Afwan, Maaf, Ngapunten, Sorry adalah ungkapan yang sama, mengapa harus digunakan untuk mengkotak-kotakkan. Yang pakai afwan lantas begini, yang pake sorry lantas begitu, bla blabla. Seperti halnya Akhi, Ukhti, Bro, Sis, Sedherek, Saudara, apa yang berbeda, panggilan yang mendekatkan sesama kita bukan. 

Memang tidak dapat dipungkiri. Ada yang berbahasa sekedar meraih gengsi. Ada yang berbahasa untuk sekedar berkomunikasi. Tapi ada juga yang berbahasa untuk memahami kejadian di kehidupan ini. Al-Quran & hadits hanya dapat dimengerti ketika kita memang memahami bahasanya. Pertanyaannya seberapa serius saya belajar bahasa Quran untuk tujuan memahaminya?

Versi yang lainnya, jurnal-jurnal berbahasa Inggris hanya sanggup dipahami saat kualifikasi bahasa Inggris kita ok. Sejauh apa tujuan kita belajar bahasa Inggris, apakah untuk menggali ilmu-ilmu itu atau sekedar ingin tampil keren saja. Maka tak heran jika meskipun orang Indonesia itu jumlahnya banyak, penutur bahasa Indonesia yang berkualitas semakin menipis (silahkan diriset). Dan sebagai orang Jawa saya juga melihat adanya fenomena bahwa pemuda sekarang mulai tidak bisa berbahasa Jawa dengan baik plus mulai hilang unggah-ungguhe.

Ibaratnya, sebanyak apa pun kulit kacang dimakan ya tetap aja tidak nendang. Tetapi kalo kita sudah terbiasa makan isinya maka pasti beroleh kepuasan.

Facebook

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.