Lima tahun dalam berbagai kesempatan membersamai adik-adik belajar fisika dan matematika, baik saat les maupun di sekolah kudapati sebuah masalah serius. Bukan soal mereka tidak bisa menghitung atau tidak pandai mengerjakan soal. Tetapi soal konsep dan pola pikir yang lemah dalam memahami persoalan, terutama saat menyelesaikan soal-soal cerita.

Mengapa? Jika rekan-rekan pengajar muda di IM bilang2 anak-anak di pedalaman tidak bisa soal cerita karena kurangnya sumber bacaan, maka asumsiku anak-anak di kota lemah pemahaman soal cerita karena malas membaca (padahal buku-buku tersedia berlimpah). Jika membaca buku saja malas, maka bagaimana akan terbiasa memahami dan merekonstruksi sebuah permasalahan?

Dan setidaknya aku mengendus kebiasaan buruk ini terbawa hingga di usia mahasiswa. Yah, mahasiswa pun hari ini tak banyak yang suka membaca, terutama membaca masalah lingkungan sekitarnya dan menjadikan diskusi-diskusinya sebagai solusi. Maka tak heran jika mau mukernas hingga mukeror salah satu cerita yang terkenal adalah persaingan dan konflik perebutan kekuasaan. Dan mungkin tanpa cerita solusi yang mencerahkan.

Kalo kata pak Sopir kehidupan (yang ternyata adalah konsultan perusahaan yang lagi menikmati hobi nyetir mobil rental), pendidikan itu bukan soal Anda menguasai berbagai bidang ilmu sampai jadi profesor. Tapi seberapa besar dan kuat keyakinan agamamu, bagus tidaknya etikamu, dan seberapa banyak engkau menyarikan al-Quran menjadi solusi dan inspirasi kehidupanmu. Karena sejatinya ilmu2 yang kini menjamur itu hanya akan maslahat jika berangkat dari ketiga hal itu.

Facebook

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.