Ceritanya aku baca postingan Pak Harry lagi, dan ada bahasan yang menarik seperti ini

@abah rama

Yang jelas karena kita tidak “mensyukuri nikmat potensi” (baik individu maupun negara) yang Allah berikan, maka pendidikannya pun bukan berbasis potensi.

Pendidikan kita masih berbentuk pabrik siswa (harus bisa segalanya) bukan taman siswa (dalam taman yang sama tanaman yang berbeda harus diberikan perlakuan yang berbeda).

Kenapa demikian??

Karena kita ingin meniru Orang lain / Negara lain.
Padahal setiap Negara memiliki potensi yang tidak bisa ditiru oleh negara lain.

Abah mengutip tulisan dari beberapa pakar Human Development:

“Although studies have shown that real change can result from training, most of the time the change doesn’t seem to be sustained, which is why it is often called the honeymoon effect. Considering that more than 60 billion dollars spent in North America alone on training (2001), this is a sobering observation.”

“Meskipun penelitian telah menunjukkan bahwa perubahan nyata didapat dari hasil dari pelatihan, sebagian besar waktu ternyata perubahan tampaknya tidak bisa berlangsung lama, yang mengapa sering disebut efek bulan madu. Menimbang bahwa lebih dari 60 miliar dolar yang dihabiskan di Amerika Utara saja untuk pelatihan (2001), ini adalah pengamatan serius. ”
Daniel Goleman et al (Emotional Intelligence Pakar)

What Americans believe people can change is-in historical perspective- truly astonishing

Apa Amerika percaya orang bisa berubah-yang dalam perspektif sejarah sejarah-adalah sungguh-sungguh menakjubkan

We are told that we can improve ourselves in almost every way
Our children taught
– To read
– To be good citizen
– To be lovingly sexual
– To exercise
– To have high self esteem
– To enjoy literature
– To be ambitious
– To obey the lawets

Kita diberitahu bahwa kita dapat meningkatkan diri di hampir di semua jalan
Anak-anak kita diajarkan
– Untuk membaca
– Untuk menjadi warga negara yang baik
– Untuk menjadi penuh cinta
– Untuk latihan
– Untuk memiliki harga diri yang tinggi
– Untuk menikmati sastra
– Untuk menjadi ambisius
– Untuk mematuhi lawets

The reality fall short
(namun) Kenyataannya gagal

Martin Seligman, Pakar Psikologi Kognitif Dalam, BehaviorTherapy, Bapak Psikologi Positif

Salam Fokus pada Kekuatan Siasati keterbatasan
Abah Rama

Dan ini dari Pak Harry

Banyak para pendidik yg sulit menerima gagasan “keberagaman berbasis potensi keunikan” dalam pendidikan. Potensi yg dimaksud adalah Potensi Keunikan bangsa ini maupun Potensi Keunikan manusianya. Persekolahan (pendidikan) sejatinya berbasis potensi keunikan individu dan bangsa.

Karena idea yg dibangun oleh sistem pendidikan adalah “…kita ingin meniru Orang lain / Negara lain. Padahal setiap Negara memiliki potensi yang tidak bisa ditiru oleh negara lain.” 

Edward de Bono, seorang pakar creative thinking, mengatakan bahwa kompetisi (dikendalikan keinginan menjadi spt orang lain) tidak mengasyikkan krn tdk ada nilai original atau hal baru yg dihasilkan, kecuali memangkas harga dan meminimaliskan layanan. Pada sebuah titik kompetisi akan mematikan semuanya. 

Edward de Bono mengajukan konsep SUR-PETISI, yaitu bangkit dan berpacu pada potensi keunikan (kekuatan) sendiri. Menciptakan pacuan perlombaan sendiri. Sibuk dikendalikan oleh penciptaan nilai atas potensi keunikan/kekuatan sendiri, dan tidak disibukkan dan dikendalikan orang lain.

Facebook

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.