Kategori
Catatan Perjalanan

Berdamai Lagi dengan Ibukota #1

Tadi malam adalah malam tahun baru, dan kali ini aku mendapatkan kesempatan langka untuk menghabiskan malam itu di Jakarta, ibukota negara kita. Bukan karena ngelengke untuk ke sana, tetapi kemarin aku baru saja sampai di tanah air setelah menempuh 14 jam perjalanan yang cukup membosankan (ternyata naik pesawat yang selama ini menjadi mimpi teman-temanku itu tidak selalunya enak, kelamaan ya akan bikin bosan), sehingga aku memutuskan untuk tinggal di sini semalam atau dua malam. Dan jadilah kisah permulaan tahun 2013 ini dengan judul “Berdamai Lagi dengan Ibukota”.

Movie

Ketika temenku dan tetangga-tetanggaku sudah pergi meninggalkan huniannya untuk ke kawasan HI yang katanya malam ini diadakan Jakarta Car Free Night Festival (jadi ingat dulu waktu Jokowi masih jadi walikota Solo menyelenggarakan Solo Car Free Night di sepanjang jalan Slamet Riyadi). Kali ini ternyata beliau adakan lagi di Jakarta dalam suasana yang lebih meriah dengan 16 panggung pertunjukan yang sangat bervariasi dan tentunya para pengunjungnya hanya boleh jalan kaki ketika memasuki kawasan ini. Yang kubayangkan bagaimana parkirannya nanti di sekitar kawasan itu jika ribuan orang bergerak memadati kawasan yang cukup luas dan memanjang ini.

Dalam benakku, aku nanti juga lihat kok di televisi. He he, maka niatan untuk langsung tidur kuurungkan. Akhirnya justru aku menyaksikan dua film terbaru yang keren diputar di salah satu televisi swasta. Yang pertama berjudul G. I. Joe, berikutnya berjudul SALT. Dua film yang berlatar sama tentang seputar dunia ketentaraan, yang pertama pada bidang tempurnya, yang kedua pada bidang intelegennya. Aku sangat tertarik dengan film ini, karena menggunakan permainan intelegensia tingkat tinggi. Hanya saja, memang di sinilah kekhasan film Hollywood, keinginan untuk membanggakan Amerika adalah tujuan utama di samping sajian konten film yang sangat bagus. Tak masalah, aku menikmati kepiawaian para pemainnya malam ini.

Kategori
Pendidikan

Happy New Year : Detak Semangat Bakti Nusa #3

Hati-Hati dengan Kata “Subsidi”

Ada yang menarik ketika kemudian beliau mengalihkan pembicaraan kami pada kasus yang sekarang sedang mengguncang lembaga-lembaga zakat. Pemerintah mulai akan menerapkan sistem pengelolaan zakat satu pintu yang itu secara mudah dapat dipahami sebagai bentuk intervensi pemerintah (lebih tepatnya ladang korupsi baru) dalam mengeruk uang sedekah para dermawan untuk dialirkan ke ranah birokrat. Kalau merujuk pada kata guru kami, Bapak Erie, inilah aslinya negara kita yang hobi mengganggu daripada menjadi pelayan kebutuhan rakyat. Sampai-sampai beliau berkata, cukuplah pemerintah Indonesia itu bersikap baik dengan tidak mengganggu keberadaan lembaga-lembaga sosial yang bergerak pada pengentasan kemiskinan.

Dari permasalahan ini, kemudian beliau memancing dengan kata “subsidi”. Sebuah kata yang sering muncul di pemberitaan yang disandingkan dengan kata BBM, Pendidikan, dll sehingga kita terkadang mengenal istilah subsidi BBM, subsidi biaya operasional, subsidi sembako dan sebagainya. Apakah ada masalah? Sekilas kata ini tidak penting, dan mungkin juga tidak ada masalah. Tapi hasil diskusi kami dan apa yang kami pahami sebelumnya menunjukkan bahwa kata ini sangat bermasalah dan berbahaya.

Alih-alih negara memberi bantuan, sebenarnya mereka menipu rakyat dengan kata mensubsidi. Rakyat hari ini dipaksa untuk mengerti dan berbaik hati kepada para pengkhianat bangsa. Dan terkadang rakyat kemudian menyerah karena memang mereka dimiskinkan secara sistemik dan dilemahkan secara terkoordinasi. Mengapa subsidi negara itu sebuah penipuan. Karena mencukupi kebutuhan rakyat dan membuat mereka sejahtera itu adalah tanggung jawab penuh negara sebagaimana amanat konstitusi.

Memang aneh Indonesia hari ini, negara yang teramat kaya ini harus impor dan kurang uang untuk membuat rakyatnya itu makan dengan layak. Yah, semua itu karena sebuah pengkhianatan dari pesan founding fathers kita agar menjaga kekayaan alam dan menerapkan ekonomi kekeluargaan. Hari ini kekayaan alam kita diserahkan secara “cuma-cuma” kepada asing dengan sedikit keuntungan (dari kacamata pendapatan negara) namun berlimpah (dari kacamata para cukong berdasi/ pejabat) jika dinikmati sendiri melalui korupsi. Sebuah pengkhianatan yang nyata dari pesan Bung Karno. Tak cukup sampai di situ, ekonomi kita pun telah digerakkan untuk mengarah pada sistem pasar yang itu tidak lain adalah kapitalisme dan neoliberalisme, sebuah pengkhianatan nyata dari pesan bung Hatta untuk menghidupkan sistem koperasi.

Jika rakyat lapar, jika rakyat miskin, jika rakyat tidak mampu membayar biaya sekolah, jika rakyat sulit mencari kerja, maka sudah seharusnya negara yang menanggung dan mengusahakan jalan keluar. Maka jadi pejabat negara ya harus mau menjalankan tanggung jawab ini, karena ini memang tugas negara. Jika tidak siap ya sebaiknya jangan jadi pejabat negara. Memang dasar orang Indonesia, maunya nggak kerja, tetapi ingin uang banyak. Pejabatnya merealisasikan itu dengan korupsi dan memanfaatkan segala sistem dengan cara-cara kotor. Lah bagaimana dengan nasib rakyat, gigit jari sebagian yang frustasi bahkan mungkin bunuh diri. Sebagian bertingkah sama dengan pejabat, bedanya mereka lebih vulgar mulai menjadi perampok hingga pencopet. Salah siapa? Kita salahkan kata “subsidi” aja.

Antara negara dengan rakyat, tidak berlaku istilah subsidi seperti halnya antara orang tua dan anak. Bukankah kemerdekaan negara ini juga ditebus oleh keringat dan darah rakyat, maka sudah sepantasnya negara ini menunaikan janjinya dan menjalankan konstitusi secara adil dan konsisten. Maka, hari ini Indonesia benar-benar membutuhkan pemimpin-pemimpin yang baik, bukan pemimpin-pemimpin yang penting. Pemimpin yang memang berniat baik dan berangkat dengan cara yang baik. Bukan pemimpin yang gila pencitraan hingga ke taraf narsis. Apalagi pemimpin yang transaksional yang memimpin negara atas perhitungan untung dan rugi bagi dirinya. Mau jadi apa Indonesia ini nanti?

Inilah spirit yang menggelora yang membuat tahun baru kali ini terasa begitu indah. Terlebih ketika mas Fahri memberikan banyak informasi penting untuk kami angkatan pertama bakti nusa. Dan aku ingin berkata, ternyata aku orang yang beruntung bisa ditakdirkan di sini bersama orang-orang hebat yang lain. Aku bisa belajar dari mereka semua, dan aku bisa merasakan bagaimana menjaga idealisme. Adakah yang lebih berharga dari seorang pemuda selain idealismenya? Kurasa tidak. Cukuplah pemuda itu telah mati ketika mereka tidak lagi memegang idealismenya.

Idealisme menumbuhkan visi. Visi akan menuntun kita agar hidup menjadi lebih hidup. Dengan mengerti kehidupan maka akan tumbuh tanggung jawab dalam pribadi kita. Sikap tanggung jawab akan menjadikan diri kita berintegritas. Diri yang penuh integritas akan memunculkan sebuah kerja yang profesional dan penuh dedikasi. Bahkan terkadang memunculkan berbagai inovasi. Semua sangat inspiratif, menggerakkan orang lain untuk mencipta perubahan ini. Itu mimpi indah kita bersama. Semoga terwujud.