Menjelang ashar, ketika aku sedang asyik mengetik di depan laptop di teras masjid Istiqlal. Tiba-tiba ada seorang bapak yang mendekatiku. Sempat curiga dan takut. Jangan jangan ….. jangan jangan ….. (sudah mulai su’udzan). Wajarlah, Jakarta berbagai modus operandi orang jahat terkumpul di kota ini. Maklum lah, di kota metropolis ini, semua bisa bernilai uang dan dapat diuangkan. Sempat gugup dan salah tingkah.

Ketika aku sudah menenangkan diri, akhirnya aku mulai memperhatikan sang Bapak yang tersenyum kepadaku. Dia kemudian menegurku karena sudah bersamaan waktu shalat ashar. Beliau bilang supaya segera berkemas dan shalat ashar. Aku mengangguk sambil membereskan laptop dengan rasa khawatir. Kutenangkan hati dan segerelah aku bergegas mengambil air wudhu dan cepat-cepat ke lantai utama. Tas kutitipkan di penjaga.

Usai shalat, aku kemudian duduk-duduk dulu di depan. Dan saat itu sang Bapak mendekatiku dan mengajakku berkenalan. Saat itu pikiranku mulai sehat kembali. Kusambut jabatan tangan sang Bapak , yang bernama Andi Nasution itu. Beliau mengingatkan aku agar tidak mengulangi hal yang membahayakan tadi. Mengeluarkan laptop di tengah keramaian. Karena akan menarik para tukang gendam. Beliau juga menjelaskan beberapa modus yang sering terjadi di kawasan ramai seperti Jakarta. Dalam hati aku mulai berbaik sangka, sang bapak ini memang orang baik insya Allah. Setelah berkenalan lebih lanjut kami sempatkan untuk berfoto di depan masjid Istiqlal, khusunya aku yang minta difotoin di sana. Ha ha ha narsis amat yak.

Kemudian kami berjalan ke Monas yang tak jauh dari masjid. Di saat itulah aku merasa

berdosa karena telah berprasangka buruk kepada sang Bapak karena kekhawatiran yang berlebihan. Beliau adalah lulusan S-2 Unpad bidang Manajemen Keuangan. Beliau ceritanya bingung karena habis kecopetan waktu di stasiun Gambir. Dompet, kartu kredit dan ATMnya raib ditangan pencopet yang dicurigai adalah berpura-pura sebagai seorang ibu-ibu yang menggendong anaknya. Tidak ada kenalan, karena beliau orang medan yang baru tinggal 2 tahun di Bandung untuk S-2nya. Istrinya di medan dan anaknya kuliah di UGM dan Apelni Semarang. Duh, aku merasa lebih beruntung dari Bapak ini. Meski aku juga sebenarnya juga meringis waktu ke Jakarta ini dengan uang pinjaman semua, mulai dari uang kereta, uang makan hingga uang visa.

Sambil foto-foto di monas, kami berdiskusi tentang kemegahan bangunan yang menjadi kebanggaan bangsa. Dari situlah pembicaraan kami mengarah pada sisi politik di mana beliau kecewa berat sama Foke yang abai sehingga taman Monas yang dulunya hijau dan asri menjadi gersang karena tak diurus dengan baik. Kemudian kritikan-kritikan beliau yang lain cukup pedas tertuju kepada sang mantan Gubernur. Diskusi kemudian beralih kepada gubernur yang baru, Jokowi. Beliau memandang banyak terobosan positif yang semoga benar-benar sukses. Aku sesekali mengkonfirmasi apa yang telah Jokowi capai di Solo agar diskusi terasa berimbang.

Tak jauh dari tempat kami diskusi, ada pertunjukan keahlian pawang untuk menaklukkan ular sanca dan buaya putih. Ternyata ada juga pertunjukan sihir dari Banten, namun aku segera beralih. Pak Andi kemudian bercerita tentang pengalamannya di perkampungan Badui yang paling dalam. Aku dapat banyak cerita tentang mereka baik cerita yang mengagumkan maupun yang menyeramkan. Cerita ini yang mengasyikkanku hingga aku menyadari bahwa matahari hampir terbenam dan waktu telah senja.

Kulirik dompetku, ah itu uang pinjaman. Sama-sama butuh, kuambil sebagian untuk Pak Andi, semoga dengan sedikit uang ini beliau bisa melanjutkan perjalanan balik ke Bandung untuk mengambil buku tabungannya dan menyelesaikan urusannya. Aku tetap berprasangka bahwa beliau adalah orang yang baik. Siapa pun beliau, beliau berjasa memberikan banyak ilmu dan inspirasi sore ini. Dan beliau juga menjadi tamsil kesabaran bagiku, karena orang jauh yang tak punya kenalan di Jakarta tentunya adalah masalah berat. Namun beliau memberi teladan padaku agar selalu tenang dan optimis. Terima kasih Pak Andi atas kenalannya hari ini. Semoga kartu nama yang kuberikan dapat menjadi penghubung kita di kesempatan yang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.