Inilah edisi terakhir perjalanan kami yang paling gila. Meskipun musim dingin, mimpi kami untuk mengunjungi kota-kota di Eropa barat laut terus menggema. Usai dari Paris kemarin. Hari ini kami berencana mengunjungi negeri kincir, negeri yang pernah menjajah Indonesia, yaitu Belanda. Kami tak akan berkeliling ke penjuru negerinya yang kecil, cukuplah berkunjung ke ibukotanya saja, Amsterdam.

Persiapan

Seperti ketika ke Paris, kami memesan tiket EUROLINES. Lagi-lagi karena kemarin tanggalnya juga tidak segera di fix-kan, kami baru memesan tanggal 25 kemarin. Dan seperti biasanya harganya telah melambung tinggi. Ketika kami menengok harga tiket ke Belanda ketika bersamaan dengan rencana kami ke Paris harga tiketnya masih 19 euro, dan ternyata pada tanggal pemesanan kemarin kami mendapati tiket telah naik menjadi 53,2 euro termasuk pajaknya. Ya sudahlah, inilah resiko ketika bepergian bersama dan ketika sama-sama belum punya pengalaman.

Hal yang paling berharga di sini adalah menyatukan visi dan menekan ego pribadi untuk berusaha saling mengalah terhadap pilihan. Untuk selanjutnya, aku berharap ini menjadi nasihat berharga buat kami, dan siapa pun yang telah mendengar atau membaca kisah ini. Dan aku mencoba mengambil pilihan untuk jadi kurir yang wira-wiri ke apartemen mas Ferdi ngurus pemesanan tiketnya. Untung saja ada mas Ferdi, semua pembayaran yang berbau online langsung beres lewat bantuannya. Terima kasih mas.

Siang ini, jam 12.45 kami pun kembali meluncur dari Dusseldorf menuju tanah yang katanya berada di bawah permukaan air laut. Tanah yang dibentuk dari hasil penjajahan, salah satunya penjajahan di Indonesia selama hampir 3,5 abad.

…. bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.