Menarik sekali menyimak fenomena pemuda Islam hari ini. Mereka saat ini mengalami perkembangan yang signifikan. Sedikit demi sedikit banyak pemuda Islam yang mulai menemukan kebanggaan agamanya. Mereka tersebar di berbagai harakah Islam sebagai penggerak dan sekaligus juru bicaranya. Ini adalah fenomena positif untuk melihat bahan baku kebangkitan Islam di masa depan.

Namun yang jadi masalah adalah tidak jarang perbedaan mereka membuat mereka juga saling berdebat satu sama lain. Masing-masing membagikan apa yang diyakini dari perjalanan belajar mereka untuk saling mempengaruhi satu sama lain. Apa yang mereka kaji di forum, apa yang mereka baca, dan apa yang diinstruksikan dari guru-guru mereka dalam pergerakan itu adalah faktor yang mempengaruhi pikiran dan pergerakan mereka hari ini.

Terkadang timbul perbedaan yang saling meruncing hingga tak jarang berujung pada perdebatan. Ungkapan yang ku yakini juga bertujuan untuk pengingatan terkadang salah diksi sehingga lebih berkesan mengejek ketimbang menimbulkan efek penyadaran. Yang diejek tidak terima lantas gantian mengejek. Apalagi di bangsa yang baru dibuka kran kebebasanya 1,5 dekade ini, tradisi diskusi dan perbedaan pendapat tentu baru seumur jagung.

Sisi yang coba kukritisi adalah bahwa semangat belajar para pemuda Islam hari in perlu diberi koridor yang lebih mapan. Bahwa kita menyuarakan sisi-sisi penting dari agama ini adalah bagian dari belajar kita. Namun akan jadi naif dan kosong ketika kita melakukan itu secara berapi-api akibat luapan emosi sementara secara kapasitas kita tidak seprogres seruan yang penuh semangat itu.

Dalam benakku terserak rasa gimana gitu melihat cara-cara belajar pemuda hari ini yang menurutku pragmatis. Maka tak heran jika mereka akhirnya menyerukan hal-hal yang pragmatis pula. Jika musim ini mereka mengekspos A, musim itu mengekspos B. Tapi aku tak yakin bahwa di masa muda yang penuh peluang ini banyak yang mau meluangkan waktu untuk mengumpulkan berbagai modal ilmu alat dan wawasan yang memadai, sehingga saat berteriak dan berkiprah mereka memiliki kompetensi yang mumpuni.

Aku tak yakin mereka yang besar di dalam pergerakan kampus sudah banyak yang tersadar untuk mengejar ketertinggalan belajar dari teman-teman yang di ma’had, terutama dalam ilmu-ilmu alat. Karena tanpa itu, bagaimana bisa kita memahami kaidah-kaidah penting dalam agama ini. Apakah kita serius dalam mempelajari bahasa Arab? Apakah kita sudah mempelajari usul fiqh? Apakah kita sudah memiliki prioritas waktu untuk mengejar hal-hal penting seperti  itu?

Aku ingin mengatakan bahwa pertanyaan itu adalah sekaligus untuk diriku sendiri. Aku juga masih belajar, maka dari itu akumerasa bahwa terlalu berapi-apinya kita justru itu menjadi bumerang bagi diri kita dan bagi masa depan Islam ke depan. Sementara musuh-musuh Islam terus merongrong kita, kita lebih sibuk bergelut satu sama lain karena dorongan propaganda, bukan belajar untuk melihat kembali warisan besar para pendahulu kita.

Terpecah-pecahnya umat hari ini adalah keniscayaan. Tetapi larut dalam kefanatikan atau terus menjaga ukhuwah satu sama lain adalah pilihan. Termasuk mau mencari sisi-sisi yang sama atau membesar-besarkan perbedaan itu juga pilihan. Termasuk menghabiskan waktu untuk berpolemik atau diam dan terus bekerja untuk dakwah baik dalam aspek pendidikan, sosial keumatan, hingga politik itu juga pilihan. Termasuk mau jadi komentator yang nyinyir dan menyakiti atau belajar berlapang dada dan tetap berusaha tersenyum dalam menasihati itu juga pilihan. Jadi pilih saja mana yang menurut kita terbaik. Tidak usah memaksa orang untuk mengatakan bahwa apa yang kita pikirkan pasti selalu baik. Emang siapa elo.

Jadi woles aja lah. Kita punya energi besar. Betapa pun bangsa ini di obok-obok dan rusak (kata sebagian rekan-rekan mahasiswa di tabloidnya, sampai pesimis banget kayake mereka), sesungguhnya potensi pemuda tidak akan pernah bisa dikendalikan. Pemuda adalah orang-orang merdeka yang sanggup mempertahankan harga diri dan kehormatan mereka. Kecuali mereka yang sudah terbiasa menjual diri sejak kecil karena dunia dan kepentingan pribadinya. Mari kita belajar Islam dengan baik, sistematis dan tanpa henti.

Dalam definisiku, baik itu berarti mengedepankan visi yang positif. Sistematis itu mengikuti kaidah belajar para ulama dengan cara mempelajari biografinya, lalu berusaha menirunya semampu kita. Tanpa henti, ya karena hingga 20 tahun ke depan belum tentu kita akan mengkhatamkan untuk memahami Quran dengan tafsirnya. Kita belum ada apa-apanya, tapi semangat dan kecintaan kita semoga menjadikan usaha tertatih-tatih kita ini adalah apa-apa yang menjadi alasan Allah memasukkan kita di kalangan para penuntut ilmu.

Karena persoalan-persoalan keumatan adalah hajat hidup orang banyak, mari kita hati-hati kalo ngomong. Termasuk hubungan interpersonal mari hati-hati ngecap dan nglabeli sesama kita. Selagi orang-orang belum mati, orang yang jahatnya mengerikan sekalipun boleh jadi akan berakhir khusnus khatimah. Wong ki wang sinawang, jadi mari kita tetap optimis dan berpikiran positif. Tetap belajar dan sudi mendengarkan ilmu dari siapa pun, lalu mengolah dan menyeleksi dengan bijak. Tenang, kalem, dan tetap progres.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.