Ceritanya aku sudah cukup lama menjalani profesi sebagai guru jam tambahan di sebuah boarding sekolah Islam. Makin lama aku makin menemukan sisi-sisi yang mungkin tidak bisa kuidentifikasi saat aku menjadi guru kelas. Yah, menolak tawaran menjadi guru kelas ketika pagi adalah pilihan yang baik menurutku saat ini karena aku tidak akan disibukkan dengan berbagai administrasi mulai dari RPP hingga setor nilai.

Hal yang kutemukan dari menemani adik-adik belajar IPA dan matematika adalah masalah ketidakpahaman pada dasar materi. Begitu banyaknya materi yang harus dipelajari siswa SMP saat ini sepertinya menjadi beban yang membuat wajah-wajah mereka pucat, tidak lagi riang untuk sekolah. Ini adalah tantangan sekaligus tanggung jawab berat bagi guru. Terbayang bagaimana mulianya para guru hari ini jika dapat memahami situasi ini lantas melakukan berbagai upaya terbaik untuk membantu para peserta didiknya dalam memahami materi.

Hari ini kondisi pendidikan kita sangat pragmatis. UN masih menjadi bayangan di kepala setiap siswa. Maka nilai tinggi adalah target yang dipasang oleh setiap siswa, sekolah, dan orang tua. Bukan masalah nilainya sih, tetapi secara jamak persepsi yang terbangun adalah yang nilainya tinggi maka siswa itu dikatakan cerdas. Yang rata-ratanya tinggi, maka sekolah itu dikatakan mampu mencerdaskan siswa-siswanya. Sekilas sih oke saja, tapi kok aku merasa ganjil ya. Jika nilai tinggi hari ini mencerminkan kecerdasan dan keberhasilan dari proses pendidikan? Mengapa masih banyak ditemukan mahasiswa yang tingkah lakunya mirip anak-anak SMA.

Singkat cerita, sejak aku mulai terjun sebagai pengajar aku mulai mendapati hal yang berbeda antara masa kami belajar dengan anak-anak hari ini. Meskipun kurikulum di masa kami dahulu dikatakan tidak semodern dan sebagus hari ini, tapi kami dulu bisa berkembang lebih baik, tidak hanya bidang akademis, tapi juga skill dan keterampilan. Hari ini? Aku kasihan dengan cerita lucu seorang siswa yang bertanya bagaimana bentuknya SPIRITUS. Wow, hari ini belum tahu apa itu spiritus? Jelas ini ada masalah sejak pendidikan di keluarga. Karena pendidikan menjadi seperti proses membangun pikiran awang-awang, bukan lagi mengenal sesuatu yang jelas ada di sekitarnya.

Maka pendidikan kita hari ini sangat tekstual, tidak lagi kontekstual. Parahnya lagi, sistem belajar siswa dalam mengerjakan soal-soal ujian diakselerasi dengan rumus-rumus praktis buatan sebuah lembaga bimbel. Maaf bukan bermaksud menyalahkan, tapi jika rumus-rumus praktis yang ditemukan tidak bersandar pada pemahaman materi dasarnya justru siswa semakin jauh dari tujuan belajarnya, tetapi semakin pragmatis. Bagaimana siswa dapat semakin mengenal keagungan tuhan di alam sekitar jika pelajaran IPA hanya diisi teknik cepat menyelesaikan soal IPA. Bagaimana siswa akan mampu membangun logikanya, jika siswa diajari trik-trik cepat menyelesaikan soal matematika tanpa dibekali logika asalnya.

bersambung ….

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.