Kategori
Pendidikan

Tiga Pertanyaan tentang Kepahaman Belajar #3

Ketiga pertanyaan tersebut perlu ditanamkan ke masing-masing siswa agar mereka dengan jujur menjawab pertanyaan itu bagi diri mereka sendiri. Karena tanpa kepahaman buat apa buang-buang waktu bertahun-tahun untuk sekolah jika hanya menghafal dan melakukan sesuatu tanpa ada yang dimengerti. Itu pertanyaan yang tidak perlu ditagih jawabannya, tapi usahakan agar siswa menanyakan berulang-ulang buat dirinya. Sudah mengertikah ia pada apa yang dipelajarinya selama ini?

Atau jangan-jangan kita sebagai pendidik justru melestarikan budaya pembodohan siswa dengan nilai semata. Nilai bagus tak cerminkan kecerdasan siswa. Tetapi siswa yang cerdas dan menguasai materi, insya Allah nilainya bagus. Mengapa? Kerena soal sesulit apa pun akan mampu dikerjakan oleh siswa yang memahami materi dengan baik. Siswa yang hanya suka menghafal dia hanya mampu mengerjakan soal yang ada dalam jangkauan hafalannya saja. Siswa yang malas, dia hanya punya satu pilihan untuk mendapatkan nilai bagus, yakni berbuat curang dan melakukan segala bentuk kejahatan saat ujian. Mau dibiarkan begitu demi nilai? Tentu saja tidak bukan. Mari kita berjuang bersama untuk memperbaiki pendidikan kita.

Kategori
Pendidikan

Tiga Pertanyaan tentang Kepahaman Belajar #2

Maka aku mengajukan tiga pertanyaan yang perlu dijawab setiap siswa sendiri saat mendapati soal-soal yang harus diselesaikan.

  1. Ketika Anda membaca soal, apakah Anda mengerti betul maksud pertanyaan dari soal tersebut?
  2. Jika pertanyaan no.1 Anda mengerti, apakah Anda bisa menentukan langkah pertama yang harus diambil untuk menyelesaikannya?
  3. Jika pertanyaan no.2 Anda mengerti, apakah Anda bisa menyelesaikan jawaban Anda sampai tuntas dan benar?

Pertanyaan pertama adalah kunci dari kepahaman siswa terhadap sebuah kasus. Saya mendapati beberapa kali siswa yang membaca soal dan menjawabnya hanya bermodal ilmu titen. Biasanya kalo soal begini maka langkah yang dipakai begini, lantas kebetulan di pilihan ganda ada jawabannya selesai. What? Apa ini, konyol sekali. Ketika siswa tidak memahami maksud dari pertanyaan maka sesungguhnya ini adalah kondisi yang sangat parah tentang pendidikan kita. Bisa jadi dia mengalami kendala pemahaman bahasa, atau mungkin ketumpulan analisis sehingga apa yang ditanyakan soal saja tidak mengerti. Sayangnya hal ini masih sering terjadi bukan?

Pertanyaan kedua adalah kunci apakah siswa bisa mengaplikasikan materi yang ia pahami. Dalam fisika misalnya, siswa biasanya sudah dibekali banyak rumus oleh gurunya. Bahkan tak jarang, fisika adalah pelajaran matematika tambahan yang lebih sulit dari pelajaran matematikanya sendiri. Parahnya, mereka tak banyak mengerti penggunaan rumus tersebut secara tepat atas permasalahan soal yang dia baca. Jika soalnya maksudnya seperti ini maka langkah yang harus diambil pertama kali apa? Menggambar model, membuat analogi, membuat grafik atau sebarang aktivitas yang mengarahkan siswa untuk menemukan rumus penyelesaian yang tepat. Yang bikin lucu, siswa sudah sering didoktrin dengan 3 D, diketahui, ditanyakan, dijawab. Apakah tidak boleh siswa menyelesaikan soal fisika yang kompleks dengan membuat karangan mirip cerita. Bukankah urut-urutan di dalamnya lebih memudahkan guru untuk mengerti sebenarnya siswa ini mengerti atau tidak. Lagi-lagi demi efisiensi, maka soal pilihan ganda tetap menjadi favorit. Dan untuk menjawabnya perlu cara cepat, ga usah bertele-tele.

Dan yang terakhir, tentu saja pertanyaan paling teknis. Asal langkah pertama ketemu sampai bisa bikin perumusan, tentu saja memasukkan angka, menyelesaikan hitungan, memasukkan daftar bukanlah hal yang sulit. Tapi fakta di lapangan adalah saya pernah ketika PPL di sebuah SMA mendapati banyak siswa tidak dapat melewati langkah pertama dan kedua tadi. Mereka menunggu guru untuk menuliskan rumusnya, baru akhirnya mereka bisa memasukkan angka-angkanya pada rumus yang dituliskan gurunya. Lha kalau seperti itu, anak SD juga bisa kan memasukkan angka lalu menghitung. Lalu mengapa harus jadi anak SMA, turun kelas saja kan.

bersambung ….

Kategori
Pendidikan

Tiga Pertanyaan tentang Kepahaman Belajar #1

Ceritanya aku sudah cukup lama menjalani profesi sebagai guru jam tambahan di sebuah boarding sekolah Islam. Makin lama aku makin menemukan sisi-sisi yang mungkin tidak bisa kuidentifikasi saat aku menjadi guru kelas. Yah, menolak tawaran menjadi guru kelas ketika pagi adalah pilihan yang baik menurutku saat ini karena aku tidak akan disibukkan dengan berbagai administrasi mulai dari RPP hingga setor nilai.

Hal yang kutemukan dari menemani adik-adik belajar IPA dan matematika adalah masalah ketidakpahaman pada dasar materi. Begitu banyaknya materi yang harus dipelajari siswa SMP saat ini sepertinya menjadi beban yang membuat wajah-wajah mereka pucat, tidak lagi riang untuk sekolah. Ini adalah tantangan sekaligus tanggung jawab berat bagi guru. Terbayang bagaimana mulianya para guru hari ini jika dapat memahami situasi ini lantas melakukan berbagai upaya terbaik untuk membantu para peserta didiknya dalam memahami materi.

Hari ini kondisi pendidikan kita sangat pragmatis. UN masih menjadi bayangan di kepala setiap siswa. Maka nilai tinggi adalah target yang dipasang oleh setiap siswa, sekolah, dan orang tua. Bukan masalah nilainya sih, tetapi secara jamak persepsi yang terbangun adalah yang nilainya tinggi maka siswa itu dikatakan cerdas. Yang rata-ratanya tinggi, maka sekolah itu dikatakan mampu mencerdaskan siswa-siswanya. Sekilas sih oke saja, tapi kok aku merasa ganjil ya. Jika nilai tinggi hari ini mencerminkan kecerdasan dan keberhasilan dari proses pendidikan? Mengapa masih banyak ditemukan mahasiswa yang tingkah lakunya mirip anak-anak SMA.

Singkat cerita, sejak aku mulai terjun sebagai pengajar aku mulai mendapati hal yang berbeda antara masa kami belajar dengan anak-anak hari ini. Meskipun kurikulum di masa kami dahulu dikatakan tidak semodern dan sebagus hari ini, tapi kami dulu bisa berkembang lebih baik, tidak hanya bidang akademis, tapi juga skill dan keterampilan. Hari ini? Aku kasihan dengan cerita lucu seorang siswa yang bertanya bagaimana bentuknya SPIRITUS. Wow, hari ini belum tahu apa itu spiritus? Jelas ini ada masalah sejak pendidikan di keluarga. Karena pendidikan menjadi seperti proses membangun pikiran awang-awang, bukan lagi mengenal sesuatu yang jelas ada di sekitarnya.

Maka pendidikan kita hari ini sangat tekstual, tidak lagi kontekstual. Parahnya lagi, sistem belajar siswa dalam mengerjakan soal-soal ujian diakselerasi dengan rumus-rumus praktis buatan sebuah lembaga bimbel. Maaf bukan bermaksud menyalahkan, tapi jika rumus-rumus praktis yang ditemukan tidak bersandar pada pemahaman materi dasarnya justru siswa semakin jauh dari tujuan belajarnya, tetapi semakin pragmatis. Bagaimana siswa dapat semakin mengenal keagungan tuhan di alam sekitar jika pelajaran IPA hanya diisi teknik cepat menyelesaikan soal IPA. Bagaimana siswa akan mampu membangun logikanya, jika siswa diajari trik-trik cepat menyelesaikan soal matematika tanpa dibekali logika asalnya.

bersambung ….

Kategori
Pendidikan

Pesan Abah Rama & Pak Harry

Ceritanya aku baca postingan Pak Harry lagi, dan ada bahasan yang menarik seperti ini

@abah rama

Yang jelas karena kita tidak “mensyukuri nikmat potensi” (baik individu maupun negara) yang Allah berikan, maka pendidikannya pun bukan berbasis potensi.

Pendidikan kita masih berbentuk pabrik siswa (harus bisa segalanya) bukan taman siswa (dalam taman yang sama tanaman yang berbeda harus diberikan perlakuan yang berbeda).

Kenapa demikian??

Karena kita ingin meniru Orang lain / Negara lain.
Padahal setiap Negara memiliki potensi yang tidak bisa ditiru oleh negara lain.

Abah mengutip tulisan dari beberapa pakar Human Development:

“Although studies have shown that real change can result from training, most of the time the change doesn’t seem to be sustained, which is why it is often called the honeymoon effect. Considering that more than 60 billion dollars spent in North America alone on training (2001), this is a sobering observation.”

“Meskipun penelitian telah menunjukkan bahwa perubahan nyata didapat dari hasil dari pelatihan, sebagian besar waktu ternyata perubahan tampaknya tidak bisa berlangsung lama, yang mengapa sering disebut efek bulan madu. Menimbang bahwa lebih dari 60 miliar dolar yang dihabiskan di Amerika Utara saja untuk pelatihan (2001), ini adalah pengamatan serius. ”
Daniel Goleman et al (Emotional Intelligence Pakar)

What Americans believe people can change is-in historical perspective- truly astonishing

Apa Amerika percaya orang bisa berubah-yang dalam perspektif sejarah sejarah-adalah sungguh-sungguh menakjubkan

We are told that we can improve ourselves in almost every way
Our children taught
– To read
– To be good citizen
– To be lovingly sexual
– To exercise
– To have high self esteem
– To enjoy literature
– To be ambitious
– To obey the lawets

Kita diberitahu bahwa kita dapat meningkatkan diri di hampir di semua jalan
Anak-anak kita diajarkan
– Untuk membaca
– Untuk menjadi warga negara yang baik
– Untuk menjadi penuh cinta
– Untuk latihan
– Untuk memiliki harga diri yang tinggi
– Untuk menikmati sastra
– Untuk menjadi ambisius
– Untuk mematuhi lawets

The reality fall short
(namun) Kenyataannya gagal

Martin Seligman, Pakar Psikologi Kognitif Dalam, BehaviorTherapy, Bapak Psikologi Positif

Salam Fokus pada Kekuatan Siasati keterbatasan
Abah Rama

Dan ini dari Pak Harry

Banyak para pendidik yg sulit menerima gagasan “keberagaman berbasis potensi keunikan” dalam pendidikan. Potensi yg dimaksud adalah Potensi Keunikan bangsa ini maupun Potensi Keunikan manusianya. Persekolahan (pendidikan) sejatinya berbasis potensi keunikan individu dan bangsa.

Karena idea yg dibangun oleh sistem pendidikan adalah “…kita ingin meniru Orang lain / Negara lain. Padahal setiap Negara memiliki potensi yang tidak bisa ditiru oleh negara lain.” 

Edward de Bono, seorang pakar creative thinking, mengatakan bahwa kompetisi (dikendalikan keinginan menjadi spt orang lain) tidak mengasyikkan krn tdk ada nilai original atau hal baru yg dihasilkan, kecuali memangkas harga dan meminimaliskan layanan. Pada sebuah titik kompetisi akan mematikan semuanya. 

Edward de Bono mengajukan konsep SUR-PETISI, yaitu bangkit dan berpacu pada potensi keunikan (kekuatan) sendiri. Menciptakan pacuan perlombaan sendiri. Sibuk dikendalikan oleh penciptaan nilai atas potensi keunikan/kekuatan sendiri, dan tidak disibukkan dan dikendalikan orang lain.

Facebook

Kategori
Pendidikan

Masalah Serius Dalam Belajar Kita

Lima tahun dalam berbagai kesempatan membersamai adik-adik belajar fisika dan matematika, baik saat les maupun di sekolah kudapati sebuah masalah serius. Bukan soal mereka tidak bisa menghitung atau tidak pandai mengerjakan soal. Tetapi soal konsep dan pola pikir yang lemah dalam memahami persoalan, terutama saat menyelesaikan soal-soal cerita.

Mengapa? Jika rekan-rekan pengajar muda di IM bilang2 anak-anak di pedalaman tidak bisa soal cerita karena kurangnya sumber bacaan, maka asumsiku anak-anak di kota lemah pemahaman soal cerita karena malas membaca (padahal buku-buku tersedia berlimpah). Jika membaca buku saja malas, maka bagaimana akan terbiasa memahami dan merekonstruksi sebuah permasalahan?

Dan setidaknya aku mengendus kebiasaan buruk ini terbawa hingga di usia mahasiswa. Yah, mahasiswa pun hari ini tak banyak yang suka membaca, terutama membaca masalah lingkungan sekitarnya dan menjadikan diskusi-diskusinya sebagai solusi. Maka tak heran jika mau mukernas hingga mukeror salah satu cerita yang terkenal adalah persaingan dan konflik perebutan kekuasaan. Dan mungkin tanpa cerita solusi yang mencerahkan.

Kalo kata pak Sopir kehidupan (yang ternyata adalah konsultan perusahaan yang lagi menikmati hobi nyetir mobil rental), pendidikan itu bukan soal Anda menguasai berbagai bidang ilmu sampai jadi profesor. Tapi seberapa besar dan kuat keyakinan agamamu, bagus tidaknya etikamu, dan seberapa banyak engkau menyarikan al-Quran menjadi solusi dan inspirasi kehidupanmu. Karena sejatinya ilmu2 yang kini menjamur itu hanya akan maslahat jika berangkat dari ketiga hal itu.

Facebook

Kategori
Pendidikan

Sekolah & Pilihan Belajar

Sekolah, aktivitas berseragam, berangkat pagi-pagi dengan buku-buku di tas, datang cepat-cepat sebelum terlambat dan dihukum, lalu sapa bapak ibu guru yang necis dengan seragam dan sepatu hitam mengkilatnya, lalu cium tangannya dan masuk kelas. Kira-kira begitu kan gambaran umum di setiap kepala banyak hari ini tentang sekolah.

Lanjut lagi ketika dikelas. Semua siswa dengan tangan sedeku di atas meja memperhatikan guru yang menerangkan pelajaran tentang indahnya Indonesia. Negeri yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud sampai pulau Rote. Negeri khayalan yang jangankan dikunjungi, dilihat-lihat gambarnya pun belum tentu. Belum lagi gambar yang dilihat adalah update 5 tahun terakhir.

Aku ingin teriak hari ini tentang pendidikan yang mengkhayal itu. Mungkin pendidikan yang diselenggarakan atas nama “kedisiplinan“ memang terlihat menghasilkan produk yang disebut kompeten. Tapi bagaimana jika mereka diminta untuk berbuat sesuatu untuk negeri ini di luar buku dan penugasan Bapak/Ibu Guru? Apa jawabannya. Tidak tahu. Mungkin jawaban ini tidak 100 % benar, karena boleh jadi kita mendapati ada yang bisa menjawab, “Saya bisa membuat … Pak“.

Ah, ngomong apa sih aku. Ini mungkin karena perjalananku hari ini yang menemukan cerita tentang anak-anak yang sekolah tetapi justru pikirannya dibooking oleh buku. Tapi sudahlah, ini hanya pelepas rasa galau yang berkecamuk karena menikmati hidup yang penuh paradoks di negeri yang kucintai ini. Sudahlah, mari kita lakukan hal kecil untuk melakukan penyelamatan ini sebelum 2015 saat AFTA berlaku dan setelahnya.