Dari Menara Eiffel hingga Museum Louvre : Keindahan di Balik Paganisme

Begitu turun dari bus, aku hampir tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Dulu hanya sering kutatap di balik layar komputer tentang menara Eiffel atau cerita motivasi dari Pak Sutanto. Hari ini menara itu benar-benar kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Hanya saja, ternyata menara Eiffel itu tak sebesar imajinasiku di waktu lalu. Bagaimana pun, menara Eiffel sebenarnya tidak terlalu besar seperti bayanganku ketika masih sering melihat gambarnya. Dalam canda kami, jangan-jangan ini Eiffel tiruannya. Ha ha ha.

Ketika kami sampai di Eiffel, fajar kedua baru muncul. Suasana cerah tampak merekah dari langit tenggara (bukan timur). Perlahan kulihat langit mulai membiru dengan sedikit awan sehingga tampak sekali keindahannya. Meskipun ini awal musim dingin, aku masih mendapati indahnya pagi di Paris. Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang akan kau dustakan. Segala puji bagi-Mu yaa Allah yang telah memperkenankan hamba-Mu melihat negeri yang jauh ini.

Kami segera berfoto-foto sepuasnya di depan taman menara Eiffel. Kesempatan ini benar-benar kami gunakan dengan baik. Setelah puas, kami membuka bekal kami yang berupa roti tawar dan selai yang kami angkut dari apartemen (beginilah orang Indonesia, ngirit dan pelit). Sambil sesekali berbagi potongan roti-roti kecil dengan merpati yang berkeliaran bebas, seolah mendapati kehidupan yang bahagia di sekitar menara Eiffel kami terus memakan bekal kami dengan lahapnya. Meskipun siang hari di musim dingin itu selama 8 jam, namun serapan energi untuk tubuh jauh lebih banyak dari pada di Indonesia.

Usai berfoto di depan taman menara Eiffel (dekat halet Camp de Mars), kami melanjutkan perjalanan mendekati menara Eiffel. Makin dekat, dan kulihat ia sangat tinggi menjulang. Makin dekat, dan kini aku di bawahnya. Perlahan-lahan mulai banyak orang mengantri untuk membeli tiket naik ke atas menara. Bagaimana denganku? Jelas tidak lah, mahal dan waktunya lama. Padahal jam 14.00 nanti kami harus sudah di Gallieni untuk check in dan pulang. Di dekat situ ternyata ada toko souvenir, tak ku sia-siakan kesempatan ini untuk melihat-lihat dan membeli beberapa souvenir cantik untuk oleh-oleh keluarga dan teman-teman di Indonesia nanti. Awalnya aku berpikir sudah cukup murah, ternyata ….. ikuti kelanjutannya nanti.

Kami kemudian menyempatkan diri untuk melihat sungai Seine yang keruh karena alirannya cukup deras. Keindahan sungai Seine itu akan tampak ketika musim panas, terlihat jernih dengan hiasan kapal-kapal yang berlayar di atas sana. Namun, bagiku ini tetap indah karena sungai di sini relatif bersih dan tidak berkubang sampah seperti di Jakarta. Setelah puas menatap indahnya sungai Seine, kami melanjutkan perjalanan ke Palais de Chaillot, sebuah tempat yang cukup tinggi dan direkomendasikan untuk melihat keindahan menara Eiffel. Sebelum dihancurkan pada perang dunia pertama, tempat ini bernama Palais du Trocadéro. Desainnya lebih modern dan sangat elegan.

Di tempat ini aku mengeluarkan kertas-kertas dan berbagai atribut yang telah kusiapkan untuk mempersembahkan foto-foto pesanan maupun foto-foto sendiri yang ingin kutunjukkan kepada teman-temanku bahwa aku telah menggapai salah satu impian hidupku. Tampak indah sekali menara Eiffel di pandang dari kejauhan. Sayangnya kamera kami adalah kamera biasa-biasa saja yang kurang baik dalam mengabadikan momentum indah ini. Tak mengapa, kehadiranku di sini merupakan anugerah yang besar. Semoga suatu saat nanti bisa terulang lagi dan aku dapat mengabadikan momen yang indah itu dengan lebih baik. Tiba-tiba aku rindu ketika suatu saat nanti aku bisa mengajak belahan jiwaku kemari. Siapakah dia? Masih bersemayam dihatiku. Setelah puas berfoto ria di sana, kami pun turun dan kembali melewati jembatan sungai Seine untuk ke halte Camp de Mars untuk mengikuti rute bus menuju Gambetta.

Kami turun di Les Invalides, sebuah kompleks bangunan di Paris, Perancis, yang pendiriannya diperintahkan oleh Louis XIV pada tanggal 24 Februari 1670 bagi veteran penyandang cacat. Saat ini, kompleks bangunan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi penyandang cacat, tetapi juga menjadi lokasi sejumlah museum dan pemakaman militer, termasuk tempat peristirahatan terakhir Napoleon Bonaparte (www.wikipedia.org). Berfoto-foto lagi dan melanjutkan perjalanan ke kawasan pertokoan yang gedungnya bagus-bagus hingga di tepi sungai Seine. Inilah kehebatan pemerintah kota Paris, mereka membangun kota Paris dengan nuansa kuno sehingga bukan masalah bangunannya yang memang kuno, tetapi memang kota Paris ini dikonsep sebagai kota dengan cita rasa seni yang tinggi, sehingga bangunan yang dibangun di era modern pun tetap bercorak seni dan seperti bangunan kuno. Karena memang yang menjual dari kota ini adalah tata kota dan arsitekturnya.

Tak terasa, kami terus berjalan hingga sampai di depan taman Museum Louvre. Kami membuka bekal kami lagi dan makan siang. Hemm, berjalan di kota yang indah seperti ini tak terasa capeknya meskipun sudah berkilo-kilometer. Di sana kami melihat orang mulai memadati kawasan piramida di depan museum Louvre. Kami terus asyik menikmati hijaunya taman di depan museum Louvre. Wah, di awal musim dingin saja masih hijau seperti ini, indahnya.

Setelah istirahat cukup kami melanjutkan perjalanan menuju Piramida Museum Louvre. Orang sudah ramai sekali di sana. Di sepanjang jalan, orang-orang berkulit hitam menawarkan souvenir seperti yang kami beli di kedai dekat menara Eiffel tadi. Wah kok di sini lebih murah. Di kedai sana 1 euro saja cuma dapat 2 buah di sini satu euro dapat 3-4 buah. Awalnya aku tidak tertarik, hingga suatu ketika ada seorang yang berseru, “mas, souvenir mas, 1 euro dapat 4”. Aku menoleh, lah itu kan orang-orang afrika tadi, kok bisa bahasa Indonesia. Aku membalas dengan senyum, eh dia bilang lagi, “mas, tawaran terakhir, 1 euro dapat 5”. Wah, aku langsung menghampirinya dan membeli 25 buah. Aku heran dan bertanya, apakah pernah belajar bahasa Indonesia. Dia menjawab tidak, dan tidak bisa bahasa Indonesia.

Dia cerita katanya sering ketemu orang Malaysia dan orang Indonesia di sini sehingga bisa. Aku salut waktu dia memberikan souvenirnya kepadaku, dia menghitungnya pakai angka Indonesia loh. Keren kan. Aku minta berfoto bersama dengannya. Sebelum berpisah dia bertanya kepadaku, “muslim?”. Aku mengangguk, dia kemudian menjabat tanganku dan mengucapkan salam kemudian berucap, “marhaban ya akhiy”. Hemm, sapaan indah dari saudaraku Senegal ini. Terima kasih mas atas bahasa Indonesianya. He he he.

Demikianlah perjalanan ini berakhir di Museum Louvre. Ada keindahan yang luar biasa di sini. Meskipun demikian, setiap detilnya terbaca bahwa paganisme masih menjadi akar dari setiap seni yang berkembang di sini. Berbagai patung dan diorama manusia yang terukir di setiap kemegahan bangunannya mengekspresikan sebuah seni yang bebas tanpa batas. Memanglah ini sebuah jebakan realita antara paganisme dengan dunia modern yang mungkin terdiferensiasi dalam dunia yang bebas tanpa batas dalam hubungan sesama manusia. Dan Eropa lah negeri yang menjunjung tinggi kebebasan ini. Sehingga terkadang moralitas yang bagus dari mereka berupa kepedulian, solidaritas, dan kejujuran yang tinggi harus dicederai dengan sebuah jalinan kehidupan yang tak jauh berbeda dengan binatang. Inilah sebuah realita hidup yang akan membuka mata kita bahwa dunia ini penuh dengan teka-teki yang sangat rumit seperti rangkaian algoritma paling kompleks.

Kami merasa cukup dengan menara Eiffel dan Museum Louvre, karena waktu kami sudah hampir tiba untuk datang ke Gambetta dan akhirnya ke Gallieni. Meskipun banyak tempat indah lain di zona 2-5, cukuplah kami harus berpuas dan bersyukur dapat menikmati indahnya kota Paris di zona 1.

… bersambung

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.