Sejak aku mengenal sosok guru yang hebat di masa awal-awal mengenal Islam, maka saat itulah aku terkesan dengan keindahan Islam ini. Bagaimanapun, sebagai generasi muda yang lahir di lingkungan masyarakat Islam abangan, menemukan nur agamanya sendiri bisa jadi serupa dengan orang-orang Barat yang menemukan cahaya Islam. Bedanya mereka dititik frustasi hingga akhirnya tenang dengan memeluk Islam, tapi di negeri ini kita diluruskan cara belajarnya agar mampu ber-Islam dengan lebih baik.

Adalah beliau, Allahyarham KH. Muh. Hussein yang telah wafat di tanggal 26 Januari 2008 silam di usia 80 tahun. Sosok alim yang menjadi Ketua MUI Gunungkidul sekaligus sosok pejuang yang gigih untuk melawan gerakan pemurtadan yang gencar di kawasan selatan kabupaten kami gara-gara Super Mie. Usianya yang telah senja mengantarkanku dan beberapa sahabat seperjuanganku yang dipertemukan di situ untuk belajar menimba ilmu dan menjadi saksi keteladanan beliau. Kami masih beruntung menjadi murid beliau yang terakhir sebagaimana kakak-kakak kami yang mungkin telah tersebar di tempat lainnya tanpa kami kenal mereka semua.

Itulah titik dimana aku mengerti bahwa ber-Islam itu bukanlah sekedar label kebagusan dalam berpenampilan, berlafaz bahasa Arab, tetapi juga memberi bukti atas perjuangan. Kata-kata beliau yang begitu menghujam itu masih terngiang hingga hari ini. Aku sama sekali tidak mengkultuskan beliau, tetapi aku harus mengakui bahwa beliau adalah guru yang paling utama bagiku di antara guru-guru yang pernah kutimba ilmunya dalam hal agama. Dari beliaulah kitab Shirah, Jawahir, Bulughul Maram dan beberapa kitab lainnya bisa kuikuti meskipun ketika itu belum begitu kupahami benar maksudnya.

Maka setelah kepergiannya hari ini, rasanya sulit mendapati guru-guru sekaliber beliau yang bisa kusaksikan konsistensinya dalam amalan dan kebijaksanaannya. Hari ini mungkin banyak orang yang cerdas dalam bicara, tetapi untuk mendapatkan hikmah atas perkataannya nanti dulu. Karena bagaimanapun, kata-kata hikmah seseorang itu tidak bisa menggunakan logika matematika yang berbanding lurus dengan kualitas perkataannya. Hikmah terpancar dari energi ruhyah yang dalam. Dan jika itu tidak ada, maka pastilah tidak ada artinya apa-apa.

Setidaknya aku masih senantiasa memilih bergabung dalam kumpulan orang yang mencintai agama ini. Yang rela belajar dan berjuang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya aku belajar untuk mengerti uniknya dinamika manusia. Dalam mendalami ilmu, mungkin tidak seprogres dulu lagi. Entah bahasa Arabku hari ini, hafalan yang juga sulit bertambah. Tapi aku yakin kesabaran proses ini tetap akan menjadi jalan yang menyejarah bagi hidupku sendiri.

Bergabung di lingkaran inspiratif adalah saat terbaik belajar untuk mengerti dan mengkonsolidasikan pemikiran. Terkadang kita berjumpa dengan sosok yang kaku dan kurang peka. Terkadang kita belajar dari sisi-sisi unik sahabat kita. Dan yang beruntung (mungkin seperti saya ini sangat beruntung) adalah ketika mendapat mentor orang yang mengingatkanku akan memoar ulama yang pernah menjadi guruku. Sosok yang mengedepankan keteladanan dan perkataan hikmah ketimbang pembicaraan berbusa-busa namun kosong dari ruhnya. Tentu saja konteksnya pembahasan dan pembicaraannya berbeda, tetapi ada kesamaan yang terasa, kesejukan karena hikmah di dalamnya.

Di lingkaran paling spesial inilah aku mengerti akan hal-hal yang selama ini jarang disadari. Meneropong sisi lain yang dilupakan oleh komunitas ini. Mendapatkan pencerahan akan keteguhan, kesabaran, dan ketahanan. Fakta-fakta yang selama ini jarang diungkap menjadi kami tahu, semakin memantapkan kami bahwa kami adalah manusia sejati, bukan malaikat, bukan pula iblis. Maka tidak selayaknya manusia mengumpati manusia lainnya seperti melaknat iblis atau memuji manusia lainnya bak malaikat.

Berikut ini adalah pesan-pesan luar biasa beliau,

  • Sibuklah untuk membangun kapasitas diri, maka kalian pasti akan mampu berkontribusi banyak, jangan sibuk mencari status, gelar, atau jabatan karena itu sifatnya sementara, kadang akan datang, lalu pergi.
  • Orang berbuat tergantung poros yang dibangun dalam hidupnya, jika porosnya adalah Iman maka apa pun tindakannya semuanya karena dilandasi iman dan menggapai kebahagiaan akhirat. Namun jika porosnya adalah harta, maka agama pun bisa digadaikan demi mendapatkannya dan semua akan berorientasi dunia
  • Ini adalah jamaah manusia, maka jika ada yang berbuat salah itu jelas sebuah hal yang lumrah, tugas kita adalah mengingatkan dan tidak ikut-ikutan, tetapi bukan juga mencela hingga menyempal dan berpecah belah. Bersikap benci dan cinta berlebihan itu justru membuat ukhuwah itu rusak
  • Aku lebih bangga saat kalian kaya karena usaha mandiri dan bisnis yang halal, bukan saat menjadi wakil rakyat atau pejabat karena itu sangat memalukan dan menyinggung perasaan hati rakyat
  • Komunitas ini akan tetap hidup dan kokoh ketika kita bisa saling menanggung kehidupan lainnya dan jujur dalam bekerja. Dan kita berukhuwah karena iman dan Islam, jika salah satu dari kita menyimpang maka secara otomatis putuslah ikatan kita itu.

Masih banyak lagi catatan-catatan yang kami dapatkan selama beberapa waktu ini. Ini mungkin lingkaran inspiratif yang paling berkesan selama bertahun-tahun ini. Semoga keistiqomahan senantiasa dilimpahkan dihati kami dan beliau untuk tetap mencintai agama ini.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.