Kategori
Resensi Film

Film 99 Cahaya Di Langit Eropa, Kritik & Inspirasinya

Ceritanya hari ini adalah agenda pekanan dengan adik-adik. Tapi sepertinya harus ada hal baru yang perlu dimunculkan untuk membuat suasana baru. Apalagi ini lagi ada satu film baru lagi yang menarik untuk ditonton bersama, 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2. Yang Part 1 sudah aku tonton bersama sahabat terbaikku di kampus.

Jadilah aku memesan beberapa tiket untuk adik-adikku (tapi bukan nraktir ya). Kami malam ini akan menonton bersama film 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2. Tidak seperti yang Part 1, aku belum membaca bukunya sama sekali. Tetapi kemarin aku baru saja menyelesaikan seri bukunya, dan baru tahu bahwa ada banyak gubahan di filmnya. Tentu saja masuk akal, karena film harus ada plot yang lebih nendang, sekaligus menyesuaikan kondisi lapangan.

Bagaimana dengan yang part 2 ini? Ha ha, sama, dan bahkan lebih distortif. Tetapi lagi-lagi kita harus sadar, ini adalah pengalaman pribadi perjalanan dua anak manusia yang tentu saja mengandungi unsur benar dan salah. Apa yang kita tonton bukanlah semua hal yang harus dibenarkan. Itulah pentingnya nilai yang seharusnya tertanam lebih dulu sehingga kita tidak menjadikan tuntunan sebagia tontonan. Kesan yang kurasakan lebih untuk menikmati keindahan kota-kota di Eropa seperti Cordoba dan Istanbul.

Dengan segala kekurangannya, film ini mampu menyajikan hal yang menarik untuk disimak dan direnungkan. Sisi kebijaksanaan bagaimana berdakwah adalah pelajaran berharga. Mari kita ingat bahwa setiap orang yang hidup itu punya kesempatan untuk menjadi baik. Ketika kita melihat sahabat muslimah kita belum berjilbab dengan benar, maka tidak ada alasan kita membencinya. Bahwa dia belum berjilbab maka kita tidak pernah membenarkannya, tapi bukan berarti kita seenaknya memaksakannya. Begitu pula untuk syariat Islam yang lain.

Maka dalam kehidupan negara yang telah menjalankan syariat Islam, kesenjangan antara pengajaran ulama yang berhikmah dengan aturan yang tegas oleh negara seringkali dimanfaatkan oleh orang-orang sekuler melalui media-medianya untuk memicu pemberontakan. Itulah mengapa jika ada yang gembar-gembor teriak syariat tetapi tidak memikat hati masyarakat untuk ber-Islam justru berbalik menjadi bahan tertawaan. Bahwa kita mengejar sebuah kekuasaan untuk umat Islam itu adalah hal yang penting dan sama pentingnya kita mengedukasi masyarakat Islam untuk mengetahui pokok-pokok ajaran Islamnya. Lebih bagus lagi seperti yang telah dilakukan Imam Shamsi Ali, membuka kelas diskusi untuk non Muslim di AS sehingga mereka menjadi mengerti tentang keindahan Islam ini.

Akan tetapi jihad dengan pena tidak berarti menggugurkan jihad fisik kita. Hari ini kita dalam suasana ghazwul fikr (perang pemikiran) maka kecerdasanlah yang kita gunakan. Menggunakan kekerasan fisik karena tidak mampu menahan emosi akan memperburuk citra Islam. Maka ini hanyalah sebentuk jihad terbaik yang bisa kita lakukan untuk kondisi negeri dan masyarakat yang damai. Berbeda dengan saudara-saudari kita yang ada di Palestina, mereka melakukan kedua jihad itu untuk meraih kemuliaan. Maka mari tahu diri, tahu tempat, lalu lakukan yang terbaik untuk menyusul mereka yang telah syahid baik di medan jihad atau dalam tugas mulia ini.

Kategori
Resensi Buku

99 Cahaya Di Langit Eropa, Perspektif Jihad Agen Muslim Di Era Globalisasi

99 CahayaMendengar kata Eropa disebut, kenanganku langsung kembali ke bulan Desember di tahun 2012. Saat dimana aku yang hanya pemuda desa ini bisa terbang bersama Etihad Airways menuju sebuah kota di Jerman, Dusseldorf. Menikmati kehidupan Eropa asli di sana. Berpetualang ke kota-kota, hingga ke Paris dan Amsterdam di luar Jerman. Namun aku menyesalkan satu hal ketika itu, tidak membeli dan membaca catatan perjalanan Hanum dan Rangga, 99 Cahaya di Langit Eropa.

Akhirnya hari ini khatam juga buku yang mirip novel tetapi berisi kisah nyata itu. Buku yang ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais, putri tokoh reformasi Indonesia, Amien Rais itu bersama suaminya, Rangga Almahendra rupanya menjadi inspirasi bagi banyak orang yang ingin berlibur ke Eropa. Kota Vienna Austria, Paris di Prancis, Granada dan Cordoba di Spanyol, serta Istanbul di Turki adalah kota yang dikunjungi oleh Hanum dan Rangga sekaligus dari keempat kota itulah dia mendapatkan kawan hebat yang memberikan penjelasan tentang jejak-jejak Islam yang masih bisa di kenal di benua Biru itu.

Tentu saja aku banyak menyetujui hal-hal yang ditulis oleh Hanum dan Rangga. Jika Sahabat pernah merasakan kehidupan yang cukup lama dan berinteraksi langsung dengan masyarakat Eropa, kita akan merasakan suasana minoritas. Tidak pernah mendengar azan lagi berkumandang bersahutan seperti di negeri dan berbagai kenikmatan ber-Islam sebebas negeri ini. Dari rasa empati itulah kita akan tumbuh sikap terbaik untuk menjadi agen muslim yang mengedepankan Islam sebagai Rahmatan lil ‘alamin.

Masyarakat Eropa bukanlah masyarakat yang sepenuhnya rusak dalam sistem. Gambarannya begini, mereka itu adalah masyarakat yang umumnya ramah, suka menolong dan tidak suka mengganggu urusan orang. Mereka sangat menghargai kebebasan berpendapat dan tidak segan-segan untuk menuntut saat kebebasannya terusik. Mereka terbiasa menaati peraturan baik diawasi ataupun tidak. Mereka juga terbiasa dengan sistem sosial dimana contoh di Jerman, seorang yang single gajinya dipotong 40 % untuk pajak dan uang solidaritas (saat ada pengangguran atau kondisi terburuk di industri), ketika sudah menikah dan punya anak porsi potongannya berkurang secara proporsional. Hanya, kebiasaan minum-minum dan bercinta layaknya hewan itulah yang membuat mereka rusak secara individu. Yang tidak begituan? Ya ada dan mungkin juga banyak jumlahnya.

Apa yang kurang? Mereka kurang mendapatkan cahaya iman. Bahkan kepercayaan lama mereka tak lagi menjadi jalan hidup. Jika di sini masjid sepi, sama di sana katedral sepi. Maka tak heran ketika sebagian mereka tersentuh dakwah Islam, mereka bisa ber-Islam dengan lebih antusias, bersemangat, dan lebih berkualitas dari kita yang menjadi muslim karena warisan orang tua. Maka ketika hidup di negeri yang seperti ini, kita bisa menampilkan diri kita benar-benar sebagai agen muslim yang baik.

Kisah yang ditulis oleh Hanum dan Rangga bisa menjadi contoh bagaimana mereka berdua dan beberapa rekan muslim berusaha menjadi agen muslim yang baik. Tak terkecuali Hanum yang awalnya tidak berjilbab akhirnya kini mulai menutup kepalanya. Bukan karena dibiarkan ayahandanya, Amien Rais tetap tidak berjilbab, karena Hanum sendiri mengakui dalam buku yang ia tulis tentang ayahnya bahwa Amien Rais selalu mengingatkan Hanum, namun tidak memaksa apalagi mengintimidasi.

Seringkali kita memandang gebyah uyah atau menggeneralisasi tentang orang yang berpaham liberal atau sekuler. Dalam kesaksian yang ditulis oleh Pak Yusuf Maulana dalam buku “Tong Kosong Indonesia Bunyinya“, nyata bahwa para pemikir Islam liberal di negeri ini sejatinya juga bukan liberal tulen, mereka agen yang butuh biaya hidup namun memilih mengorbankan agamanya. Mereka realistis berbuat itu karena tawaran uang. Nah, apalagi yang tidak berkaitan dengan itu, hanya karena pernah tinggal di negara barat dan punya pendapat dengan gaya khas intelektual barat lantas langsung dicap liberal tanpa dikaji dulu dengan cermat.

Di Indonesia, kebiasaan membaca yang rendah, kebiasaan berdiskusi yang tidak fair membuat kita mudah menjadi picik. Ujung-ujungnya ktia mudah menghabisi orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan. Ah sudahlah, aku tidak berselera dengan orang-orang yang seperti itu. Kalaupun bermualah, mending urusan bisnis atau yang lain ketimbang diskusi, karena sejak awal sudah tidak terbiasa fair, memaksakan diri, dan tak jarang mengumpati di kemudian hari.

Jika Sahabat belum membaca buku tersebut, saya rekomendasikan untuk membaca. Minimal sebagai touring khayalan ke Eropa sebelum suatu saat bisa datang ke sana betulan. Tapi tentu saja, ada tempat yang lebih menarik bagi kita setiap muslim, dan itu pun menjadi mimpiku, yakni dua tanah haram, Makkah dan Madinah. Semoga dalam waktu dekat ini aku bisa mewujudkannya.