Setiap orang memiliki kamar publik dan kamar pribadinya. Maka dalam pergaulan kita, setiap diri diminta untuk mengerti mana yang jadi kamar publik dan mana yang jadi kamar pribadi. Karena ketika kita salah menempatkan akibatnya fatal, baik untuk diri kita maupun orang lain.

Kebiasaan menggunjing (ghibah) adalah salah satu dari aktivitas mengorek kamar pribadi orang. Karakter ini lebih pengecut sih karena tidak berani terang-terangan. Tapi sangat berbahaya karena ghibah itu biasanya salah satu dari bumbu proyek kemunafikan. Dulu, mana berani orang-orang munafik Madinah kasak-kusuk di depan Rasulullah, ya iya lah ga berani. Tapi nama-nama mereka tetap tercatat dan masuk dalam daftar orang tak dishalatkan saat meninggal.

Yang konyol lagi adalah ketika privasi orang diusik atas nama kebijakan atau kepemimpinan. Terkadang dengan adanya status pemimpin dan yang dipimpin, seorang pemimpin nyeleweng dan nggagahi orang-orang yang dipimpinnya. Seolah-olah yang memimpin memiliki otoritas mutlak untuk menentukan nasib orang lain, hingga masalah-masalah pribadinya. Ih, apa urusan lo campuri urusan gue.

Dalam dunia pergaulan hari ini yang sudah dihiasi dengan nuansa feodalistik, seringkali orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi bisa mengacak-acak dunia pribadi seseorang sesuka hatinya. Salahnya adalah yang diacak-acak juga seolah-olah menyerahkan dirinya begitu saja. Dan lebih tidak lucunya adalah banyaknya orang yang suka komentar atas hal-hal yang dilakukan orang lain. Apa urusannya, kok ngoceh sembarangan di muka umum. Bukannya ditujukan langsung kepada orang yang bersangkutan.

Menasihati, mengingatkan, membantu, dan melakukan banyak hal untuk rekan maupun lawan kita seharusnya tidak membuat kita menjadi orang yang larut dalam mencampuri privasi orang. Setiap kita punya ruang pribadi yang tidak memperkenankan orang lain mencampuri, maka jangan sampai terbiasa masuk tanpa izin dan jangan masuk apabila tidak diberi izin. Karena dipastikan Anda akan sangat menyebalkan dan semua hal baik yang Anda usahakan justru akan menjadi bias, salah dipahami oleh sasaran Anda.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.