Kategori
Resensi Film

Red Cliff, Inspirasi Kepemimpinan Adil dan Arti Kehormatan Sebuah Perang #8

Perjuangan itu Membutuhkan Pengorbanan

Saat angin berbalik arah, maka segeralah pasukan Wu menyerbu bersama para pemimpin terbaik mereka, Raja Sun Quan, Panglima Agung Zhou Yu, Jenderal Gan dan yang lainnya. Zhuge Liang pun segera menghidupkan lampion dan raja Liu Bei membuka rahasianya setelah ketika panglima setianya terus mendesak meminta kembali bergabung ke aliansi. Yah semua hadir di saat yang tepat. Pasukan Wu telah berada di puncak semangat mereka untuk bertarung sampai mati karena mereka tidak berharap lagi ada pasukan bantuan setelah pemutusan aliansi. Pasukan Shu yang dipimpin oleh Liu Bei juga gerah karena rasa solidaritas mereka di puncak melihat rekan-rekan mereka telah bertempur membela tanah air mereka. Dua semangat yang berkobar, bergabung, dan itulah saat kemenangan datang.

Kapal Cao Cao yang begitu banyak itu ludes terbakar karena angin yang berpihak kepada pasukan Wu. Kapal itu cepat ludes terbakar karena semua kapal diparkir dan ditambatkan jadi satu (mirip kebakaran rumah di Jakarta). Pasukan Cao Cao yang besar itu pun akhirnya tak mampu membendung serangan dari laut dan darat yang bersamaan. Dari laut pasukan Wu terus menyerang, dan dari darat pasukan Shu mendukung serangan. Cao Cao yang tersadar dari kenikmatannya pun hanya terperangah melihat kehancuran yang ada di depan matanya. Akhirnya kekalahan itu pun terjadi.

Saat-saat yang genting, Xiao pun hendak dibunuh para jenderal Cao Cao yang marah karena menganggap kekalahan mereka akibat si wanita itu. Zi Long dari Shu pun menunjukkan kepiawaiannya sekaligus membalas budi Zhou Yu yang menjadi tameng hidupnya di pertempuran formasi kura-kura saat anak panah akan menembus dadanya. Xiao pun berhasil diselamatkan. Namun malang bagi Shangxiang, karena rekannya yang menjadi kepala batalion pemanah pasukan Cao Cao akhirnya terbunuh saat dirinya berusaha menyelamatkannya. Zhou pun berkata bahwa di pertempuran ini tidak ada pemenangnya.

Begitulah, hakikat pertempuran hanyalah sebuah aktualisasi, karena sebenarnya yang akan merasakan kemenangan itu atau tidak, kitalah masing-masing yang menjadi pelakunya. Maka tak mengherankan jika para sahabat memberikan kesan pada peperangan yang mereka ikuti bersama Rasulullah, bahwa peperangan yang paling berat bukanlah saat mereka mengayun pedang melawan musuh, tetapi menguasai diri sendiri agar selalu lurus di jalan Allah ketika berperang. Sebagai mana Ali radhiyallahu anhu hendak membunuh salah seorang musuhnya, namun karena snag musuh meludahi mukanya dia justru membebaskannya. Ketika ditanya alasannya, Ali berkata bahwa dia khawatir membunuh musuhnya bukan karena jihad fii sabilillah tetapi karena rasa marah akibat ludahan di wajahnya.

Luo Guan Zhong hanyalah seorang penulis yang ingin membangkitkan rakyat China ketika mereka berjuang menggulingkan dinasti Mancu yang menguasai China. Bagi Luo, seharusnya dinasti Han lah yang berhak berkuasa atas negeri Tirai Bambu itu. Liu Bei, Zhuge Liang dan kisah-kisah dicerita itu bukanlah fiktif, mereka memang pahlawan dinasti Han di zaman dulu yang kini tetap diagungkan masyarakat melalui kuil-kuil yang dipersembahkan untuk mereka.

Bagaimana denganku? Bagaimana dengan kalian wahai para aktivis? Shirah nabawiyah, sahabat dan shahabiyah, dan para khalifah adalah kisah terindah dalam kepemimpian Islam. Tentang nama-nama yang menyejarah itu, sudahkah kita ikuti petualangannya? Jangan sampai kita berkata belum, di tengah label dan gelar yang mentereng itu tapi hakikatnya kita orang yang berpikiran sempit yang hanya kenyang karena suapan senior dan orang tua.

Jam 1 malam, agenda nonton bareng pengganti lingkaran inspiratif itu pun berakhir.

Kategori
Resensi Film

Red Cliff, Inspirasi Kepemimpinan Adil dan Arti Kehormatan Sebuah Perang #7

Wanita, Potensi Kemenangan sekaligus Pelemah

Xiao Qiao adalah puteri cantik yang kini menjadi isteri Zhou Yu. Kecantikan Xiao ada dalam lukisan yang dipasang di kamar Cao Cao. Rupanya itulah yang menjadi salah satu motivasi ambisius Cao Cao menaklukkan wilayah selatan. Karena wanita.

Bagi Zhou Yu, Xiao Qiao adalah isteri yang menguatkan perjuangannya. Meskipun pada awalnya Xiao menolak suaminya kembali berperang, tetapi di akhirnya dirinya lah yang kemudian selalu mendukung perjuangannya, menyiapkan teh di saat dirinya berlatih pedang, dan bercumbu dengannya (duh mesranya, jadi pengin).

Shangxiang yang berhasil pulang dengan selamat berhasil membuat peta seluruh pertahanan Cao Cao setelah di sana ia menyamar menjadi prajurit laki-laki yang pendek dan mampu bersahabat dengan salah satu komandan batalion pemanah yang sangat lugu namun berdedikasi. Kunci kemenangan ada di serangan laut, namun angin saat ini berpihak kepada Cao Cao. Namun, bukan Zhuge namanya kalau tidak kenal karateristik alam di sungai Yang Tze. Dia mengatakan bahwa awan hitam menjadi tanda bahwa angin akan berbalik arah pada 2 hari kemudian. Jadi pasukan Wu akan menang jika Cao Cao menunda penyerangannya selama 2 hari ke depan.

Xiao Qiao yang ikut menguping pembicaraan strategi itu, akhirnya dirinya nekat datang kepada Cao Cao. Meskipun itu menjadi kesedihan mendalam bagi Zhou Yu, namun ternyata itu adalah hal terbaik untuk melenakan Cao Cao dan menunda serangan. Kecantikan Xiao yang seperti tergambar dalam lukisan yang selalu di bawa Cao Cao membuatnya tersihir dan lebih membuatnya menikmati kecantikan sang wanita itu dari pada segera memerintahkan pertempuran. Xiao yang memohon kapada Cao Cao untuk menghentikan serangan demi rakyat Wu berhasil membuat Cao Cao menunda serangan. Dan itulah yang sejatinya diinginkan pasukan Wu.

Begitulah, wanita itu terkadang menjadi penyemangat, sekaligus pelemah. Laki-laki yang kebanyakan tergila-gila sama wanita pasti jadi laki-laki yang lemah. Sebaliknya, mereka yang selalu menjaga prinsip pergaulan dan mampu menjadikan wanita sebagai penyemangat hidupnya (ketika sudah menjadi istri) maka dia akan semakin tegar dan mantap melangkah. Contohnya lihat tuh Habibie, atau yang dekat murabbi ku saja deh. Hehehe

bersambung ….

Kategori
Resensi Film

Red Cliff, Inspirasi Kepemimpinan Adil dan Arti Kehormatan Sebuah Perang #6

Sikap Tanggung Jawab yang Luar Biasa

Putusnya aliansi itu menjadi penyulut kesombongan Cao Cao yang sekaligus meningkatkan kelemahannya, yaitu dia semakin lengah. Bahkan keberadaan dua admiral laut yang sesungguhnya menjadi kunci kemenangan Cao Cao seandainya ia tak membuat kesalahan sendiri, hanyalah sebuah kesia-siaan. Dua admiral laut yang sangat ulung dalam navigasi dan mengerti kondisi alam sungai Yang Tze itu adalah musuh bebuyutan kerajaan Wu, yang artinya adalah pasukan yang paling bagus untuk menghancurkan pasukan Wu yang telah ditinggal sekutunya. Namun itulah takdir, kesombongan tidak akan pernah sama sekali membawa kemenangan.

Ketika Sun Quan bertanya kepada Zhuge Liang apakah dia ingin ikut berkhianat? Zhuge Liang berkata, dirinya yang memulai aliansi ini, maka dia berjanji sebagai jaminan kerajaan Shu untuk tetap bersama sampai pertempuran itu berakhir. Dengan keterbatasan pasukan dan peralatan perang yang ada, maka Zhuge Liang akhirnya membuat sensasi dengan membuat taruhan antara dirinya dan Zhou Yu, yang kalah maka dipenggal kepalanya. Bahkan para jenderal di negeri Wu begidik menyaksikan pertaruhan dua sahabat yang sangat dekat itu. Mereka bersepakat dalam senyum optimis yang dijawab oleh senyum kecut para jenderal yang lain.

Zhuge Liang bertaruh bahwa dia dapat mengumpulkan 100.000 anak panah dalam 10 hari ke depan. Sedangkan Zhou Yu bertaruh bahwa dirinya akan memenggal kepala dua admiral laut yang menjadi musuh bebuyutan Wu yang kini telah tunduk di bahwa perintah Cao Cao. H-1, Zhuge Liang masih santai dengan kebiasaannya merenungi dan mengamati alam. Sahabat karibnya yang menjadi penghubung diplomasi waktu di awal justru yang khawatir kalau-kalau Zhuge gagal dan dipenggal kepalanya. Namun apa yang terjadi? Ternyata dia mengetahui bahwa di hari ke sepuluh ada kabut tebal yang akan memisahkan karang merah dengan kapal-kapal Cao Cao yang sudah mangkal dan siap menghancurkan. Zhuge Liang membawa banyak kapal yang dilapisi jerami dan orang-orangan dengan pasukan pemanah terbatas. Mereka memberi sinyal serangan yang disambut oleh Admiral Zhang Mai dkk untuk menghadang. Dalam kondisi berkabut, pasukan Zhuge cukup melepaskan anak panah sekali. Pasukan Mai yang besar akhirnya membalasnya dengan ratusan ribu anak panah. Dan itulah, kecerdasan Zhuge Liang menjawab masalah yang sangat mengerikan dengan aksi sederhana. Karena ratusan ribu anak panah telah menempel cuma-cuma di kapal mereka. Tinggal pulang dan dicopoti, masalah selesai.

Bagaimana dengan Zhou Yu? Dia menggunakan kebiasaan masa mudanya ketika hobi dugem dengan sahabatnya yang kini jadi anak buahnya Cao Cao untuk membuat sandiwara. Pada akhirnya sandiwara itu mampu membuat sahabatnya itu menemukan surat yang tulisannya sama persis dengan tulisan Mai. Surat itu menceritakan pengkhianatan mereka kepada Cao Cao. Momentum yang tepat di hari ke sepuluh itu, saat Zhang Mai pulang dari menyetorkan gratis anak panah (persis seperti kisah dalam surat yang terlanjur di baca Cao Cao) langsung disambut dengan senyum Cao Cao yang mirip Pak Harto waktu jadi presiden dulu. Kepulangan Mai yang diikuti satu kapal skoci berisi jerami dan ratusan anak panah yang menempel membuat Cao Cao tak berpikir panjang untuk mengeksekusi dua admiralnya yang terduga (namun belum terbukti berkhianat). Dasar orang yang tidak pernah percaya pada orang lain, maka bukti surat kecil itu sudah membuatnya cepat memutuskan sesuatu yang akan menjadi kerugian besar baginya.

Sesaat setelah itu, salah satu jenderalnya berkata, kalo admiralnya di bunuh, siapa yang mengenal baik kondisi pelayaran sungai Yang Tze. Baru saja Cao Cao menoleh untuk menghentikan eksekusi itu, kedua admiral itu telah kehilangan kepalanya. Nahas bagi Cao Cao, yang akhirnya lagi lagi ia melemparkan kekesalannya dengan meracun sang diplomat temannya Zhou Yu yang kini sedang menjilat di bawah kekuasaannya.

Hal yang kembali menegangkan terjadi saat Zhuge Liang asyik mengajarkan senjata baru buatannya kepada prajurit Wu, ternyata hitungan anak panahnya kurang empat ratus buah dari target yang dijanjikan. Melihat hal itu, sahabat diplomat yang dari negeri Wu melobi ke Zhou Yu untuk meringankan hukuman. Masak kurang empat ratus doang ga ditoleransi, persis kayak pemimpin kita yang ga bisa menepati janji. Namun setelah beberapa waktu, beberapa prajurit menyusul dengan anak panah tambahan. Sang diplomat marah-marah kepada mereka dan merasa lega karena Zhuge, sahabatnya yang jenius tak jadi mati. Zhuge balik bertanya ke Zhou Yu tentang perkembangan janjinya, Zhou Yu yang belum mendapat kabar apa pun mempersilahkan dia memenggal lehernya. Kali ini yang ketakutan jenderal-jenderal bawahannya. Belum sempat Zhuge melanjutkan eksekusinya, seekor merpati datang membawa kabar bahwa dua panglima kunci kemenangan Cao Cao telah dipenggal. Rupanya Zhuge Liang memang cerdik menempatkan mata-mata yang tidak lain adalah adiknya Sun Quan yang tomboi, Sun Shangxiang di pertahanan Cao Cao. Cerdas! Diplomat dan sang Jenderal tak mengerti dengan dua orang yang luar biasa itu. Aku terkesan dengan tanggung jawab besar mereka sebagai pemimpin dan orang – orang yang telah berjanji.

bersambung ….

Kategori
Resensi Film

Red Cliff, Inspirasi Kepemimpinan Adil dan Arti Kehormatan Sebuah Perang #5

Berperang Secara Terhormat

Dalam kisah peperangan itu, terjadi pula hal yang mengagumkan tentang arti kehormatan sebuah perang. Suatu ketika, kondisi pasukan Cao Cao terserang wabah penyakit yang parah. Sebenarnya kondisi ini adalah kondisi terbaik jika saja pasukan aliansi mau menghabisi mereka yang sedang turun moralnya. Tapi apa yang dikatakan Zhou Yu dan Liu Bei? Perang ini adalah perang terhormat, kita harus bermain fair.

Aku geleng-geleng kepala dengan hal ini. Yah, inilah perang yang mewarisi tradisi kehormatan perang seperti halnya yang diajarkan oleh Rasulullah ketika memimpin perang-perang kaum muslimin yang kemudian dilanjutkan para penguasa/khalifah setelahnya. Dalam dakwah Islam maka para penguasa negeri lain itu dikirimi utusan dan ulama untuk mengajarkan Islam. Jika mereka mau bersahabat maka Islam pun memperlakukan mereka secara terhormat. Jika mereka mau ber-Islam maka mereka menjadi bagian dari kaum muslimin. Jika mereka menolak tapi tidak menyatakan permusuhan, maka kemudian ada perjanjian aliansi yang disepakati bersama. Barulah yang nyata-nyata berkhianat atas perjanjian itu atau sejak awal menyatakan perang, maka pasukan kaum muslimin akan merebut kekuasaan itu untuk rakyat mereka. Dan itulah mengapa kaum muslimin di masa keemasannya selalu dimenangkan oleh Allah dalam pertempuran, karena kehadiran mereka sebenarnya telah dinantikan rakyat yang ada di negeri itu setelah sebelumnya mereka ditindas oleh penguasa mereka. Mereka hanya melunasi janji Allah untuk menguasakan orang-orang yang beriman di muka bumi.

Kurang ajarnya Cao Cao, orang-orang yang mati karena wabah penyakit itu justru dikirim ke kawasan wilayah aliansi yang menyebabkan wabah baru. Itu salah satu sikap busuk seorang musuh yang tidak punya moral. Namun, Liu Bei tak kurang siasat meskipun sempat membuat ketegangan. Dengan momentum itu dan disamping tidak dipungkirinya rasa ketakutan besar pasukan aliansi ketika melihat kapal yang seolah tak terhingga banyaknya siap menghancurkan karang merah tempat kekuatan terbesar aliansi dua negeri itu. Liu Bei menyatakan pemutusan aliansi dan menarik seluruh pasukannya secara sepihak, tanpa pertimbangan tiga panglimanya atau pun dengan para pejabat Wu. Hal ini sempat membuat suasana tegang, tapi Liu Bei rupanya membisikkan sesuatu kepada Zhuge Liang tentang arti kekuatan bertahan. Zhuge Liang pun mengerti dalam konteks bahasa yang hanya sanggup mereka pahami berdua.

Dan lagi-lagi Zhou Yu yang cerdas, dia pun mengerti apa yang dilakukan Liu Bei tanpa harus bertanya, mengapa begitu? Di kemudian hari, saat moral pasukan Wu sudah di puncak perjuangan mereka, pasukan Shu yang juga terbakar semangat solidaritasnya akhirnya bersatu kembali menjadi kekuatan yang mengerikan untuk menghabisi seluruh kekuatan Cao Cao yang jumlahnya berkali-kali lipat banyaknya.

Tingkah Cao Cao itu mungkin potret nyata realitas politik negeri kita yang hobi culas dan suka menjatuhkan orang lain. Tak banyak orang yang bisa bersikap tegar dan bertanggung jawab seperti Zhuge Liang lantaran dirinya menjadi jaminan kepala atas aliansi yang putus itu. Tak banyak orang yang bersikap bijak seperti Zhou Yu untuk membaca taktik yang sangat rumit dan mendalam itu. Di negeri kita banyak yang mudah meletup karena perbedaan sepele. Buru-buru bikin lapak di web atau membuat buku untuk menyerang orang lain, serang orang per orang atau golongan yang sebenarnya sama benderanya. Bukan kebenaran yang akan terbuka, karena semuanya sama-sama sakit hati dan merasa dipermalukan. Yang ada adalah musuh mengerti simpul kelemahan kita yang bisa diobok-obok untuk dirusak. Nah, di tubuh umat Islam sendiri hari ini pun sepertinya sikap itu menjadi sulit ditemukan.

bersambung ……

Kategori
Resensi Film

Red Cliff, Inspirasi Kepemimpinan Adil dan Arti Kehormatan Sebuah Perang #4

Jangan Meremehkan Hal Sepele

Pelajaran lain yang berharga dalam pertempuran pasukan Cao Cao dengan aliansi Shu-Wei itu adalah jangan menjadi sombong saat di atas angin. Pasukan darat Cao Cao yang sangat besar akhirnya habis dilumat pasukan aliansi itu berkat ide cemerlang Zhuge Liang yang menerapkan formasi kura-kura yang sebenarnya sudah kadaluarsa. Ketidakwaspadaan mereka menjadi kuburan bagi mereka sendiri akhirnya ketika Zhou Yu dan pasukannya berhasil melibas pasukan darat yang begitu banyak itu.

Di sisi lain, penggunaan strategi yang kadaluarsa sebenarnya juga sebuah pilihan cerdas atas berbagai pertimbangan yang matang pada banyak hal. Zhuge Liang yang paham medan pertempuran dan Zhou Yu yang sangat mengenal karater Cao Cao karena sebenarnya penyerbuan Cao Cao ke selatan salah satunya untuk merebut istrinya yang cantik membuat pilihan strategi itu sangat pas untuk kebutuhan pasukan mereka yang terbatas melawan pasukan yang besar.

Maka sebenarnya di sini kecerdasan manajerial, kemampuan SDM, dan kekompakan kerja lah yang menjadi kunci keberhasilan. Negeri kita yang sudah lebih kapitalis dari pada negeri yang dikatakan kapitalis (berdasarkan pengalaman hidup sendiri dan cerita kawan-kawan yang tinggal di negeri kapitalis, justru para elit Indonesia yang lebih kapitalis dari elit negeri kapitalis, karena pemerintahnya masih hobi korupsi, pengusahanya pelit untuk berbagai tanggung jawab sosial, tapi kalau sudah urusan eksploitasi mengerikan luar biasa) saat ini sangat membutuhkan sentuhan itu. Alih-alih pendidikan kita semakin modern dengan fasilitasnya, tapi kita telah benar-benar lupa dengan pesan Ki Hajar Dewantara. Alih-alih kita siap menuju pasar bebas, kita melupakan pesan ekonomi Bung Hatta dan kemandirian Bung Karno. Apakah kita ingin game over lebih cepat? Itu adalah bagian masa lalu yang sebenarnya menjadi suara hati bangsa kita, tapi entahlah, elit sekarang itu inginnya untuk diri sendiri atau bangsanya. Woles aja lah.

bersambung ….

Kategori
Resensi Film

Red Cliff, Inspirasi Kepemimpinan Adil dan Arti Kehormatan Sebuah Perang #3

Kebijaksanaan Panglima Militer

Di sisi lain, Zhou Yu juga sangat keren dalam mendidik moral pasukannya. Ketika dia bersama panglima bawahannya, Jenderal Gan mengadakan latihan militer. Tiba-tiba ada seorang anak dan kakek pengembala kerbau yang mendekati latihan itu. Sang anak memainkan seruling untuk memanggil kerbaunya. Melihat hal itu, Zhou Yu mendekati anak itu (mungkin karena merasa terganggu). Tiba-tiba dia meminta seruling itu. Si anak sempat takut karena Zhou mengeluarkan pisaunya. Tapi ternyata itu untuk memperbaiki lubang seruling. Sehingga ketika si anak memainkannya lagi nadanya lebih indah dan dengan kecerdasannya, Zhou Yu menemukan bahwa anak tersebut sedang sedih karena ada sesuatu yang hilang dari dirinya.

Mendengar pengakuan kakek bahwa kerbau mereka hilang di sekitar barak militer, maka Zhou Yu segera berkeliling. Dengan cepat dia melihat tiga kaki yang kotor dalam kubangan lumpur. Dan jelas sekali bahwa ketiganya lah yang bermain ke kawasan penduduk dan membunuh kerbau itu. Namun apa yang dilakukan Zhou? Dia tidak langsung menuduh ketiga prajuritnya tersebut. Dia mengulangi 3 kali pertanyaan dan meminta para prajuritnya mengaku. Tak ada yang mengaku. Karena hukuman atas pengakuan itu adalah kematian. Akhirnya dia justru meminta seluruh batalion yang kedapatan tiga orang kotor kakinya tadi berlari dan memasuki lumpur sehingga semua batalion kakinya kotor semua. Dia hanya berpesan bahwa hari ini dia memaafkan dan memberi kesempatan kedua.

Jenderal Gan dan panglima Zhou Yu justru bersujud meminta maaf kepada sang kakek dengan membawa kerbau yang lebih besar untuk menggantinya. Sikap ini kemudian membuat seluruh prajurit yang ada di latihan militer itu langsung bersujud seperti para pemimpinnya. Di kemudian hari, ketiga prajurit yang dimaafkan ini menjadi prajurit yang sangat gigih dalam peperangan. Sebuah keteladanan yang agung, yang kini mungkin menjadi barang langka dalam praktik kepemimpinan di negeri kita. Sang kakek bingung dengan semua itu. Kemurahan penguasa yang membuat rakyatnya setia kepada penguasa mereka.

Berkat kerja keras Zhuge Liang, akhirnya Zhou Yu dan adiknya Sun Quan, Sun Shangxiang pun menjadi salah satu pendorong bagi Sun Quan untuk bersekutu dengan Liu Bei. Terlihat sekali dalam film itu tingkah para anggota Hewan yang hanya sibuk mengeruk keuntungan dari kemakmuran menjadi gentar dan menangis atas keputusan raja mereka untuk terjun berperang membela tanah air mereka dalam serbuan Cao Cao. Aliansi yang di pimpin oleh Zhou Yu pun terjadi.

bersambung …

Kategori
Resensi Film

Red Cliff, Inspirasi Kepemimpinan Adil dan Arti Kehormatan Sebuah Perang #2

Potret Negarawan Sejati

Dan tentu saja, Liu Bei menjadi raja yang hebat karena dia bersanding dengan penasihatnya yang sangat jenius lagi ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan, Zhuge Liang. Sosok tampan lagi kalem, namun berotak cemerlang ini ternyata menjadi salah satu pemantik optimisme di tengah kondisi yang serba kritis mengingat arogansi Cao Cao dengan 800 ribu pasukannya yang dikerahkan untuk membantai negeri-negeri selatan. Kekuatan yang sedikit tetapi bermoral tinggi akan mampu menaklukkan ratusan ribu pasukan itu.

Dengan kejeniusannya, Zhuge Liang berhasil menjalin aliansi dengan penguasa negeri Wu, Sun Quan. Zhuge Liang memberikan suntikan aroma kenegarawanan yang indah ditengah busuknya tingkah laku para anggota Hewan (maaf anggota Dewan) dari kerajaan Wu yang menolak adanya perang. Cara diplomasi yang cerdik dan gigih membuat Sun Quan mulai tertarik untuk bergabung dalam aliansi yang dia rancang dalam rangka menghadapi gempuran si ambisius Cao Cao.

Belajar Menjadi Seorang Diplomat dari Zhuge Liang

Dari kecerdikan Zhuge Liang kita bisa belajar bagaimana seorang diplomat itu hendaknya menguasai ilmu yang banyak untuk mengambil banyak peluang yang bisa memberikan kemanfaatan. Zhuge Liang adalah sosok yang multitalent. Dalam sastra, jangan ditanya. Dalam ilmu alam, luar biasa. Dalam bidang arsitektur dan militer, luar biasa. Bahkan ternyata dalam hal yang sederhana seperti masalah persalinan hewan pun dia mengerti.

Maka ketika salah satu kuda yang begitu disayangi Xiao Qiao, istri Zhou Yu, panglima agung negeri Wu, tak bisa beranak karena ada masalah di bayi kudanya yang salah posisi, momentum itu tidak dia sia-siakan untuk memberikan bantuan sehingga membuat orang terpenting nomor dua di negeri Wu itu terkesan dan mau membuka jalinan persahabatan dengan Zhuge Liang. Saking mengagumkannya, ajakan Zhuge Liang kepada Zhou Yu untuk bersekutu dia sampaikan dalam komunikasi musik kecapi yang mereka mainkan masing-masing. Sahabat Zhuge yang juga diplomat dari negeri Wu sendiri bahkan geleng-geleng kepala tak mengerti dengan tingkah 2 orang besar itu.

bersambung …..