Di Bergische Universität Wuppertal dahulu, kami sudah terbiasa shalat di ruangan khusus yang dijadikan musholla. Jika kami tak sempat ke masjid di pusat kota, di situ juga digelar shalat Jumat. Dan di banyak tempat di negeri-negeri yang dulu mereka sangat menentang Islam, kini tak kuasa lagi menahan keinginan hati orang-orang yang kembali menemukan cahaya. Hanya butuh waktu dan kesabaran dalam memperbaiki.

Sementara di negeri ini, banyak yang terburu-buru dan suka menghantam sana sini secara ngawur. Setiap pergerakan sibuk diskusi dengan sesamanya mengejeki pergerakan yang lain di majelisnya. Masih sulit membangun kembali majelis syura yang mewadahi kepentingan umat. Di antara faktor yang menyuburkannya adalah rasa paling benar dan paling sholeh sendiri. Padahal kita memang diwajibkan mencari dan meyakini kebenaran dengan seyakin-yakinnya, tetapi mengemas hal yang kita yakini agar juga dapat dirasakan manfaatnya oleh yang lain, bukan jadi alat debat dan saling menghantam satu sama lain.

Semua butuh proses dan penghayatan. Ilmu yang baru sebatas jadi pengetahuan akal maka sejatinya ia masih dangkal. Ia yang sudah meresap di relung hati maka akan memberikan dampak perbaikan yang nyata karena memang memancarkan energi yang sesungguhnya.

Facebook

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.