Hemm, bagi yang pernah dengar lagu “Menjemput Bidadari” karya Epicentrum pasti tidak asing dengan kalimat di atas. Tapi kali ini aku meng-copas-nya untuk memberi tajuk perjalananku hari ini. Sebuah perjalanan yang kurasakan sangat berbeda dari sekian perjalanan yang serupa. Perjalanan menuju pantai selatan, pantai nan indah di tempat kelahiran kami.

Kejadian tak Terduga

Rencananya hari ini mau survey untuk tempat rekreasi ibu-ibu dan santri TPA. Yah, kalau di rumah melulu sepertinya tidak asyik. Apa lagi kalau TPA cuma Iqro dan hafalan melulu. Sesekali penting kan untuk tadabur alam. Nah, inilah saatnya kami yang muda-muda (maksudku adik-adik remas, tapi aku jadi ikut merasa muda, dan aku emang masih muda) buat event yang sesuai. Awalnya banyak yang mau ikut, sampai akhirnya berkurang satu demi satu, karena berbagai alasan.

Ada yang tiba-tiba cancel karena rewang di hajatan saudara. Ada yang tidak jadi ikut karena ga ada temannya (lho kok) meskipun akhirnya tetep jadi berangkat. Ada yang kena sedikit insiden di tengah perjalanan sehingga memilih pulang, dan yang tadi udah bertekad berangkat akhirnya harus ikut pulang lagi (motornya terbatas kan). Yah, begitulah riwehnya acara jalan-jalan hari ini. Sempat molor jadinya. Tapi Alhamdulillah kami bisa mencapai pantai Sundak tepat saat dimulai shalat Jumat. Alhamdulillah belum telat.

Sundak yang Memesona

Usai shalat jumat kami segera menuju bibir pantai. Meskipun banyak pemandangan ga jelas di sana-sini, kami berlalu saja sambil bergurau. Memanglah kami lebih tepat sebagai kumpulan tim futsal dagelan dengan aku sebagai manajernya. Setelah mejeng sesaat di sana, diputuskan untuk mendaki bukit yang lebih tinggi agar juga bisa foto-foto lagi.

Di sana aku mulai melihat keaslian adik-adikku yang unik itu. Ada yang memang suka narsis (mirip aku dikit), ada yang suka penjadi pendukung kenarsisan (alias tukang foto), ada yang tipikal figuran (kacian, ga jelas tu gajinya, lho kok). What ever, akhirnya aku bisa dapat gambar baru untuk dijadikan foto profil di FB, khususnya buat dipamerin ke adikku yang pada ga jadi berangkat tadi. Ha ha ha. Setelah puas dalam dunia kenarsisan dan keglidigan (maklum lah, khas anak gunung, yang ruwet-ruwet mah kita jelajahin meskipun batu karangnya tajam-tajam), aku berpisah dengan adik-adikku. Mereka ingin menikmati masa kecil mereka (ups, masa ABG ding) dengan mencari-cari sesuatu di bibir pantai. Okelah adik, silahkan dinikmati sepuasnya tour hari ini. Nanti ketemuan lagi pas ashar ya di masjid Sundak.

Mereka pun pergi, dan aku justru mencari tempat yang sepi di sekitar itu, dibibir pantai, di tepi jurang karang yang kokoh. Alhamdulillah dapat, cuma ga sengaja mergokin sepasang anak manusia yang aku curigai mereka bukan suami istri. Hatiku berkata, “hayo mas mbak, pada ngapain tuh”. Ha ha ha. Kayaknya mereka jadi sungkan lihat aku yang mbolang ke pantai pakai koko lengan pendek. Dengan sikap tak acuh, aku segera duduk dan mengeluarkan mushaf. Sejuknya angin pantai membuat sinaran mentari tak terasa menyengat badanku. Sejuk dan nikmat sekali.

Kuselesaikan targetan tilawah di situ, kemudian kulanjutkan dengan hafalan-hafalan yang sudah tersimpan. Hemm, setelah puas, ku layangkan pandangan ke laut lepas, bertafakkur. Kemudian banyak teringat berbagai hal yang membuatku menangis. Oh, sepertinya aku harus sering ke tempat seperti ini sendirian saja agar aku bisa menghidupkan hati ini yang semakin keras saja. Maka nikmat tuhan yang manakah yang akan engkau dustakan? Masya Allah, inilah karunia yang tidak Allah berikan kepada saudara-saudara kita di tengah padang pasir. Mengapakah kita masih belum bersyukur?

Di sepanjang garis pantai sekarang sudah diberi paying seperti pantai-pantai di Bali. Semuanya tampak ramai dan tak pernah sepi dari pengunjung saat lebaran seperti ini. Di belakang pantai, ternyata juga terdapat tambak yang cukup luas. Dan masyarakat pun sepertinya semakin pandai berbisnis dan memanjakan pengunjung. Inikah titik kebangkitan Gunungkidul dari garis pantai? Benar-benar telah berubah dari sekian tahun yang lalu saat aku berkunjung ke sini. Segala puji bagimu ya Rabb, semoga apa yang menjadi indah seperti ini bisa terjaga dan tidak menjadi sumber kemurkaan-Mu nanti. Keelokan pemandangan nan memesona ini tak lain adalah ujian dari-Mu untuk menguji rasa syukur kami. Semoga kami bisa menjadi hamba yang bersyukur.

Masih Ingat Pak?

Setelah puas berkelana menaiki puncak-puncak karang dan bertafakkur. Akhirnya aku kembali ke masjid sambil menunggu datangnya waktu ashar dan kembalinya adik-adik. Sambil geleng-geleng kepala aku berpikir betapa mengerikannya kehidupan anak muda zaman sekarang. Gardu-gardu pandang di bukit-bukit karang justru menjadi tempat mesum yang sangat mengasyikkan. Hemm, apa pun lah, mesum atau pacaran, intinya ketika dua orang lawan jenis tanpa disertai mahram kemudian berkhalwat (berduaan menyendiri) ya tetap saja itu maksiat. Naudzubillah mindzalik.

Sesampai di masjid, aku menulis beberapa paragraf kisah cintaku hari ini. Cinta yang luar biasa. Tiba-tiba dari belakang aku merasa ada sosok yang berjalan mendekatiku. Aku menoleh dan aku tersenyum agak kaget. Ada sosok yang sangat ku kenal berseragam polisi berpangkat provos. Aku sangat kenal dengan wajah beliau, salah satu jamaah di garda depan yang memakmurkan masjid Agung ketika aku masih di ma’had dahulu. Beliau adalah Pak Suwadi. Aku sapa beliau dengan halus dan bertanya, “masih ingat Pak dengan saya?”. Dengan mantap dan tegas beliau menjawab, masih. Alhamdulillah, ukhuwah yang udah hampir 4 tahun terpisah akhirnya terjalin kembali. Tidak ada yang berbeda antara beliau memakai koko atau pun berseragam polisi. Nahnu duat qobla kulli syai’ tetap beliau jalankan meskipun sedang bertugas.

Dengan suara beliau yang khas, berkumandanglah adzan ashar hingga berhentilah konser dangdut di panggung sebelah yang agak jauh. Aku pandang ke belakang, yah adik-adik belum kembali. Mau SMS tidak ada sinyal. Ah, ya udah, biar saja, aku yakin sebentar lagi juga akan datang. Usai shalat ashar, obrolan pun diteruskan. Masya Allah, beliau ternyata sudah menjalani puasa Syawal di hari kelimanya. Padahal sejak senin beliau bertugas di kawasan pantai Sundak sampai Sabtu. Luar biasa, jadi malu, padahal aku sehari pun belum menjalankan ibadah itu. Hemm, harus segera menyusul.

Kukup nan Exotis

Tak lama kemudian adik-adik sampai di masjid dan segera menunaikan shalat ashar. Dan akhirnya aku mohon diri kepada Pak Suwadi untuk meneruskan perjalanan ke Pantai Kukup. Meskipun sudah terporsir waktu di Sundak, karena kami adalah serombongan laki-laki yang jelas tidak hobi bawa bekal makanan tetapi juga pelit untuk jajan sehingga selama di Sundak ikut-ikutan puasa jajan, namun kami tetap semangat untuk menyaksikan senja di pantai Kukup.

Sesampainya di sana, luar biasa. Pertama kali yang kami datangi adalah para penjual ikan hias di pinggir jalan menuju pantai. Keren-keren ikannya sekarang. Ga rugi deh datang ke sini. Banyak spesies baru yang baru ku kenali, setelah sebelumnya belum pernah mengetahuinya waktu berkunjung ke sana. Sesampainya di sana, seperti biasa aku berpisah dengan adik-adik. Aku meneruskan kebiasaanku “penekan” bukit karang. Dan lagi-lagi pantai Kukup makin elok Eh, tak lama kemudian mereka ikut-ikutan menyusulku karena sebuah SMS ajakanku untuk kembali narsis. Tapi sesampai di atas kami urungkan sesaat sambil mengejek Hendri yang bener-bener kelaparan mengingat hampir sejak pagi tidak ada makanan yang masuk ke perutnya. Wajah dan hidungnya yang memerah menjadi makanan empuk sekelompok pebanyol amatiran. Sabar ya Ndri.

Makan Malam Spektakuler

Sesuai dengan kesepakatan. Untuk mendapatkan harga yang sesuai dengan pesanan kami akan makan setelah sampai di kota Wonosari. Perjalanan pulang pun segera dilakukan sebelum matahari masuk ke peraduannya. Kejar-kejaran dan melawan hawa dingin mengiringi sore hari kami. Hingga akhirnya kami sampai di pinggiran kota waktu shalat maghrib. Segera kami singgah dan menunaikan panggilan-Nya itu. Dan hemm, imamnya luar biasa cepet dah. Belum juga baca sampai separo, main gerak terus aja. Sabar.

Dan ternyata apes, warung padang favorit kami yang cocok untuk kantong remaja plus “kawula tedha” ternyata tidak buka. Ha ha, setelah berdebat cukup alot diputuskanlah makan di warung Sate Kambing Pak Turut. Nekat ke situ karena memang terkenal enaknya, meskipun sebenarnya ketar-ketir juga dengan harganya. Bismillah, makan dah. Tahukah berapa harganya? Karena sewaktu makan daya lahap kami seperti hewan kelaparan sehingga harus menambah nasi 2 kali, jadinya budgetnya membengkak. Makan malam yang paling mewah bagi kami selama jalan-jalan, 25rb per orang. Mungkin bagi yang baru pada pulang dari Jakarta itu kecil, tapi orang-orang desa seperti kami yang buat beli pulsa aja memilih pecahan 5ribuan tentu itu menjadi shock therapy tersendiri. Tak apalah, kapan lagi bisa begini, mumpung masih lebaran.

Demikianlah cerita perjalananku yang tak terlupakan di hari ini bersama adik-adik yang dinantikan menjadi pemuda-pemuda yang shalih. Semoga kelak bisa mengubah masyarakatnya ke depan menjadi masyarakat yang lebih baik, taat pada syariat Islam dan berdedikasi untuk Indonesia.

6 Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.