Jika hidup di dunia kampus yang sudah terkondisikan, maka segalanya rasanya indah dan penuh dengan kebaikan. Mau ngaji teman-temannya banyak sekali. Mau jadi aktivis juga masih banyak (meskipun sepertinya yang bener-bener mau jadi aktivis makin sedikit). Mau yang baik-baik jumlahnya cukup banyak. Mungkin masih sebanding dengan yang negatif-negatif di kampus.

Lantas bagaimana jika kita berhadapan dengan sebuah realitas sosial yang tidak seperti di kampus? Katakanlah sebuah komunitas yang orang-orangnya saja shalatnya tidak beres. Atau di sebuah kawasan yang pergumulan antara cewek dan cowoknya saja sudah sangat biasa. Tanpa batas dan mungkin juga tanpa hijab. Di titik ini, keaktivisan seseorang akan terlihat apakah dia itu aktivis karbitan atau aktivis sejati. Aktivis karbitan hanyalah orang yang ramai-ramai baik ketika banyak orang baik, tetapi kembali ke dunia aslinya saat bertemu dengan sayup-sayup masa lalunya atau kemudian menjadi makhluk aneh yang sama sekali berbeda dengan di kampus.

Pernah ada celotehan yang keluar dari teman-temanku yang agak-agak error dengan masalah agama. Mereka tidak begitu interest dengan kajian agama, tetapi sebenarnya memiliki perhatian kepada para pelaku agama yang dia alamatkan pada para aktivis. Dia sering nyebut aktivis itu sok jaim. Mereka kelihatan shaleh di kampus, tetapi kalau sudah di luar kampus mereka jadi aneh dan ga jelas. Masa iya? Alhamdulillah aku belum pernah ketemu yang gituan. Ah mungkin itu kata mereka saja. Semua temenku yang di kampus alim-alim juga sepertinya tetap alim kalau di rumah. Semoga mereka tetap istiqomah.

Namun yang jadi masalah adalah, kealiman dan keaktivisan kita dikampus terkadang tidak siap pakai di masyarakat. Kehidupan komunitas atau masyarakat yang jauh dari idealnya kampus, terkadang membuat kita justru gagap dakwah di sana. Kalau tidak kemudian dilabeli sebagai makhluk eksklusif yang disebut kaum yang tidak bisa bergaul. Karena bahasanya tidak nyambung dengan masyarakat. Kosa katanya jadi elit bak manusia langit. Dan terkadang “sok punya program” untuk mengentaskan permasalahan masyarakat. Ujung-ujungnya terkadang mahasiswa itu jadi bahan tertawaan masyarakat karena ketidakmampuan mereka berinteraksi dengan obyek baru yang sangat independent dan unpredictable.

Jadi aku sementara ini berpikir bahwa, aktivis di kampus hari ini punya masalah yang sering tidak mereka permasalahkan. Yaitu masalah kesenjangan. Yah, tidak hanya kesenjangan intelektual, tetapi juga kesenjangan komunikasi, kesenjangan cara pandang, dan kesenjangan bergaul. Memang sebenarnya banyak juga sih aktivis-aktivis yang out of the box. Tetapi jika dibandinkan dengan yang tidak, lebih-lebih yang berlabel “aktivis dakwah”,  jumlahnya masih terlalu sedikit. Bukan bermaksud menjustifikasi, namun perlu diingat bahwa upaya dakwah dan perbaikan itu adalah menyentuh segala sisi lapisan masyarat. Tugas kita adalah memberitakan kebaikan dan menyampaikannya kepada orang sebanyak-banyaknya. Jika ada yang tertarik maka follow up-i dengan intensif, bagi yang belum tetap saja diajak, toh mereka adalah bagian dari teman-teman hidup kita.

Kesenjangan hidup kita hari ini menguji. Apakah kita mau menjadi manusia yang inklusif atau justru semakin eksklusif. Urusan akhirat kita memang tanggung jawab masing-masing. Namun bukankah menyemai bibit kebaikan itu adalah cara tercepat dan terproduktif untuk melipatgandakan fasilitas akhirat nanti. Semoga Allah meneguhkan setiap orang yang hari ini telah berikrar menjadi aktivis.

4 Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.