“Mas, ente di mana?”, tanyaku

“Masih transaksi nih, tunggu bentar”, kata sang Suhu

(Hadew, gimana coba kalo nanti kemaleman dan mobilnya tutup)

Akhirnya dengan gagahnya sang Suhu datang dan menyapaku.

“Ayo segera, aku mau liqo setelah ini”, katanya sembari memboncengku

Akhirnya setelah melalui beberapa belokan kami kembali lagi dengan membawa sebuah Grand Max hitam. Lho motorku kemana? Ditinggal sana lah.

Kisah di atas bukan kisah yang penting. Hanya cerita waktu aku mau ngambil mobil yang disewa. Ha ha ha. Yang inti ini nih. Setelah 2 hari digojlog sampai kuat, akhirnya ada kesempatan untuk mengunjungi Cilacap. Kisahnya bermula dari kakakku yang aneh bin misterius mengirim pesan singkat. “…… Ayahku meninggal dunia ……”, Innalillahi wa innaa ilaihi rojiun, kakakku, sabar ya. Kita semua juga akan mengalaminya. Semoga ada hikmah terbaik dari peristiwa ini.

Akhirnya aku dan teman-teman bersepakat untuk menjenguknya sekaligus silaturahim ke rumah salah satu temanku. Setelah mengajak adik-adik kecilku yang akan jadi calon penerusku, dan mengundang sopir kenamaan, sekaligus sang Suhu organisasiku, Mr. Bery yang keren, perjalanan dimulai dengan kejadian “kesatan bensin”. Lho, bukan apa-apa, bukan yang penting kok ini.

Perjalanan dimulai dengan menembus malam yang gelap dan sepi. Ini memang kesukaan mas Bery, dan kekecutan para akhwat, berjalan super cepat meski tak secepat Mr. Prameks atau Sancaka. Intinya bikin diri harus banyak dzikir. Dan aku sempat tidur (lebih tepatnya tertidur). Hingga sampailah pada sebuah masjid waktu dinihari di perbatasan Cilacap. Setelah singgah sambil menanti shalat subuh, perjalanan kami lanjutkan ke tempat kakak tercinta. Kakakku yang paling aneh dan misterius sepanjang sejarah.

Belajar Kerelaan

Adalah suatu ketetapan Allah bahwa manusia akan mengalami kematian. Demikian pula apa yang terjadi kepada ayah kakakku adalah suatu keniscayaan. Bersyukur aku dikaruniai ayah dan ibu serta kakek nenek yang masih sangat lengkap baik diri sisi ayah maupun ibu. Itu sebuah anugerah yang tak ternilai harganya. Namun aku pasti harus selalu siap bahwa, satu persatu dari mereka akan pergi meninggalkan kami suatu saat. Atau mungkin aku yang justru mendahului mereka, aku pun juga harus lebih siap. Maka momentum ini adalah saatnya aku belajar tentang arti sebuah kepasrahan dan kesiapan diri untuk senantiasa rela dengan ketentuan-Nya.

Ketika mobil ini berhasil parker di depan rumahnya (setelah diawali dengan tanya berkali-kali, maklum rumah beliau cukup misterius juga), aku masih bisa melihat senyum dari wajah kakakku. Luar biasa, spirit dan pikiran positif dari seorang anak yang selalu berbakti kepada orang tuanya. Jasadnya mungkin dah akan bersatu dengan tanah. Tapi semangat dan cintanya tidak akan pernah pudar dari ingatan. Ayah yang baik dan sangat penyayang, demikian cerita kakakku. Aku terharu dan teringat kepada orang tuaku juga. Dan yang membuat aku tidak nyaman, saat keluarga justru menghidangkan sarapan pagi buat kami. Aduh, makhruh deh, makan ditempat orang yang sedang berduka. Agak ragu, namun itu makanan halal, ya Allah, jangan biasakan aku dengan kondisi seperti ini.

Belajar Ideologi

Setelah dirasa cukup, perjalanan kami lanjutkan ke rumah salah satu temanku yang aku ketahui ternyata bersaudara dengan kakakku di organisasi. Haa, telat amat. Dulu kukira mereka adalah kakak-adik dalam status liqoan. Eh ternyata kakak adik beneran. Setelah merasakan nikmatnya dawet ketan ireng, kemudian makan-makan sampai kekenyangan kami lanjutkan perjalanan pulang. Nah, di sepanjang perjalanan itu aku sempatkan tanya-tanya banyak hal kepada sang Suhu sekaligus Sang Sopir. Aku bertanya banyak hal kepada beliau terkait masalah dunia keorganisasian. Memang orang cerdas dan keren, aku mendapatkan jawaban-jawaban yang luar biasa.

Salah satu hal yang kudapatkan adalah tentang negarawan. Aku mendapatkan beberapa definisi tentang negarawan dari beliau, dan pada intinya aku mendapatkan refleksi tentang kenegarawanan itu. Bagiku negarawan itu sikap yang terbaik bagi seorang pejuangan bangsa untuk berkontribusi secara utuh bagi bangsanya, itu seperti kata Bapak Mohammad Natsir. Bolehlah ia menggunakan bendera mana saja, namun yang menjadi titik tekan perjuangan kita adalah untuk pembebasan tanah air dari kemiskinan dan kebodohan, lebih-lebih kemiskinan akhlak dan moral, serta kebodohan dari nilai-nilai Islam. Bagiku, hanya dengan tegaknya akhlak Islam, maka negara ini akan selamat dari kehancuran dan status negara gagal. Dalam hal ini aku tidak begitu merisaukan tentang Pancasila, karena sebenarnya jika dikaji secara sehat, muatan Pancasila itu sendiri adalah refleksi dari ajaran Islam. Bagaimana bisa? Sangat bisa, tapi aku tidak akan mengkajinya di sini.

Dan perjalanan ini bagiku cukup baik untuk kusebut perjalanan ideologisku. Apalagi beliau kemudian menasihatiku agar lebih banyak membaca buku-buku yang bersifat ideologis untuk menguatkan argumentasiku terhadap berbagai kerangka pemikiran yang bersebarangan secara ideology. Aku suka sekali perjalanan ini. Dan akhirnya kami sampai tempat asal dengan selamat, meskipun aku setelahnya harus memacu kembali si kuda besi sejauh 60 km untuk memberikan hak-hak pengajaran buta al-Quran kepada ibu-ibu di rumah. Amazing!!!

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.