Berperang Secara Terhormat

Dalam kisah peperangan itu, terjadi pula hal yang mengagumkan tentang arti kehormatan sebuah perang. Suatu ketika, kondisi pasukan Cao Cao terserang wabah penyakit yang parah. Sebenarnya kondisi ini adalah kondisi terbaik jika saja pasukan aliansi mau menghabisi mereka yang sedang turun moralnya. Tapi apa yang dikatakan Zhou Yu dan Liu Bei? Perang ini adalah perang terhormat, kita harus bermain fair.

Aku geleng-geleng kepala dengan hal ini. Yah, inilah perang yang mewarisi tradisi kehormatan perang seperti halnya yang diajarkan oleh Rasulullah ketika memimpin perang-perang kaum muslimin yang kemudian dilanjutkan para penguasa/khalifah setelahnya. Dalam dakwah Islam maka para penguasa negeri lain itu dikirimi utusan dan ulama untuk mengajarkan Islam. Jika mereka mau bersahabat maka Islam pun memperlakukan mereka secara terhormat. Jika mereka mau ber-Islam maka mereka menjadi bagian dari kaum muslimin. Jika mereka menolak tapi tidak menyatakan permusuhan, maka kemudian ada perjanjian aliansi yang disepakati bersama. Barulah yang nyata-nyata berkhianat atas perjanjian itu atau sejak awal menyatakan perang, maka pasukan kaum muslimin akan merebut kekuasaan itu untuk rakyat mereka. Dan itulah mengapa kaum muslimin di masa keemasannya selalu dimenangkan oleh Allah dalam pertempuran, karena kehadiran mereka sebenarnya telah dinantikan rakyat yang ada di negeri itu setelah sebelumnya mereka ditindas oleh penguasa mereka. Mereka hanya melunasi janji Allah untuk menguasakan orang-orang yang beriman di muka bumi.

Kurang ajarnya Cao Cao, orang-orang yang mati karena wabah penyakit itu justru dikirim ke kawasan wilayah aliansi yang menyebabkan wabah baru. Itu salah satu sikap busuk seorang musuh yang tidak punya moral. Namun, Liu Bei tak kurang siasat meskipun sempat membuat ketegangan. Dengan momentum itu dan disamping tidak dipungkirinya rasa ketakutan besar pasukan aliansi ketika melihat kapal yang seolah tak terhingga banyaknya siap menghancurkan karang merah tempat kekuatan terbesar aliansi dua negeri itu. Liu Bei menyatakan pemutusan aliansi dan menarik seluruh pasukannya secara sepihak, tanpa pertimbangan tiga panglimanya atau pun dengan para pejabat Wu. Hal ini sempat membuat suasana tegang, tapi Liu Bei rupanya membisikkan sesuatu kepada Zhuge Liang tentang arti kekuatan bertahan. Zhuge Liang pun mengerti dalam konteks bahasa yang hanya sanggup mereka pahami berdua.

Dan lagi-lagi Zhou Yu yang cerdas, dia pun mengerti apa yang dilakukan Liu Bei tanpa harus bertanya, mengapa begitu? Di kemudian hari, saat moral pasukan Wu sudah di puncak perjuangan mereka, pasukan Shu yang juga terbakar semangat solidaritasnya akhirnya bersatu kembali menjadi kekuatan yang mengerikan untuk menghabisi seluruh kekuatan Cao Cao yang jumlahnya berkali-kali lipat banyaknya.

Tingkah Cao Cao itu mungkin potret nyata realitas politik negeri kita yang hobi culas dan suka menjatuhkan orang lain. Tak banyak orang yang bisa bersikap tegar dan bertanggung jawab seperti Zhuge Liang lantaran dirinya menjadi jaminan kepala atas aliansi yang putus itu. Tak banyak orang yang bersikap bijak seperti Zhou Yu untuk membaca taktik yang sangat rumit dan mendalam itu. Di negeri kita banyak yang mudah meletup karena perbedaan sepele. Buru-buru bikin lapak di web atau membuat buku untuk menyerang orang lain, serang orang per orang atau golongan yang sebenarnya sama benderanya. Bukan kebenaran yang akan terbuka, karena semuanya sama-sama sakit hati dan merasa dipermalukan. Yang ada adalah musuh mengerti simpul kelemahan kita yang bisa diobok-obok untuk dirusak. Nah, di tubuh umat Islam sendiri hari ini pun sepertinya sikap itu menjadi sulit ditemukan.

bersambung ……

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.