Maka aku mengajukan tiga pertanyaan yang perlu dijawab setiap siswa sendiri saat mendapati soal-soal yang harus diselesaikan.

  1. Ketika Anda membaca soal, apakah Anda mengerti betul maksud pertanyaan dari soal tersebut?
  2. Jika pertanyaan no.1 Anda mengerti, apakah Anda bisa menentukan langkah pertama yang harus diambil untuk menyelesaikannya?
  3. Jika pertanyaan no.2 Anda mengerti, apakah Anda bisa menyelesaikan jawaban Anda sampai tuntas dan benar?

Pertanyaan pertama adalah kunci dari kepahaman siswa terhadap sebuah kasus. Saya mendapati beberapa kali siswa yang membaca soal dan menjawabnya hanya bermodal ilmu titen. Biasanya kalo soal begini maka langkah yang dipakai begini, lantas kebetulan di pilihan ganda ada jawabannya selesai. What? Apa ini, konyol sekali. Ketika siswa tidak memahami maksud dari pertanyaan maka sesungguhnya ini adalah kondisi yang sangat parah tentang pendidikan kita. Bisa jadi dia mengalami kendala pemahaman bahasa, atau mungkin ketumpulan analisis sehingga apa yang ditanyakan soal saja tidak mengerti. Sayangnya hal ini masih sering terjadi bukan?

Pertanyaan kedua adalah kunci apakah siswa bisa mengaplikasikan materi yang ia pahami. Dalam fisika misalnya, siswa biasanya sudah dibekali banyak rumus oleh gurunya. Bahkan tak jarang, fisika adalah pelajaran matematika tambahan yang lebih sulit dari pelajaran matematikanya sendiri. Parahnya, mereka tak banyak mengerti penggunaan rumus tersebut secara tepat atas permasalahan soal yang dia baca. Jika soalnya maksudnya seperti ini maka langkah yang harus diambil pertama kali apa? Menggambar model, membuat analogi, membuat grafik atau sebarang aktivitas yang mengarahkan siswa untuk menemukan rumus penyelesaian yang tepat. Yang bikin lucu, siswa sudah sering didoktrin dengan 3 D, diketahui, ditanyakan, dijawab. Apakah tidak boleh siswa menyelesaikan soal fisika yang kompleks dengan membuat karangan mirip cerita. Bukankah urut-urutan di dalamnya lebih memudahkan guru untuk mengerti sebenarnya siswa ini mengerti atau tidak. Lagi-lagi demi efisiensi, maka soal pilihan ganda tetap menjadi favorit. Dan untuk menjawabnya perlu cara cepat, ga usah bertele-tele.

Dan yang terakhir, tentu saja pertanyaan paling teknis. Asal langkah pertama ketemu sampai bisa bikin perumusan, tentu saja memasukkan angka, menyelesaikan hitungan, memasukkan daftar bukanlah hal yang sulit. Tapi fakta di lapangan adalah saya pernah ketika PPL di sebuah SMA mendapati banyak siswa tidak dapat melewati langkah pertama dan kedua tadi. Mereka menunggu guru untuk menuliskan rumusnya, baru akhirnya mereka bisa memasukkan angka-angkanya pada rumus yang dituliskan gurunya. Lha kalau seperti itu, anak SD juga bisa kan memasukkan angka lalu menghitung. Lalu mengapa harus jadi anak SMA, turun kelas saja kan.

bersambung ….

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.