Perjalanan Dimulai

Dimulai dengan kegaduhan karena dua teman kami tak kunjung muncul di Wuppertal Hbf gara-gara ditahan oleh si gadis Mesir yang udah kuceritakan kemarin di rumahnya, hampir kami terlambat kereta menuju Dusseldorf. Alhamdulillah, setelah melewati berbagai keributan juga di sana akhirnya kedua temanku itu bisa sampai juga di stasiun. Kami segera meluncur bersama kereta regional ekonomi (yang setara dengan eksekutif kalau di Indonesia) menuju ibukota negara bagian NRW, Dusseldorf. Sesampai di sana kami segera menuju lokasi halte bus EUROLINES.

Satu jam kami menunggu sesuai petunjuk di bus. Untung hawanya tidak terlalu dingin. Alhamdulillah, mulai pekan ketiga Desember suhu udara tidak pernah lebih rendah dari empat derajat sehingga kami tidak menggigil saat di luar ruangan. Lama tak kunjung datang, eh malah di sebelah ada sepasang cewek-cewek yang asyik berciuman, yang satu sepertinya orang Korea, berambut pendek dan mirip laki-laki, tapi cewek, yang lainnya sepertinya warga lokal. Huft, kata temenku beginilah kalau kiamat sudah dekat. Semua jadi ga jelas gini.

Tepat pukul 21.45 bus EUROLINES tiba di halte. Wah, ontime banget angkutan di sini. Apalagi angkutan swasta seperti ini. Kereta aja kalau pun telat tidak pernah lebih dari 5 menit. Dan begitu masuk ke dalam bus. Waw, ini mah bus kelas eksekutif kalau di Indonesia. Baru kali ini aku naik bus yang sangat mewah. Maklum lah, kalau di Indonesia mending naik Mira atau Sumber Kencono yang sama-sama AC namun tarifnya ekonomi. Ha ha ha.

Di perjalanan berangkat aku memilih tidur agar esok hari ketika sampai badanku menjadi segar dan kuat berjalan-jalan. Seperti perkiraan cuaca yang kubaca sebelum berangkat, besok akan cerah bahkan matahari akan bersinar cerah di Paris. Yah, semoga memang begitu. Beginilah kenekatan kami bertamasya di musim dingin. Meskipun pemandangannya tak seindah musim panas (gara-gara dipamerin foto liburannya mas Ferdi dan istrinya), tapi kami akan membuat sejarah baru dalam hidup, terutama aku yang dulu pernah mengucapkan mimpi ini ketika membaca lembar-demi lembar Novel Da Vinci Code.

….. bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.