah dah (meskipun sangat mahal, karena kalau pesan busnya sebulan sebelumnya bisa dapat 50 euro).

Tak kalah gaduhnya adalah karena ini pengalaman pertama, aku terus sibuk mencari informasi seputar touring ke Paris dari pengalaman beberapa orang yang pernah ke sana dan dari google map, karena khawatir tersesat. Soalnya orang-orang Perancis kan katanya ga mau pakai bahasa Inggris, lah kalo kita nanya udah pasti di jawab bahasa Perancis dong, dan itu artinya roaming berat. Saking banyaknya persiapan aku membuat berbagai peta perencanaan yang banyak. Waktu aku main ke apartemen mas Ferdi (dengan maksud mencari tempat ngeprint gratisan) aku malah diketawain habis-habisan. “Lo ke Paris mah ga bakal tersesat. Di semua kota-kota di Eropa prinsip transportasinya sama kok Dik. Yang penting baca angkutan publiknya dengan teliti dan pastikan tahu alamat tempat-tempat yang mau lo kunjungin. Dengan tiket sehari lo bakal puas dah keliling ke sana ke mari. Ga bakal tersesat. Lagian nanti turisnya juga banyak kok.” He he, bener juga ya mas. Lagian kami berempat kok.

… bersambung