Kategori
Catatan Perjalanan

Jakarta True Story #3

Kejutan yang Tak Terlupakan

Hari yang ditunggu itu telah tiba. Peserta yang sebagian sudah tidur di kawasan dekat ruang acara juga telah mulai bertambah lagi jumlahnya. Seperti biasa, kebiasaan malasku kalau pagi. Habis subuh, tidur lagi bentar dan akhirnya giliran mandi dapat antrian panjang. Hapeku udah diwarning dengan SMS, “kakak di mana? Cepetan kakak”. Ha ha, akhirnya di sini dipanggil kakak lagi deh (jadi ingat waktu awal-awal bendumku sering manggil aku kakak). Kubalas, “iya saya mandi dulu dong, adik silahkan koordinasi dulu yach dengan teman-teman yang udah siap”.

Setelah persiapan BBB selesai, aku segera menyusul ke panitia yang sebagian sudah stand by di depan aula. Kami semua punya gawe besar untuk melayani ratusan peserta yang berdatangan dari berbagai penjuru tanah air. Berbagai obsesi besar dan tentunya harapan bertemu berbagai tokoh keren yang ditulis besar di poster FB acara ini mampu mengantarkan mereka ke dalam forum nasional yang besar ini. Cukup kerepotan kami melayani mereka, untunglah tim kocakku dibantu dengan jajaran tim lain telah siaga penuh dan saling bahu-membahu untuk menyukseskan acara ini meski sebenarnya kami tahu ada kejutan yang nanti pasti akan diterima peserta. Aku tidak begitu mempermasalahkan hal itu, tanggung jawabku sekarang bekerja dan bekerja, mengkoordinir adik-adik agar bisa menghasilkan kontribusi yang maksimal dalam acara ini.

Acara kemudian berlangsung dan mendapat antusiasme yang penuh dari peserta. Orasi demi orasi dari beberapa tokoh (ada yang aslinya ada yang perwakilannya) tampak bergantian. Tapi ternyata tokoh-tokoh yang mereka bayangkan dan mereka harapkan hadir di tempat itu tak kunjung muncul. Meskipun sang president YC ini telah mempresentasikan visi besar gerakan ini ternyata tetap membuahkan berbagai ketidakpuasan dari sebagian peserta. Dan inilah kejutan itu, aku sudah tahu hari kemarin bahwa orang-orang keren itu tidak akan datang karena berbagai kesibukan mereka. Dan lebih tepatnya, pioner acara ini melakukan kesalahan fatal di mana tidak mencantumkan tanda bintang pada nama-nama pembicara yang memang belum fiks untuk hadir di tempat itu.

Alhasil, ada seorang mahasiswa dari kampus ternama yang merangsek maju merebut mic dan melakukan orasi sendiri mengungkapkan kekecewaannya. Untung kondisi itu tidak berlangsung lama dan kendali kembali ke tangan sang presiden. Tetapi menurutku argumen sang presiden ketika itu justru kesleo pada beberapa poin yang membuat semakin jengkel para peserta. Ah, sudahlah aku dibelakang cuma bisa istighfar dan fokus lagi untuk mengurus pembagian makan siang peserta. Setelah koordinasi dengan yang putri kami bersiap di tempat pembagian makan masing-masing untuk menyambut peserta yang mau selesai dan diskusi persiapan aksi. Aku masih berharap semuanya baik-baik saja nantinya. Memang ini kejutan yang sangat mengejutkan, apalagi jika yang datang jauh-jauh dari luar pulau obsesinya karena tokoh-tokoh hebat itu.

Setelah acara itu selesai kukira kami segera bisa membereskan ruangan dan persiapan di acara berikutnya. Eh, ternyata ada satu mata acara yang tidak kupahami bahwa itu adalah acara walimahan dari kedua leader yang baru nikah kemarin. What? Aku tak habis pikir. Kali ini giliran aku yang terkejut. Mencoba menyadarkan diri dulu bahwa ini kenyataan yang terjadi. Kami sekaligus menjadi kepanitiaan walimahan. Dan aku baru sadar bahwa konferensi ini salah satu agendanya adalah walimahan. Alamak, tepok jidat!

Aku mulai merasa tidak nyaman dengan kondisi ini. Bagaimana pun, ini bukanlah pilihan yang baik bagi orang yang punya visi besar untuk perubahan dan kepedulian kepada pemuda. Aku tak menyangsikan kepribadian orang yang telah menggagas agenda besar ini, tetapi momentum yang dia ambil untuk melangsungkan dua agenda yang bertolak belakang ini secara bersamaan (konferensi kan agenda organisasi, sedangkan walimahan kan agenda pribadi) pasti akan memberikan image buruk bagi rekan-rekan yang telah jauh-jauh datang dari penjuru tanah air. Kakak, apakah tidak ada pilihan yang lebih baik dari ini?

Dalam kondisi yang tidak stabil itu, aku hanya terus melakukan apa yang menjadi tugasku yaitu bekerja dan bekerja. Setelah ikut membagikan makanan dan membersihkan sisa makanan sebelumnya, aku segera bergabung di tim diskusi sambil makan siang. Sambil berbagi cerita aku mencoba menangkap aspirasi dari peserta akan acara ini, khususnya adalah adik-adikku yang jauh-jauh dari Solo untuk mengikuti acara ini. Sudah kuduga, begitulah ketika orang itu kecewa, kesannya macem-macem dan tidak karuan. Akhirnya aku berpikir, bereskan urusan di sini dan aku lebih memilih ketemu temanku di depkeu. Biarlah agenda terakhir ini tak kuikuti, dari pada aku menahan ketidakstabilan diriku ini lebih panjang. Tidak ada yang perlu disalahkan dari mereka, salahkan diri sendiri mengapa dulu mendaftar. Jadi selesaikan tugas di sini dan segera pilih jalan yang lebih baik.

Usai bersih-bersih sampah di lokasi, aku segera pamitan untuk meneruskan langkah ke kawasan pasar baru. Di dalam busway aku melihat sepertiga peserta yang tadi berkumpul di dalam ruangan masih bertahan untuk menyuarakan kepedulian itu. Yah, alhamdulillah masih banyak yang ikut bergabung di aksi itu. Aku yang lagi tidak stabil memutuskan untuk memilih jalan yang lebih menenangkan dari pada membuatku makin diliputi kekecewaan. Terima kasih untuk semua yang telah memberiku pelajaran berharga hari ini. Visi besar dan inspirasi menjadi ranger harus kuacungi dua jempol. Tetapi kejutan sewaktu menjadi panitia tadi membuatku harus memberikan satu jempol lagi ke arah bawah.

Kategori
Catatan Perjalanan

Jakarta True Story #1

Amazing Moment

Jakarta menyambut kedatanganku dengan hujan deras pagi ini, ketika Kereta Ekonomi Senja Bengawan merapat di stasiun Pasarsenen, setelah semalaman ia bergerak terus dari kota Bengawan menuju kota tua ini. Hemm, beginilah suasana ibu kota ketika musim hujan tiba. Hujan deras menambah pemandangan ibukota negara ini semakin kumuh saja. Apalagi kabar banjir yang membuat diri ini makin khawatir saja. Ah, semoga semua baik-baik saja.

Setelah mengikuti saran dari teman di Youthcare aku segera meluncur ke markasnya untuk segera beristirahat.  Setelah berganti metromini dua kali (karena yang satu dioper) aku mencapai sebuah tempat di kawasan dekat pasar minggu. Ada sebuah masjid besar di seberang sana dan sebuah gang kecil yang ternyata itu adalah markasnya Youthcare yang hari Ahad besok akan menyelenggarakan sebuah acara besar. Begitu sampai di markas, aku langsung mendapat sambutan luar biasa dari Presiden-nya dan diikuti para panitia yang ternyata juga berdatangan dari luar daerah.

Baru beristirahat beberapa waktu, ternyata aku segera dipanggil untuk mandi dan ke masjid. Ada apa? Ada akad nikah katanya. Loh siapa? Ternyata Presiden Youthcare ama wakilnya hari ini akan melangsungkan akad nikah. Wow, ternyata hari ini spesial banget buatku. Dan tentu saja ini momentum yang keren dong bagi mereka berdua sebelum nanti berorasi di depan ratusan mahasiswa yang telah mendaftar di konferensi nasional hari Ahad.

Tersangkut Keberuntungan

Usai acara akad nikah, aku diajak oleh beberapa panitia bersama seorang ustadz untuk berkunjung ke rumah beliau. Wow, waktu itu aku hanya tahu bahwa sepertinya mereka dulu itu satu geng yang dibimbing oleh sang ustadz. Akhirnya dengan menaiki kendaraan sang ustadz yang menurutku cukup mewah, aku baru tahu bahwa ternyata teman-teman yang menjadi panitia ini dulunya adalah satu geng ngaji yang dibimbing oleh sang ustadz dan ceritanya hari ini adalah reunian.

Mereka berasal dari sumatera dan beberapa daerah di Jawa. Ada yang sudah bekerja di kapal pesiar, ada yang sudah bekerja di instansi pemerintah, dan beberapa tempat yang strategis. Wah ceritanya ini mau ngasih oleh-oleh kesuksesan bagi murabbi yang telah mendidik mereka sewaktu di kampus dahulu. Sebuah kampus negeri yang ada ikatan dinasnya. Beruntung banget aku hari ini dapat sharing pengalaman mereka dan dapat makan siang gratis dari teman yang baru pulang dari kapal pesiar. Konon, dia yang paling kaya saat ini sehingga makan mewah kami di Lele Lela bukan hal yang memberatkan baginya mentraktir.

Malam harinya, aku banyak mendapat cerita perjuangan para ranger Youthcare ini di samping juga membaca dokumentasi-dokumentasi yang terpajang di sini. Wah, ternyata perjalananku tidak sia-sia nih. Semoga hari berikutnya juga jauh lebih indah. Dan aku bersyukur tempat yang kutiduri malam ini nanti tidak tersentuh oleh banjir Jakarta yang membuatku miris.