Wanita, Potensi Kemenangan sekaligus Pelemah

Xiao Qiao adalah puteri cantik yang kini menjadi isteri Zhou Yu. Kecantikan Xiao ada dalam lukisan yang dipasang di kamar Cao Cao. Rupanya itulah yang menjadi salah satu motivasi ambisius Cao Cao menaklukkan wilayah selatan. Karena wanita.

Bagi Zhou Yu, Xiao Qiao adalah isteri yang menguatkan perjuangannya. Meskipun pada awalnya Xiao menolak suaminya kembali berperang, tetapi di akhirnya dirinya lah yang kemudian selalu mendukung perjuangannya, menyiapkan teh di saat dirinya berlatih pedang, dan bercumbu dengannya (duh mesranya, jadi pengin).

Shangxiang yang berhasil pulang dengan selamat berhasil membuat peta seluruh pertahanan Cao Cao setelah di sana ia menyamar menjadi prajurit laki-laki yang pendek dan mampu bersahabat dengan salah satu komandan batalion pemanah yang sangat lugu namun berdedikasi. Kunci kemenangan ada di serangan laut, namun angin saat ini berpihak kepada Cao Cao. Namun, bukan Zhuge namanya kalau tidak kenal karateristik alam di sungai Yang Tze. Dia mengatakan bahwa awan hitam menjadi tanda bahwa angin akan berbalik arah pada 2 hari kemudian. Jadi pasukan Wu akan menang jika Cao Cao menunda penyerangannya selama 2 hari ke depan.

Xiao Qiao yang ikut menguping pembicaraan strategi itu, akhirnya dirinya nekat datang kepada Cao Cao. Meskipun itu menjadi kesedihan mendalam bagi Zhou Yu, namun ternyata itu adalah hal terbaik untuk melenakan Cao Cao dan menunda serangan. Kecantikan Xiao yang seperti tergambar dalam lukisan yang selalu di bawa Cao Cao membuatnya tersihir dan lebih membuatnya menikmati kecantikan sang wanita itu dari pada segera memerintahkan pertempuran. Xiao yang memohon kapada Cao Cao untuk menghentikan serangan demi rakyat Wu berhasil membuat Cao Cao menunda serangan. Dan itulah yang sejatinya diinginkan pasukan Wu.

Begitulah, wanita itu terkadang menjadi penyemangat, sekaligus pelemah. Laki-laki yang kebanyakan tergila-gila sama wanita pasti jadi laki-laki yang lemah. Sebaliknya, mereka yang selalu menjaga prinsip pergaulan dan mampu menjadikan wanita sebagai penyemangat hidupnya (ketika sudah menjadi istri) maka dia akan semakin tegar dan mantap melangkah. Contohnya lihat tuh Habibie, atau yang dekat murabbi ku saja deh. Hehehe

bersambung ….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.