Kategori
Catatan Perjalanan

Tour de Paris : Crazy Travelling Edisi II #5

Nyasar di Kantor Pemerintah

Kami melanjutkan perjalanan pulang dengan bus 69, di sepanjang jalan kami melihat tempat-tempat yang indah lainnya. Rasanya ingin turun dan berfoto lagi. Tapi sudahlah, biarlah hari ini menara Eiffel dan Museum Louvre dahulu. Semoga ada kali yang lain untuk aku dapat mengunjungi seluruh detil kota Paris ini. Dan sampailah kami di Gambetta, tempat kami tadi pagi memulai perjalanan.

Seperti biasa, temanku yang sangat suka Mc D, segera jajan di dekat situ. Karena aku lagi tidak berminat jajan, dan kebelet pipis akhirnya buru-buru ke stasiun bawah tanah Gambetta. Eh, tidak ada toiletnya. Aduh, bisa ngompol nih. Aku amati satu-satu gedung di sekitarnya (di sini yang sering bermasalah itu adalah cari toilet), karena di Mc D pun ternyata tidak ada waktu aku ikut-ikut masuk (belakangan aku dikabari temanku letaknya di lantai dasar/ bawah tanah). Karena sudah frustasi, aku melihat ada bangunan mirip gereja aku nekat masuk agar bisa segera kencing sekaligus wudhu untuk shalat Dzuhur. Waktu masuk ke dalam, wah ini bukan gereja, tetapi seperti kantor. Waktu aku tanya satpamnya, eh dijawabnya pake bahasa Perancis, dan aku ga mudeng apa-apa. Untung ada tanda arah toiletnya. Aku segera berlari sekencang-kencangnya menuju toilet. Yah, ada yang make lagi, aduh cepetan dong mas. Alhamdulillah, tak berapa lama berselang akhirnya masnya keluar juga. Aku bisa menunaikan hajatku dan sekaligus berwudhu di tempat cuci muka di luar kamar mandi.

Ketika keluar, aku melihat ketiga temanku sudah tidak ada lagi. Pikirku mereka sudah duluan. Aku pun segera menaiki metro menuju Gallieni. Eh ternyata mereka belum nyampe. Ya udahlah aku check in duluan. Tak berapa lama mereka datang. Yah, klop dah. Aku sempat khawatir jangan-jangan mereka menunggu ku.

Pulang

Rasa capek jalan-jalan seharian mulai terasa ketika badan merebahkan diri di kursi bus EUROLINES yang empuk. Hemm, akhirnya aku tidur pulas di perjalanan dan terbangun ketika bus sampai di Belgia. Aku bangun karena ada keributan antara penumpang yang bingung dengan tempat ia turun dengan sopir busnya. Sang penumpang yang tidak bisa berbahasa Jerman hanya geleng-geleng kepala setiap kali bertanya dengan bahasa Inggris dan dijawab sopirnya dengan bahasa campuran Inggris-Jerman.

Di perjalanan pulang ini aku mendapatkan pengalaman baru bagaimana para pengemudi kendaraan itu mengisikan bensin mereka sendiri di SPBU. Wau, di sini SPBU tidak ada yang jaga seperti di Indonesia. Cukuplah yang punya SPBU menjaga toko yang sepaket dengan SPBU-nya. Dan para pengemudi tinggal memasukkan kartu kredit/uangnya untuk mendapatkan bahan bakar yang mereka inginkan. Bagaimana dengan Indonesia? Bangkrut pasti para pemilik SPBU-nya lantaran bahan bakarnya habis tapi uangnya ga masuk. He he he.

Begitulah perjalanan berlalu dan akhirnya kami sampai Dusseldorf menjelang hampir jam setengah 11 malam. Karena perut sudah keroncongan dan bosan makan roti, kami mampir di restoran turki di samping halte. Karena di sini semua dijamin halal kami leluasa memilih menu yang kami inginkan. Hemm, lumayan sebuah menu yang sulit kami hafal (berisi nasi dan semacam gulai daging kambing) dapat mengobati rasa lapar kami. Segeralah kami pulang ke Wuppertal Hbf, disambung taksi ke apartemen, kami pulang dengan selamat. Demikianlah perjalanan gila kami edisi kedua ke Paris. Semoga menginspirasi.

selesai

Kategori
Catatan Perjalanan

Tour de Paris : Crazy Travelling Edisi II #4

Dari Menara Eiffel hingga Museum Louvre : Keindahan di Balik Paganisme

Begitu turun dari bus, aku hampir tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Dulu hanya sering kutatap di balik layar komputer tentang menara Eiffel atau cerita motivasi dari Pak Sutanto. Hari ini menara itu benar-benar kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Hanya saja, ternyata menara Eiffel itu tak sebesar imajinasiku di waktu lalu. Bagaimana pun, menara Eiffel sebenarnya tidak terlalu besar seperti bayanganku ketika masih sering melihat gambarnya. Dalam canda kami, jangan-jangan ini Eiffel tiruannya. Ha ha ha.

Ketika kami sampai di Eiffel, fajar kedua baru muncul. Suasana cerah tampak merekah dari langit tenggara (bukan timur). Perlahan kulihat langit mulai membiru dengan sedikit awan sehingga tampak sekali keindahannya. Meskipun ini awal musim dingin, aku masih mendapati indahnya pagi di Paris. Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang akan kau dustakan. Segala puji bagi-Mu yaa Allah yang telah memperkenankan hamba-Mu melihat negeri yang jauh ini.

Kami segera berfoto-foto sepuasnya di depan taman menara Eiffel. Kesempatan ini benar-benar kami gunakan dengan baik. Setelah puas, kami membuka bekal kami yang berupa roti tawar dan selai yang kami angkut dari apartemen (beginilah orang Indonesia, ngirit dan pelit). Sambil sesekali berbagi potongan roti-roti kecil dengan merpati yang berkeliaran bebas, seolah mendapati kehidupan yang bahagia di sekitar menara Eiffel kami terus memakan bekal kami dengan lahapnya. Meskipun siang hari di musim dingin itu selama 8 jam, namun serapan energi untuk tubuh jauh lebih banyak dari pada di Indonesia.

Usai berfoto di depan taman menara Eiffel (dekat halet Camp de Mars), kami melanjutkan perjalanan mendekati menara Eiffel. Makin dekat, dan kulihat ia sangat tinggi menjulang. Makin dekat, dan kini aku di bawahnya. Perlahan-lahan mulai banyak orang mengantri untuk membeli tiket naik ke atas menara. Bagaimana denganku? Jelas tidak lah, mahal dan waktunya lama. Padahal jam 14.00 nanti kami harus sudah di Gallieni untuk check in dan pulang. Di dekat situ ternyata ada toko souvenir, tak ku sia-siakan kesempatan ini untuk melihat-lihat dan membeli beberapa souvenir cantik untuk oleh-oleh keluarga dan teman-teman di Indonesia nanti. Awalnya aku berpikir sudah cukup murah, ternyata ….. ikuti kelanjutannya nanti.

Kami kemudian menyempatkan diri untuk melihat sungai Seine yang keruh karena alirannya cukup deras. Keindahan sungai Seine itu akan tampak ketika musim panas, terlihat jernih dengan hiasan kapal-kapal yang berlayar di atas sana. Namun, bagiku ini tetap indah karena sungai di sini relatif bersih dan tidak berkubang sampah seperti di Jakarta. Setelah puas menatap indahnya sungai Seine, kami melanjutkan perjalanan ke Palais de Chaillot, sebuah tempat yang cukup tinggi dan direkomendasikan untuk melihat keindahan menara Eiffel. Sebelum dihancurkan pada perang dunia pertama, tempat ini bernama Palais du Trocadéro. Desainnya lebih modern dan sangat elegan.

Di tempat ini aku mengeluarkan kertas-kertas dan berbagai atribut yang telah kusiapkan untuk mempersembahkan foto-foto pesanan maupun foto-foto sendiri yang ingin kutunjukkan kepada teman-temanku bahwa aku telah menggapai salah satu impian hidupku. Tampak indah sekali menara Eiffel di pandang dari kejauhan. Sayangnya kamera kami adalah kamera biasa-biasa saja yang kurang baik dalam mengabadikan momentum indah ini. Tak mengapa, kehadiranku di sini merupakan anugerah yang besar. Semoga suatu saat nanti bisa terulang lagi dan aku dapat mengabadikan momen yang indah itu dengan lebih baik. Tiba-tiba aku rindu ketika suatu saat nanti aku bisa mengajak belahan jiwaku kemari. Siapakah dia? Masih bersemayam dihatiku. Setelah puas berfoto ria di sana, kami pun turun dan kembali melewati jembatan sungai Seine untuk ke halte Camp de Mars untuk mengikuti rute bus menuju Gambetta.

Kami turun di Les Invalides, sebuah kompleks bangunan di Paris, Perancis, yang pendiriannya diperintahkan oleh Louis XIV pada tanggal 24 Februari 1670 bagi veteran penyandang cacat. Saat ini, kompleks bangunan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi penyandang cacat, tetapi juga menjadi lokasi sejumlah museum dan pemakaman militer, termasuk tempat peristirahatan terakhir Napoleon Bonaparte (www.wikipedia.org). Berfoto-foto lagi dan melanjutkan perjalanan ke kawasan pertokoan yang gedungnya bagus-bagus hingga di tepi sungai Seine. Inilah kehebatan pemerintah kota Paris, mereka membangun kota Paris dengan nuansa kuno sehingga bukan masalah bangunannya yang memang kuno, tetapi memang kota Paris ini dikonsep sebagai kota dengan cita rasa seni yang tinggi, sehingga bangunan yang dibangun di era modern pun tetap bercorak seni dan seperti bangunan kuno. Karena memang yang menjual dari kota ini adalah tata kota dan arsitekturnya.

Tak terasa, kami terus berjalan hingga sampai di depan taman Museum Louvre. Kami membuka bekal kami lagi dan makan siang. Hemm, berjalan di kota yang indah seperti ini tak terasa capeknya meskipun sudah berkilo-kilometer. Di sana kami melihat orang mulai memadati kawasan piramida di depan museum Louvre. Kami terus asyik menikmati hijaunya taman di depan museum Louvre. Wah, di awal musim dingin saja masih hijau seperti ini, indahnya.

Setelah istirahat cukup kami melanjutkan perjalanan menuju Piramida Museum Louvre. Orang sudah ramai sekali di sana. Di sepanjang jalan, orang-orang berkulit hitam menawarkan souvenir seperti yang kami beli di kedai dekat menara Eiffel tadi. Wah kok di sini lebih murah. Di kedai sana 1 euro saja cuma dapat 2 buah di sini satu euro dapat 3-4 buah. Awalnya aku tidak tertarik, hingga suatu ketika ada seorang yang berseru, “mas, souvenir mas, 1 euro dapat 4”. Aku menoleh, lah itu kan orang-orang afrika tadi, kok bisa bahasa Indonesia. Aku membalas dengan senyum, eh dia bilang lagi, “mas, tawaran terakhir, 1 euro dapat 5”. Wah, aku langsung menghampirinya dan membeli 25 buah. Aku heran dan bertanya, apakah pernah belajar bahasa Indonesia. Dia menjawab tidak, dan tidak bisa bahasa Indonesia.

Dia cerita katanya sering ketemu orang Malaysia dan orang Indonesia di sini sehingga bisa. Aku salut waktu dia memberikan souvenirnya kepadaku, dia menghitungnya pakai angka Indonesia loh. Keren kan. Aku minta berfoto bersama dengannya. Sebelum berpisah dia bertanya kepadaku, “muslim?”. Aku mengangguk, dia kemudian menjabat tanganku dan mengucapkan salam kemudian berucap, “marhaban ya akhiy”. Hemm, sapaan indah dari saudaraku Senegal ini. Terima kasih mas atas bahasa Indonesianya. He he he.

Demikianlah perjalanan ini berakhir di Museum Louvre. Ada keindahan yang luar biasa di sini. Meskipun demikian, setiap detilnya terbaca bahwa paganisme masih menjadi akar dari setiap seni yang berkembang di sini. Berbagai patung dan diorama manusia yang terukir di setiap kemegahan bangunannya mengekspresikan sebuah seni yang bebas tanpa batas. Memanglah ini sebuah jebakan realita antara paganisme dengan dunia modern yang mungkin terdiferensiasi dalam dunia yang bebas tanpa batas dalam hubungan sesama manusia. Dan Eropa lah negeri yang menjunjung tinggi kebebasan ini. Sehingga terkadang moralitas yang bagus dari mereka berupa kepedulian, solidaritas, dan kejujuran yang tinggi harus dicederai dengan sebuah jalinan kehidupan yang tak jauh berbeda dengan binatang. Inilah sebuah realita hidup yang akan membuka mata kita bahwa dunia ini penuh dengan teka-teki yang sangat rumit seperti rangkaian algoritma paling kompleks.

Kami merasa cukup dengan menara Eiffel dan Museum Louvre, karena waktu kami sudah hampir tiba untuk datang ke Gambetta dan akhirnya ke Gallieni. Meskipun banyak tempat indah lain di zona 2-5, cukuplah kami harus berpuas dan bersyukur dapat menikmati indahnya kota Paris di zona 1.

… bersambung

Kategori
Catatan Perjalanan

Tour de Paris : Crazy Travelling Edisi II #3

Paris Menyambut Kami (24 Desember 2012)

Ketika bus EUROLINES berhenti di Gallieni Gare-Internationale-Rotiere (alias garasi Internasionalnya bus EUROLINES di Paris), aku merasakan ada perbedaan antara Jerman dan Paris. Yah, memang benar apa yang diceritakan mas Ferdi, kota Paris tak sebagus dan serapi Jerman dalam hal manajemen perkotaan dan sarana transportasinya. Setelah menimbang-nimbang, awalnya kami hanya ingin jalan kaki dari Gallieni menuju tempat-tempat indah di zona 1. What? Itu gila kawan. Sudahlah, setelah berjalan hampir 1 km dan kebingungan, akhirnya kami memilih kembali ke Gallieni dan membeli Paris Visit Pass.

Mengacu pada pengalaman ke Parisnya mbak Nella, harusnya tiket sehari itu 12 euro untuk zona 1-3. Eh, ternyata ada tiket sehari yang khusus zona 1 saja dan harganya cuma sekitar 6 euro sekian (lupa harga pasnya, cz nyari di online juga sepertinya tiket jenis itu ga ada di daftar). Wah spesial banget nih, kebetulan karena waktu tamasya kami tak banyak jadi cukup tiket untuk zona 1 saja sudah cukup. Karena hampir 50 % tempat indah di Paris itu tercakup di zona 1 seperti menara Eiffel dan Museum Louvre. Jadi biayanya jadi lebih murah. Bisa buat beli tambahan oleh-oleh deh.

Akhirnya dengan tiket kecil itu kami segera menaiki metro (sebutan untuk kereta bawah tanah di Perancis dan Belanda, kalau di Jerman namanya U-Bahn) menuju Gambetta. Dari Gambetta kami menaiki bus nomor 69. Bus inilah yang mengantar kami ke tempat-tempat indah di kawasan zona 1. Berikut adalah rute bus 69.

Karena waktu itu masih jam 7 pagi (artinya matahari belum terbit), maka kami tidak jadi ke Museum Louvre dulu, tetapi langsung menuju menara Eiffel. Usai menunaikan shalat subuh di bus, kami sempat melihat keindahan piramida di depan Louvre ketika pagi hari. Wah indahnya. Bus terus melaju dan mengantarkan kami ke tempat berdirinya salah satu 7 keajaiban dunia, Menara Eiffel. Alhamdulillah, bus berhenti di Camp de Mars – La Bourdonais, rute terakhir bus ini sebelum berbalik arah ke Gambetta.

…. bersambung

Kategori
Catatan Perjalanan

Tour de Paris : Crazy Travelling Edisi II #2

Perjalanan Dimulai

Dimulai dengan kegaduhan karena dua teman kami tak kunjung muncul di Wuppertal Hbf gara-gara ditahan oleh si gadis Mesir yang udah kuceritakan kemarin di rumahnya, hampir kami terlambat kereta menuju Dusseldorf. Alhamdulillah, setelah melewati berbagai keributan juga di sana akhirnya kedua temanku itu bisa sampai juga di stasiun. Kami segera meluncur bersama kereta regional ekonomi (yang setara dengan eksekutif kalau di Indonesia) menuju ibukota negara bagian NRW, Dusseldorf. Sesampai di sana kami segera menuju lokasi halte bus EUROLINES.

Satu jam kami menunggu sesuai petunjuk di bus. Untung hawanya tidak terlalu dingin. Alhamdulillah, mulai pekan ketiga Desember suhu udara tidak pernah lebih rendah dari empat derajat sehingga kami tidak menggigil saat di luar ruangan. Lama tak kunjung datang, eh malah di sebelah ada sepasang cewek-cewek yang asyik berciuman, yang satu sepertinya orang Korea, berambut pendek dan mirip laki-laki, tapi cewek, yang lainnya sepertinya warga lokal. Huft, kata temenku beginilah kalau kiamat sudah dekat. Semua jadi ga jelas gini.

Tepat pukul 21.45 bus EUROLINES tiba di halte. Wah, ontime banget angkutan di sini. Apalagi angkutan swasta seperti ini. Kereta aja kalau pun telat tidak pernah lebih dari 5 menit. Dan begitu masuk ke dalam bus. Waw, ini mah bus kelas eksekutif kalau di Indonesia. Baru kali ini aku naik bus yang sangat mewah. Maklum lah, kalau di Indonesia mending naik Mira atau Sumber Kencono yang sama-sama AC namun tarifnya ekonomi. Ha ha ha.

Di perjalanan berangkat aku memilih tidur agar esok hari ketika sampai badanku menjadi segar dan kuat berjalan-jalan. Seperti perkiraan cuaca yang kubaca sebelum berangkat, besok akan cerah bahkan matahari akan bersinar cerah di Paris. Yah, semoga memang begitu. Beginilah kenekatan kami bertamasya di musim dingin. Meskipun pemandangannya tak seindah musim panas (gara-gara dipamerin foto liburannya mas Ferdi dan istrinya), tapi kami akan membuat sejarah baru dalam hidup, terutama aku yang dulu pernah mengucapkan mimpi ini ketika membaca lembar-demi lembar Novel Da Vinci Code.

….. bersambung

Kategori
Catatan Perjalanan

Tour de Paris : Crazy Travelling Edisi II #1

Hemm, kemarin kami terus berdebat tentang jadi tidaknya ke Paris. Akhirnya diputuskan kami akan berangkat nanti malam, setelah melewati serangkaian lobi karena ada yang tidak ingin berangkat. Alasannya karena semua tiketnya mahal, yah itu karena sulitnya membuat rencana hari pasti ketika di awal-awal dulu. Kalau dulu sudah diputuskan harinya dan pesan tiket seharusnya kami dapat harga yang jauh lebih murah dari pada pesan sehari sebelum berangkat. But, semuanya sudah terlanjur, dan rugi rasanya ketika sudah di tanah Eropa, mimpi ke tanah impian tak terjamah semuanya. Kapan lagi waktunya kalau tidak pekan yang baik ini. Dan ini akan jadi pengalaman berharga kami jika nanti kami bisa menjejakkan kaki ke Eropa lagi.

Persiapan (23 Desember 2012)

Seharian kemarin aku terus browsing mencari tiket yang paling murah di antara yang semua tiket mahal menuju paris. Naik Thalys, wow harganya menggila. Naik ICE/IC, ini lebih parah lagi. Dan akhirnya atas saran dari salah satu teman blogger Indonesia yang tinggal di Jerman, aku memutuskan untuk memilih EUROLINES. Sebuah perusahaan jasa angkutan yang melayani perjalanan wisata di seluruh Eropa dengan bus.

Dengan bantuan mas Ferdi, lurahnya orang Indonesia di Wuppertal katanya, he he, aku mendapatkan harga tiket per orang + pajak 82,9 euro untuk pergi-pulang Dusseldorf – Paris. Jika menggunakan EinzelTiket Wuppertal – Dusseldorf, maka per orang akan menambah biaya 9,6 euro pergi-pulang. Juga taksi dari Wuppertal Hbf (kalau nanti sudah kecapekan parah) ke apartemen 8,8 euro (dibagi empat orang). Kemudian dengan tiket harian di Paris nanti sekitar 12 euro, jadi untuk biaya per orang diperkirakan sekitar 107-an euro. Masih lumayan murah dah (meskipun sangat mahal, karena kalau pesan busnya sebulan sebelumnya bisa dapat 50 euro).

Tak kalah gaduhnya adalah karena ini pengalaman pertama, aku terus sibuk mencari informasi seputar touring ke Paris dari pengalaman beberapa orang yang pernah ke sana dan dari google map, karena khawatir tersesat. Soalnya orang-orang Perancis kan katanya ga mau pakai bahasa Inggris, lah kalo kita nanya udah pasti di jawab bahasa Perancis dong, dan itu artinya roaming berat. Saking banyaknya persiapan aku membuat berbagai peta perencanaan yang banyak. Waktu aku main ke apartemen mas Ferdi (dengan maksud mencari tempat ngeprint gratisan) aku malah diketawain habis-habisan. “Lo ke Paris mah ga bakal tersesat. Di semua kota-kota di Eropa prinsip transportasinya sama kok Dik. Yang penting baca angkutan publiknya dengan teliti dan pastikan tahu alamat tempat-tempat yang mau lo kunjungin. Dengan tiket sehari lo bakal puas dah keliling ke sana ke mari. Ga bakal tersesat. Lagian nanti turisnya juga banyak kok.” He he, bener juga ya mas. Lagian kami berempat kok.

… bersambung