Beginilah Negeri Penjajah Itu

Aku menikmati perjalanan hari ini karena suasana cerah ketika memasuki perbatasan Jerman-Belanda. Tidak seperti di Jerman yang hampir setiap hari mendung dan hujan ketika sore hari. Di Belanda matahari bersinar dengan terang dan awan pun tak terlihat pekat. Langit biru terlihat indah dengan hiasan awan-awan memanjang bekas perjalanan pesawat yang mengudara.

Satu demi satu kota ku lewati, mulai dari Utrecht, kemudian Rotterdam hingga akhirnya kami sampai di pemberhentian akhir bus EUROLINES di Belanda, yaitu kawasan Stasiun Amstel Amsterdam. Seperti halnya di Paris, kami kebingungan di sini karena banyak plakat yang menggunakan bahasa Belanda. Namun demikian, orang-orang di Belanda hampir sangat mudah di ajak bercakap-cakap dengan bahasa Inggris, bahkan sangat fasih dan cepat. Saking cepatnya aku sesekali meminta mengulangi apa yang dikatakan.

Begitu menjejakkan kaki di Amsterdam, aku mencoba berimajinasi dengan membayangkan bagaimana pembantaian yang dilakukan oleh bangsa ini terhadap Indonesia ketika itu. Alangkah mengerikannya, hingga sekarang akhirnya negeri yang sangat kecil ini dapat membendung laut yang luas untuk tempat tinggal mereka, membangun kota Amsterdam dengan sangat indah dan sangat modern. Menatap berbagai bangunan yang dominan dicat merah tua atau cokelat muda seperti membayangkan ceceran darah (lebay). Tetapi gara-gara imajinasi yang coba kubangun tadi aku berusaha menempatkan diriku agar aku tidak termasuk orang yang melakukan senang-senang saja ketika di sini, tetapi mencoba menelisik banyak hal agar aku mendapatkan banyak hikmah dari perjalanan yang panjang ini.

Karena perjalanan ke Belanda tidak terencana rapi seperti ketika ke Paris maka banyak sekali penggelembungan anggaran yang kemudian terjadi. Pertama, ketika kami kebingungan saat menuju stasiun pusat Amsterdam Central, kami akhirnya membeli tiket kereta dari Amstel Amsterdam ke Amsterdam Central seharga 2,60 euro untuk sekali jalan. Hemm, sesampai di Amsterdam Central, kami terus mengontak satu orang Indonesia yang kenal dengan salah satu temanku. Wah, ternyata beliau masih kerja dan baru bersedia menemani kami setelah jam 18.00.

Ya sudahlah, kami akhirnya jalan-jalan di sekitar kanal di dekat Amsterdam Central sambil melihat-lihat souvenir cantik di sana. Ternyata ada peta wisata gratis di sana, akhirnya aku mengambil satu dan ku baca-baca. Ketika sedang asyik membaca, tiba-tiba aku melihat beberapa wajah yang setipe dengan kami. Eh, ada orang Indonesia juga. Kelihatannya mahasiswa juga. Wah kebetulan dong. Mereka juga tahu ada kami dan akhirnya kami saling bertemu. Rupanya mereka adalah anak-anak student college (pendidikan bahasa Jerman sebelum nanti memasuki berbagai universitas di Jerman) di negara bagian Saxony, tepatnya di Zittau (baca “citao”). Mana tuh? Cari aja di google map. Kami saling bersapa dengan hangat. Ada Aldi, Nia, Nurul dan beberapa teman lain yang mereka sudah terlanjur memasuki restoran sehingga hanya sempat menyapa kami lewat jendela. Pembicaraan kami singkat saja, tapi seperti biasa berakhir dengan foto-foto. Lumayan, dapat kenangan baru deh ketemu orang Indonesia di Belanda (padahal sama-sama dari Jerman).

Akhirnya malam pun tiba, dan kami terus menunggu kedatangan Pak Taufik. Eh, ternyata yang datang menyapa kami seorang mas-mas yang masih muda. Kok tadi SMS-annya pake kata Bapak terus. Kawanku yang punya koneksi dengan beliau langsung bengong, seakan tidak percaya. Soalnya selama ini memang baru ketemu sekali di Belanda ini.

…. bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.