Kategori
Resensi Film

Red Cliff, Inspirasi Kepemimpinan Adil dan Arti Kehormatan Sebuah Perang #7

Wanita, Potensi Kemenangan sekaligus Pelemah

Xiao Qiao adalah puteri cantik yang kini menjadi isteri Zhou Yu. Kecantikan Xiao ada dalam lukisan yang dipasang di kamar Cao Cao. Rupanya itulah yang menjadi salah satu motivasi ambisius Cao Cao menaklukkan wilayah selatan. Karena wanita.

Bagi Zhou Yu, Xiao Qiao adalah isteri yang menguatkan perjuangannya. Meskipun pada awalnya Xiao menolak suaminya kembali berperang, tetapi di akhirnya dirinya lah yang kemudian selalu mendukung perjuangannya, menyiapkan teh di saat dirinya berlatih pedang, dan bercumbu dengannya (duh mesranya, jadi pengin).

Shangxiang yang berhasil pulang dengan selamat berhasil membuat peta seluruh pertahanan Cao Cao setelah di sana ia menyamar menjadi prajurit laki-laki yang pendek dan mampu bersahabat dengan salah satu komandan batalion pemanah yang sangat lugu namun berdedikasi. Kunci kemenangan ada di serangan laut, namun angin saat ini berpihak kepada Cao Cao. Namun, bukan Zhuge namanya kalau tidak kenal karateristik alam di sungai Yang Tze. Dia mengatakan bahwa awan hitam menjadi tanda bahwa angin akan berbalik arah pada 2 hari kemudian. Jadi pasukan Wu akan menang jika Cao Cao menunda penyerangannya selama 2 hari ke depan.

Xiao Qiao yang ikut menguping pembicaraan strategi itu, akhirnya dirinya nekat datang kepada Cao Cao. Meskipun itu menjadi kesedihan mendalam bagi Zhou Yu, namun ternyata itu adalah hal terbaik untuk melenakan Cao Cao dan menunda serangan. Kecantikan Xiao yang seperti tergambar dalam lukisan yang selalu di bawa Cao Cao membuatnya tersihir dan lebih membuatnya menikmati kecantikan sang wanita itu dari pada segera memerintahkan pertempuran. Xiao yang memohon kapada Cao Cao untuk menghentikan serangan demi rakyat Wu berhasil membuat Cao Cao menunda serangan. Dan itulah yang sejatinya diinginkan pasukan Wu.

Begitulah, wanita itu terkadang menjadi penyemangat, sekaligus pelemah. Laki-laki yang kebanyakan tergila-gila sama wanita pasti jadi laki-laki yang lemah. Sebaliknya, mereka yang selalu menjaga prinsip pergaulan dan mampu menjadikan wanita sebagai penyemangat hidupnya (ketika sudah menjadi istri) maka dia akan semakin tegar dan mantap melangkah. Contohnya lihat tuh Habibie, atau yang dekat murabbi ku saja deh. Hehehe

bersambung ….

Kategori
Resensi Film

Red Cliff, Inspirasi Kepemimpinan Adil dan Arti Kehormatan Sebuah Perang #6

Sikap Tanggung Jawab yang Luar Biasa

Putusnya aliansi itu menjadi penyulut kesombongan Cao Cao yang sekaligus meningkatkan kelemahannya, yaitu dia semakin lengah. Bahkan keberadaan dua admiral laut yang sesungguhnya menjadi kunci kemenangan Cao Cao seandainya ia tak membuat kesalahan sendiri, hanyalah sebuah kesia-siaan. Dua admiral laut yang sangat ulung dalam navigasi dan mengerti kondisi alam sungai Yang Tze itu adalah musuh bebuyutan kerajaan Wu, yang artinya adalah pasukan yang paling bagus untuk menghancurkan pasukan Wu yang telah ditinggal sekutunya. Namun itulah takdir, kesombongan tidak akan pernah sama sekali membawa kemenangan.

Ketika Sun Quan bertanya kepada Zhuge Liang apakah dia ingin ikut berkhianat? Zhuge Liang berkata, dirinya yang memulai aliansi ini, maka dia berjanji sebagai jaminan kerajaan Shu untuk tetap bersama sampai pertempuran itu berakhir. Dengan keterbatasan pasukan dan peralatan perang yang ada, maka Zhuge Liang akhirnya membuat sensasi dengan membuat taruhan antara dirinya dan Zhou Yu, yang kalah maka dipenggal kepalanya. Bahkan para jenderal di negeri Wu begidik menyaksikan pertaruhan dua sahabat yang sangat dekat itu. Mereka bersepakat dalam senyum optimis yang dijawab oleh senyum kecut para jenderal yang lain.

Zhuge Liang bertaruh bahwa dia dapat mengumpulkan 100.000 anak panah dalam 10 hari ke depan. Sedangkan Zhou Yu bertaruh bahwa dirinya akan memenggal kepala dua admiral laut yang menjadi musuh bebuyutan Wu yang kini telah tunduk di bahwa perintah Cao Cao. H-1, Zhuge Liang masih santai dengan kebiasaannya merenungi dan mengamati alam. Sahabat karibnya yang menjadi penghubung diplomasi waktu di awal justru yang khawatir kalau-kalau Zhuge gagal dan dipenggal kepalanya. Namun apa yang terjadi? Ternyata dia mengetahui bahwa di hari ke sepuluh ada kabut tebal yang akan memisahkan karang merah dengan kapal-kapal Cao Cao yang sudah mangkal dan siap menghancurkan. Zhuge Liang membawa banyak kapal yang dilapisi jerami dan orang-orangan dengan pasukan pemanah terbatas. Mereka memberi sinyal serangan yang disambut oleh Admiral Zhang Mai dkk untuk menghadang. Dalam kondisi berkabut, pasukan Zhuge cukup melepaskan anak panah sekali. Pasukan Mai yang besar akhirnya membalasnya dengan ratusan ribu anak panah. Dan itulah, kecerdasan Zhuge Liang menjawab masalah yang sangat mengerikan dengan aksi sederhana. Karena ratusan ribu anak panah telah menempel cuma-cuma di kapal mereka. Tinggal pulang dan dicopoti, masalah selesai.

Bagaimana dengan Zhou Yu? Dia menggunakan kebiasaan masa mudanya ketika hobi dugem dengan sahabatnya yang kini jadi anak buahnya Cao Cao untuk membuat sandiwara. Pada akhirnya sandiwara itu mampu membuat sahabatnya itu menemukan surat yang tulisannya sama persis dengan tulisan Mai. Surat itu menceritakan pengkhianatan mereka kepada Cao Cao. Momentum yang tepat di hari ke sepuluh itu, saat Zhang Mai pulang dari menyetorkan gratis anak panah (persis seperti kisah dalam surat yang terlanjur di baca Cao Cao) langsung disambut dengan senyum Cao Cao yang mirip Pak Harto waktu jadi presiden dulu. Kepulangan Mai yang diikuti satu kapal skoci berisi jerami dan ratusan anak panah yang menempel membuat Cao Cao tak berpikir panjang untuk mengeksekusi dua admiralnya yang terduga (namun belum terbukti berkhianat). Dasar orang yang tidak pernah percaya pada orang lain, maka bukti surat kecil itu sudah membuatnya cepat memutuskan sesuatu yang akan menjadi kerugian besar baginya.

Sesaat setelah itu, salah satu jenderalnya berkata, kalo admiralnya di bunuh, siapa yang mengenal baik kondisi pelayaran sungai Yang Tze. Baru saja Cao Cao menoleh untuk menghentikan eksekusi itu, kedua admiral itu telah kehilangan kepalanya. Nahas bagi Cao Cao, yang akhirnya lagi lagi ia melemparkan kekesalannya dengan meracun sang diplomat temannya Zhou Yu yang kini sedang menjilat di bawah kekuasaannya.

Hal yang kembali menegangkan terjadi saat Zhuge Liang asyik mengajarkan senjata baru buatannya kepada prajurit Wu, ternyata hitungan anak panahnya kurang empat ratus buah dari target yang dijanjikan. Melihat hal itu, sahabat diplomat yang dari negeri Wu melobi ke Zhou Yu untuk meringankan hukuman. Masak kurang empat ratus doang ga ditoleransi, persis kayak pemimpin kita yang ga bisa menepati janji. Namun setelah beberapa waktu, beberapa prajurit menyusul dengan anak panah tambahan. Sang diplomat marah-marah kepada mereka dan merasa lega karena Zhuge, sahabatnya yang jenius tak jadi mati. Zhuge balik bertanya ke Zhou Yu tentang perkembangan janjinya, Zhou Yu yang belum mendapat kabar apa pun mempersilahkan dia memenggal lehernya. Kali ini yang ketakutan jenderal-jenderal bawahannya. Belum sempat Zhuge melanjutkan eksekusinya, seekor merpati datang membawa kabar bahwa dua panglima kunci kemenangan Cao Cao telah dipenggal. Rupanya Zhuge Liang memang cerdik menempatkan mata-mata yang tidak lain adalah adiknya Sun Quan yang tomboi, Sun Shangxiang di pertahanan Cao Cao. Cerdas! Diplomat dan sang Jenderal tak mengerti dengan dua orang yang luar biasa itu. Aku terkesan dengan tanggung jawab besar mereka sebagai pemimpin dan orang – orang yang telah berjanji.

bersambung ….

Kategori
Resensi Film

Red Cliff, Inspirasi Kepemimpinan Adil dan Arti Kehormatan Sebuah Perang #5

Berperang Secara Terhormat

Dalam kisah peperangan itu, terjadi pula hal yang mengagumkan tentang arti kehormatan sebuah perang. Suatu ketika, kondisi pasukan Cao Cao terserang wabah penyakit yang parah. Sebenarnya kondisi ini adalah kondisi terbaik jika saja pasukan aliansi mau menghabisi mereka yang sedang turun moralnya. Tapi apa yang dikatakan Zhou Yu dan Liu Bei? Perang ini adalah perang terhormat, kita harus bermain fair.

Aku geleng-geleng kepala dengan hal ini. Yah, inilah perang yang mewarisi tradisi kehormatan perang seperti halnya yang diajarkan oleh Rasulullah ketika memimpin perang-perang kaum muslimin yang kemudian dilanjutkan para penguasa/khalifah setelahnya. Dalam dakwah Islam maka para penguasa negeri lain itu dikirimi utusan dan ulama untuk mengajarkan Islam. Jika mereka mau bersahabat maka Islam pun memperlakukan mereka secara terhormat. Jika mereka mau ber-Islam maka mereka menjadi bagian dari kaum muslimin. Jika mereka menolak tapi tidak menyatakan permusuhan, maka kemudian ada perjanjian aliansi yang disepakati bersama. Barulah yang nyata-nyata berkhianat atas perjanjian itu atau sejak awal menyatakan perang, maka pasukan kaum muslimin akan merebut kekuasaan itu untuk rakyat mereka. Dan itulah mengapa kaum muslimin di masa keemasannya selalu dimenangkan oleh Allah dalam pertempuran, karena kehadiran mereka sebenarnya telah dinantikan rakyat yang ada di negeri itu setelah sebelumnya mereka ditindas oleh penguasa mereka. Mereka hanya melunasi janji Allah untuk menguasakan orang-orang yang beriman di muka bumi.

Kurang ajarnya Cao Cao, orang-orang yang mati karena wabah penyakit itu justru dikirim ke kawasan wilayah aliansi yang menyebabkan wabah baru. Itu salah satu sikap busuk seorang musuh yang tidak punya moral. Namun, Liu Bei tak kurang siasat meskipun sempat membuat ketegangan. Dengan momentum itu dan disamping tidak dipungkirinya rasa ketakutan besar pasukan aliansi ketika melihat kapal yang seolah tak terhingga banyaknya siap menghancurkan karang merah tempat kekuatan terbesar aliansi dua negeri itu. Liu Bei menyatakan pemutusan aliansi dan menarik seluruh pasukannya secara sepihak, tanpa pertimbangan tiga panglimanya atau pun dengan para pejabat Wu. Hal ini sempat membuat suasana tegang, tapi Liu Bei rupanya membisikkan sesuatu kepada Zhuge Liang tentang arti kekuatan bertahan. Zhuge Liang pun mengerti dalam konteks bahasa yang hanya sanggup mereka pahami berdua.

Dan lagi-lagi Zhou Yu yang cerdas, dia pun mengerti apa yang dilakukan Liu Bei tanpa harus bertanya, mengapa begitu? Di kemudian hari, saat moral pasukan Wu sudah di puncak perjuangan mereka, pasukan Shu yang juga terbakar semangat solidaritasnya akhirnya bersatu kembali menjadi kekuatan yang mengerikan untuk menghabisi seluruh kekuatan Cao Cao yang jumlahnya berkali-kali lipat banyaknya.

Tingkah Cao Cao itu mungkin potret nyata realitas politik negeri kita yang hobi culas dan suka menjatuhkan orang lain. Tak banyak orang yang bisa bersikap tegar dan bertanggung jawab seperti Zhuge Liang lantaran dirinya menjadi jaminan kepala atas aliansi yang putus itu. Tak banyak orang yang bersikap bijak seperti Zhou Yu untuk membaca taktik yang sangat rumit dan mendalam itu. Di negeri kita banyak yang mudah meletup karena perbedaan sepele. Buru-buru bikin lapak di web atau membuat buku untuk menyerang orang lain, serang orang per orang atau golongan yang sebenarnya sama benderanya. Bukan kebenaran yang akan terbuka, karena semuanya sama-sama sakit hati dan merasa dipermalukan. Yang ada adalah musuh mengerti simpul kelemahan kita yang bisa diobok-obok untuk dirusak. Nah, di tubuh umat Islam sendiri hari ini pun sepertinya sikap itu menjadi sulit ditemukan.

bersambung ……

Kategori
Resensi Film

Red Cliff, Inspirasi Kepemimpinan Adil dan Arti Kehormatan Sebuah Perang #1

Alhamdulillah, revisi makalah ujian seminar fisika selesai sebelum dzuhur kemarin. Tadi malam menjadi spesial sekali karena aku berencana nonton bareng dengan adik-adik. Lingkaran inspiratif malam ini bentuknya tidak seperti biasanya. Ya sesekali cari suasana baru lah. Kita putuskan nonton bareng Red Cliff. Apa itu, film yang mensarikan novel Three Kingdoms (San Guo Yan Yi) yang sangat populer di China itu lho, yang ditulis Luo Guan Zhong!

Tidak tanggung-tanggung, kami menyewa LCD Projector dan menonton dua seri film itu sekaligus. Artinya malam itu kami menginvestasikan waktu 4 jam untuk sebuah film yang menurutku memang berkualitas. Bahkan sampai-sampai sekelas ustadz Salim A. Fillah juga membuat ulasan menarik tentang film tersebut pada bukunya Dalam Dekapan Ukhuwah. Memang film yang dibuat John Woo ini berbeda sekali dengan film-film silat Mandarin seperti biasanya. Meskipun aku sudah melihat beberapa tahun lalu, tapi seolah inspirasi film ini forever banget.

Sosok Pemimpin yang Melahirkan Kesetiaan

Pada intinya film itu mengisahkan sebuah perjalanan seorang pemimpin besar yang berasal dari negeri Shu, Liu Bei. Berdarah ningrat dari dinasti Han, salah seorang paman jauh Kaisar Dinasti Han ketika itu, yang sebentar lagi berada di ambang keruntuhannya karena sosok Kaisar yang digambarkan dalam film itu bahkan sangat bloon. Ambisi sang perdana menteri kerajaan, Cao Cao membuat sang kaisar hanya pasrah dengan rencana penyerbuan ke selatan dalam rangka membuat kerajaan-kerajaan selatan memiliki ketundukan penuh kepada imperium Han.

Dalam film itu, diperlihatkan bagaimana perbedaan Cao Cao yang gampang main bunuh, apalagi jika Anda membaca novel itu lebih lengkap, nyata bagaimana parahnya Cao Cao yang memang tidak punya rasa percaya pada orang dan lebih suka mengakhiri mereka dengan membunuhnya. Cao Cao yang berhasil mendirikan negara Wei akhirnya berambisi untuk menguasai negeri Shu dan Wu yang berada di selatan. Dan itulah babak pertempuran yang kemudian diambil judul filmnya, Red Cliff (karang merah).

Sosok Liu Bei digambarkan sebagai sosok yang sangat adil dan lembut. Raja yang tidak malu-malu untuk turun membantu rakyat dan menganyam sandalnya sendiri dan untuk rakyatnya. Bahkan memasakkan dan menyiapkan bekal perjalanan untuk anak buahnya. Jiwa pengabdiannya untuk rakyatnya sangat kentara ketika digambarkan dirinya yang tidak terlalu peduli dengan kematian keluarganya ketika istananya di Xinye diserbu oleh pasukan Cao Cao. Sosok Liu Bei yang sangat baik itulah yang membuat para pengikutnya begitu setia. Salah satu panglimanya, Zhao Zi Long bahkan berjuang mati-matian mempertahankan serbuan Cao Cao di kota Xinye meskipun akhirnya hanya mampu membawa putranya yang paling kecil dan seluruh keluarga Liu Bei terbunuh dalam serbuan itu. Liu Bei tidak begitu terpukul, dia lebih fokus membawa rakyat Han selamat dari gempuran Cao Cao.

Selain Zi Long, Liu Bei memiliki dua panglima lain yang sangat keren, Jenderal Guan Yu dan Zhang Fei. Dalam film itu, sosok Guan Yu sangat seram ketika di pertempuran tetapi sangat sayang dan penyantun ketika berhadapan dengan anak kecil. Di pengungsian, dialah yang menjadi guru bagi anak-anak. Sedangkan Zhang Fei adalah panglima yang memiliki auman mengerikan untuk menggetarkan musuh. Tapi dia sangat ahli dalam kaligrafi. Sehinggga di waktu senggangnya digunakan untuk menulis kata-kata yang indah.

bersambung …..