Kategori
Misi Perubahan

Arti Kewibawaan Bagi Sang Pemimpin

Ini hanya sekedar refleksi atas sebuah peristiwa yang sering terjadi namun dianggap biasa saja, termasuk diriku yang baru tersadarkan setelah melihat peristiwa ini. Ceritanya adalah ketika dalam sebuah organisasi ada seorang yang sudah didaulat sebagai pemimpin (its mean bahwa forum percaya dialah yang terbaik di antara yang baik, dialah yang paling layak di antara yang layak). Maka itu artinya semua SDM di organisasi itu dituntut loyalitasnya untuk mewujudkan visi dan misi dasar organisasi itu melalui koordinasinya sang pemimpin (dengan asumsi sang pemimpin dan orang-orang yang dipimpin sama-sama ngerti ruh dasar organisasi itu). Namun sebuah pemandangan aneh terjadi di permulaan bahwa ternyata sang pemimpin seperti dibonsai oleh orang-orang terdekatnya sendiri (wazir-wazir kepercayaannya) yang seenaknya izin (bahkan tanpa konfirmasi atau mendadak cancel) padahal agenda itu sudah dipersiapkan lama dan lebih-lebih adalah sebuah agenda public yang menyangkut kepentingan orang banyak.

Sang pemimpin memang harus sabar, karena kalau tidak sabar itu lebih berbahaya. Tetapi bagi rakyat yang dipimpin haruskah memaklumi berbagai kekurangan yang terlihat oleh mata mereka. Bagaimana bisa para wazirnya pergi sedangkan membiarkan berbagai hal berlalu begitu saja tanpa sebuah kejelasan. Apa masalahnya? Mentang-mentang pemimpinnya lembut lantas semaunya, toh izin juga enak kok (plak, menampar pipiku sendiri ini). Atau kemudian banyak maklum saja lah, namanya juga manusia, kan tempat khilaf dan salah. Di kemudian hari kita juga sepertinya akan hal yang lebih gila terjadi, rakyat harus maklum ketika BBM dinaikkan karena negara sudah terlalu lama mensubsidi (seolah-olah negara berbuat baik pada rakyat, lho bukankah membuat BBM murah atau gratis itu memang kewajibannya pemerintah, kok rakyat diajak berpersepsi seolah-olah negara berbuat baik, sedangkan di sana masih belepotan korupsi). Atau kemudian ada pulau yang dihibahkan ke negeri tentangga, alasannya kita kan kaya, satu pulau kan cuma kecil. Sang pemimpin hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku para wazirnya yang sangat pethakilan ini. Bingung mau berbuat apa.

Mungkin jika negara hari ini lagi kacau (katanya memang lagi seru-serunya pertarungan ideologi, jadi ceritanya negara asing yang pada punya kepentingan untuk jualan monopoli sampai gresek sampah emas di negeri ini lagi asyik memainkan pion-pion di Senayan untuk melawan para pejuang kemerdekaan yang masih tersisa yang ingin mengembalikan kewibawaan para pemimpin negara ini, menegakkan kembali kepemimpinan yang dulu pernah jaya dan menjayakan bangsa, jasmerah ya) maka lihat saja dari institusi-institusi kecil yang ada di bawahnya. Sepertinya juga tidak jauh beda. Yang sudah dipercaya sebagai pemimpin terkadang tidak ditempatkan sebagai pemimpin. Dilancangi sana, dilancangi sini. Meski juga terkandg masalahnya standar kepemimpinan minimal sang pemimpin dianggap belum dipenuhi.

Banyak sekarang yang terjadi pemimpin-pemimpin boneka, maksudnya pemimpin yang dipertanyakan kepemimpinannya. Bisa jadi ini masalahnya pada rahim kaderisasinya atau memang karena sebuah kepentingan yang sedang bekerja (seperti para cukong asing yang merasa terusik kepentingan ekonominya oleh para veteran kemerdekaan yang terus gigih meneruskan Pangeran Diponegoro dan Jenderal Soedirman di parlemen). Jika masalahnya di rahim kaderisasi maka insya Allah dengan upaya perbaikan yang kontinyu nanti juga akan terlahir pemimpin-pemimpin yang berkualitas. Tetapi jika masalah mendasarnya adalah tekanan kepentingan asing ini jadi lain ceritanya, apalagi jika basisnya adalah capital.

Adapun yang aku tertarik untuk membahasnya adalah jika masalahnya pada rahim kaderisasinya. Hari ini banyak system kaderisasi yang masih harus diperbaiki (bisa jadi sistemnya bagus tapi prakteknya parah, atau sistemnya ruwet sehingga tidak bisa dipraktekkan, atau karena tidak ada sistemnya) untuk mewujudkan visi perjuangan yang luar biasa. Bagaimana pun kaderisasi adalah sesuatu yang menjadi tulang punggung utama organisasi atau pergerakan, jadi yang lain boleh hancur, tapi sector ini tak boleh sedikitpun goyah.

Dalam tataran organisasi mahasiswa ini sering jadi permasalahan dan perdebatan yang seolah tidak berujung karena lebih dominannya ego dari pada memikirkan kesamaan yang mungkin untuk dicapai atau usaha keras menemukan bahasa pikiran yang sama. Seringnya pecah kongsi dan kubu-kubuan karena ada bahasa yang tidak pertemu padahal sebenarnya lifeplannya sama. Antipati kelompok jadi masalah. Atau ada yang juga tidak jarang menjadikan organisasi ini sebagai batu loncatan saja, kalau sudah berhasil meloncat ya sudah lantas ditinggalkan saja biar organisasinya mampus.

Maka untuk mengatasi hal-hal yang sifatnya rebutan makanan begitu, maka sang pemimpin harus tegas agar wajah yang tadi masih menoleh ke segala arah dapat menghadap ke arah yang sama, perkara mau sambil makan, sambil pakai kacamata atau sambil nongkrong di atas empang. Dan di sinilah kewibawaan sang pemimpin itu diperlukan untuk mengatur barisan yang pating plekethot itu untuk menjadi teratur dalam arah dan berada posisi yang tepat. Lagi-lagi kewibawaan ini muncul karena aura yang dimiliki pemimpin sebagai hasil perkalian antara kebaikan pribadinya ditunjang kecerdasan pikirnya. Kebaikan pribadi itu naik ke langit, sedangkan kecerdasan pikirnya adalah seperti gelombang longitudinal yang melintasi horizon. Pemimpin yang berwibawa, bagaimana pun kacaunya organisasi insya Allah akan berhasil ia kendalikan untuk diperbaiki dan diarahkan kembali hingga menuju destinasinya.

Mungkin tulisan ini sangat rumit untuk dimengerti, itulah terkadang aku tak bisa menuliskan apa yang ada di kepalaku dengan sistematis. Ringkasnya, hari ini terlihat sosok pemimpin yang seolah diabaikan oleh para wazirnya. Padahal di mata kami ia adalah sosok pemimpin yang terbaik di setelah kami. Apakah karena dia tidak berwibawa, atau kami yang gagal melakukan kaderisasi sehingga wazir-wazirnya tak bisa mengerti pentingnya kewibawaan orang yang memimpinnya. Aku memilih kami mungkin gagal mengajarkan kepada para wazir itu tentang adab-adab dalam kepemimpinan.

Semoga ini menjadi pelajaran berharga buat kami yang juga akan meneruskan kepemimpinan di tempat yang lain. Negara ini akan kuat ketika rakyat ini perhatian kepada para pemimpinnya (artinya tidak hanya mencaci tapi juga berusaha keras memilih pemimpin yang relatif paling baik dari yang baik, atau yang keburukannya relative sedikit di antara yang buruk), dan pemimpinnya memantaskan diri dengan segala kapasitasnya agar bisa menyandang wibawa. Kita boleh bilang politik itu kotor, tapi apakah hari ini kita lantas bilang tidak usah peduli amat dengan pemerintah, ketika para wazirnya sang pemimpin semakin pelit pada rakyat tapi sangat pemurah kepada asing. Padahal pemimpin itu ada untuk rakyatnya, kewibawaannya untuk melindungi rakyatnya dan menjamin kesejahteraan rakyatnya. Tapi wazir-wazirnya telah menggerogoti kewibawaannya di mata rakyat (atau memang sang pemimpin juga tidak layak memiliki wibawa). Mari kita amati pemimpin kita dari yang terkecil hingga terbesar, kemudian kita ukur diri kita seberapa besar kontribusi kita menjaga kewibawaannya (menasihati mereka, mendukung kebaikan mereka, dan membantu mereka dalam hal-hal yang penting untuk kemaslahatan).

Kategori
Tokoh

Pak SBY, Anda Pemimpin Kami, bukan Presiden Part-time

Baru-baru ini kita disibukkan berbagai kasus yang menggegerkan. Mulai dari penangkapan para tersangka pelaku korupsi dan sejenisnya, hingga yang paling baru adalah pengambilalihan partai oleh majelis tertingginya. Sangat wow, dan sepertinya membuat para wartawan dan pemilik media menikmati buah keuntungan ini. Termasuk para penikmat media buta yang lupa untuk belajar mengerti kabar dengan seksama.

Seperti yang sudah kuungkap dalam tulisan tentang surah Yusuf, yah bisa jadi hal-hal yang terjadi di masa sekarang itu sebenarnya memang sebuah konspirasi dan perencanaan segelintir orang yang piawai di dunia intelejen untuk membuat masyarakat sibuk bukan dengan urusannya yang penting tetapi ikut-ikutan ngacau dan berbuat tidak penting. Dalam surah Yusuf, orang sebaik beliau, tidak bersalah, di masa lampau lagi, bisa dipenjara, di mana teknologi mungkin tidak secanggih hari ini (karena berdasarkan kabar dalam ayat itu sekaligus analisis sejarah Mesir kuno, teknologi paling mutakhir yaitu ramalan), apalagi sekarang yang sudah sedemikian canggihnya, orang benar dipenjara sangat mungkin, orang salah bebas sangat mungkin.

Jadi sudahlah, wong ya kita nggak tahu mana yang benar dan salah secara jelas sekarang. Bukankah Islam mengajarkan kita untuk berbaik sangka, terlebih kepada saudara kita sesama muslim. Bukankah negeri kita menganut prinsip praduga tak bersalah. Biarlah, biarlah masalah itu selesai pada waktunya nanti. Bukankah ketika orang-orang itu membuat makar, maka Allah akan membalas makar mereka? Bukankah dia itu sebaik-baik pembalas makar musuh-musuh-Nya? Cukup ya.

Sekarang kita lanjut ke masalah yang menurutku sangat penting, yaitu tentang Pak SBY, presiden kita. Bagaimana pun, beliaulah pemimpin negara saat ini, suka atau tidak suka. Hari ini kita disuguhi sebuah perkara yang cukup miris (kalau tidak disebut memalukan), sebuah praktik hegemoni kekuasaan yang menafikan kaderisasi dan penumbuhan kepercayaan kepada pemimpin baru. Dan terlebih lagi, fenomena ini membuat kita bingung, beliau itu Presiden RI atau sedang nyambi jadi Presiden seperti kicauan yang lagi trend di twitter sekarang dengan tagline #nyambipresiden.

Fenomena pertama adalah tentang fungsi kaderisasi partai. Ketika beliau mengambil alih kepemimpinan partai yang seharusnya dijabat oleh mas Anas Urbaningrum maka sesungguhnya ini adalah pembelajaran yang sangat tidak baik. Mengapa? Beliau itu kan mendapat gelar bapak demokrasi dan bapak macem-macem lah sekarang. Masak iya, dalam prakteknya malah seperti ini, terkesan otoriter banget.

Kalau kata uda Yusuf, beliau gagap demokrasi, gara-gara besar di era otoriter, kini terpaksa mengikuti kehendak demokrasi. Terlepas isu mau menjaga kedudukan sang putra mahkota lah, atau menghindari bergesernya tahta kerajaan Demokrat lah, aku ga mau tahu dan juga tidak mengerti.  Yang jelas, ini memprihatinkan dan sekaligus membodohi rakyat yang katanya sedang belajar demokrasi (atau mungkin memang sebenarnya pemaksaan demokrasi saja bagi Indonesia), karena aku termasuk orang yang menyangsikan keberhasilan demokrasi untuk kemakmuran bangsa kita di hari depan.

Bukankah kita dulu pernah punya tata nilai yang membuat kepemimpinan tiap daerah langgeng dan berwibawa. Rakyat mencintai pemimpinnya, berjuang bersama, dan mau rela mati membela tanah airnya. Lupakah kita dengan akar sejarah kita? Mengapa kepemimpinan Indonesia tidak dibangun berdasarkan kearifan itu? Apakah semua harus dengan pemilu dan partai politik sehingga kita harus membayar mahal untuk setiap 5 tahun untuk biaya pemilu, disamping konsekuensinya ada penggelapan dana yang secara nasional jumlahnya bisa mencapai ribuan triliun oleh segelintir elit yang terobsesi jadi pemimpin.

Yang jelas ini pelajaran berharga bahwa negara ini masih harus belajar dewasa tentang kaderisasi dan kepemimpinan. Kita seharusnya khawatir jika negara yang luas ini dipimpin oleh orang-orang yang bermental anak kecil, bukan yang berjiwa patriot. Ketika yang kuat dan merasa berkuasa terbiasa mengambil alih, bukankah ini praktek halus kekuasaan totaliter. Mahasiswa yang membaca fenomena sekarang harus jeli, jangan-jangan yang sudah jadi mantan Presiden BEM, direktur organisasi atau apa lah masih terobsesi untuk melakukan hal yang mirip SBY padahal sudah pegang amanah yang baru.

Kata sahabatku yang malu disebutkan namanya, jangan berbuat macam-macam dan terbiasa mengintervensi kebijakan pemimpin setelah kita. Bagaimanapun, dialah yang sekarang berkuasa, bukan kita. Jadi berilah kesempatan dan nasihat yang baik serta berikan keleluasaan baginya untuk menentukan pilihannya ke depan. Karena itu akan melatihnya untuk bertanggungjawab dan komitmen dalam memimpin ke depan. Bukan dikekang seperti anak kecil saja.

Fenomena yang kedua adalah tentang kepemimpinan SBY. Tidak diragukan lagi beliau adalah presiden kita sampai 2014 nanti (meskipun konon sekarang udah kalah jauh terkenal dibanding Jokowi). Padahal dalam bahasa gamblang dan bahasa lugu rakyat Indonesia, presiden itu adalah pemimpin penuh yang memegang kendali atas negara.

Merujuk pada kicauannya uda Yusuf, jabatan presiden itu artinya jabatan totalitas, 7 hari sepekan selama 24 jam per hari. Lha kalo menjadi presiden saja masih mikirin partainya, yang ada justru terkesan menjadi Presiden Part-time. Karena dalam pandangan bodoh orang-orang, kalau dia masih mengurus partainya meskipun sebentar saja terekpos, pasti sebenarnya seluruh harinya habis buat mikir partainya. Bukankah beliau itu berasal dari partai, jadi wajar dong anggapan bodoh itu dibenarkan.

Selain itu, kejadian ini menjadi serangan balik dari perkataan beliau sendiri agar menteri berkonsentrasi pada tugasnya bukan partainya. Lah ini malah menjilat ludahnya sendiri. Padahal pemimpin itu dipegang perkataannya. Sekali bertitah maka wajib dipegang, atau diluruskan jika benar-benar salah. Nah, nasihat beliau kepada para menteri kan memang nasihat yang sudah jelas-jelas benar, makanya harus dipegang. Tapi kenyataannya, bisa kita simpulkan sendiri.

Apa pun itu, yang jelas publik kecewa memiliki Presiden yang terkesan kerja part-time. Bagaimana pun kami berharap beliau mau kembali focus untuk mengurusi negara yang semakin tidak jelas ini. Sesulit apa pun itu. Dengan media informasi yang semakin maju seperti saat ini rakyat semakin cerdas untuk menilai, meskipun sesekali mereka bisa mengumpat sesukanya, menyatakan kekecewaanya atau berbagai kicauan hingga kelakar-kelakar nyelenehnya sebagai ekspresi ke-stress-an yang tak kunjung bertemu solusinya.

Pak SBY, Anda adalah presiden RI. Bukan lagi wakil partai Demokrat, jadi mohon bekerjalah penuh untuk negeri ini, bukan part-time. Sebagai kaum intelektual, kami tahu betapa beratnya beban Anda, maka jangan dibebani lagi dengan urusan partai. Biarlah ia diurusi oleh orang-orang yang sekarang mendapat amanah mengurusnya. Tirulah sikap Habibie, yang selalu elegan memberi kritik, tidak dibeber-beberkan ke publik. Tak hobi berkoar kecuali diminta untuk memberi nasihat. Dan selalu visioner untuk memotivasi generasi muda, khususnya kaum intelektual negeri ini.

Akhirnya, mari kita panggil Pak SBY dengan agar beliau teringat dengan kita, “Pak, Anda presiden kami di NKRI, bukan Presiden part-time. Kami merindukan kiprah nyata Anda“.

Kategori
Misi Perubahan

Kaderisasi dan Membentuk Jiwa Kepemimpinan

Seolah tak berujung, menjadi seorang yang terjun di dunia organisasi pasti akan mengalami permasalahan pelik di setiap pergantian kepemimpinan (kecuali mereka-mereka yang hanya menjadi penganut tradisi dan penerus formal). Dan masalah itu adalah permasalahan yang selalu sama dan membosankan untuk ditulis, apalagi dikaji dan didiskusikan. Yaitu kaderisasi dan kepemimpinan. Berbagai uji coba dan sistem telah diterapkan di berbagai organisasi yang kumasuki hingga kadang aku memilih keluar jika ternyata aku yang merasa tak mampu lagi bertahan dan berkawan dengan sistem itu. Atau terkadang aku sengaja melakukan koreksi semampuku untuk menghasilkan kualitas kerja yang lebih bermutu dalam pandanganku.

Begitu pula di organisasi yang kupimpin selama tahun 2012 (kurang dan lebih dikit) kemarin. Aku tidak ingin permata terakhir yang diamanahkan kepadaku ini menjadi sebuah organisasi biasa yang tidak memiliki jalan terang setelah sekian waktu hanya berkutat pada seputar formalitas lembaga dan event organizer. Organisasi keilmuan adalah gudang inovasi dan kawah candradimuka untuk melahirkan inovator baru Indonesia yang lebih memilih bekerja nyata dan menjadi solusi untuk permasalahan bangsa. Maka, sebuah kesalahan besar jika organisasi ini terus menerus hanya berkutat pada masalah siapa dan bagaimana mekanisme kepemimpinannya, tetapi lupa yang yang akan dihasilkan dan permasalahan apa yang dapat diselesaikan selama satu tahun, lima tahun, hingga sepuluh tahun ke depan.

Maka tanpa membuang waktu, setelah melalui uji eksperimen setengah periode menggunakan metode klasik diperoleh hasil yang nihil dan terancam bubar seperti yang sudah-sudah. Akhirnya sebuah langkah tegas mulai kami buat dalam sebuah gerakan halus untuk menumbuhkan sebuah komitmen belajar bagi siapa pun yang telah berikrar untuk membawa bendera organisasi keilmuan ini. Keteladanan dan bimbingan yang intensif adalah pemantik terbaik yang diusahakan agar selalu tersaji di depan mata para pencari ilmu ini. Dan berharap bagi mereka-mereka yang hanya ingin mengharap “kebesaran nama” organisasi ini untuk segera menyingkir sejauh-jauhnya jika memang tidak pernah punya keinginan belajar, berproses dan berkarya. Bagi kami, tidak usah banyak cing cong untuk merealisasikan berbagai ide, langsung bawa sini, diskusikan sebentar dan segera eksekusi.

Dan metode keorganisasian modern hasil belajar dari tokoh-tokoh yang telah kupelajari serta kugali inspirasinya, dan tentunya dukungan dari dua sahabat terbaikku, maka kami pun mencoba mencetak superteam impian kami agar nantinya mereka tidak pernah mengalami nasib sama seperti kami. Mereka harus lebih siap dan lebih memahami apa yang menjadi visi hidup dan visi bersama mereka sehingga mereka kelak menjadi pemimpin yang meneruskan visi besar organisasi ini, bukan menjadi “penerus” di organisasi semata. Dan inilah tantangan terberat kami dalam waktu kurang dari 4 bulan untuk mempersiapkan singa-singa baru yang sejatinya telah terlanjur “dikotori” oleh potret perilaku kami yang masih kurang konsisten dalam menjadi teladan berkarya baginya, yang kurang perhatian dalam memberikan bimbingan terbaik untuk mereka sebelum tekad ini diwujudkan. Tapi kami yakin, waktu yang masih tersisa ini pasti akan membuahkan hasil pada waktunya nanti.

Dan hari ini aku mungkin akan berkata sangat keras kepada mereka agar mereka terbangun dari kemanjaan sikap dan kekanak-kanakan mereka, sebelum akhirnya kami benar-benar menghilang dalam kehidupan mereka nanti, kemudian menjadi pengamat yang menyamar dalam bentuk rakyat biasa. Mereka harus menumbuhkan jiwa kepemimpinan mereka secara alami, bukan dicitrakan apalagi direkayasa. Mereka harus menceburkan diri dan merasakan pahitnya berbagai tantangan yang ada nantinya, biarlah masalah mereka adalah urusan mereka. Itu akan mendewasakan mereka. Yang penting prinsip mereka telah diluruskan, visi mereka telah disatukan, dan hati-hati mereka ditautkan dalam jalinan ukhuwah yang kokoh.

Hari ini aku ingin berkata kepada mereka, “Adik-adik, reformasi telah dimulai, dan tidak akan pernah berhenti sampai kapan pun, kecuali jika kalian telah membubarkan jalan yang telah dibangun para pendahulu kalian ini”. Jadilah pemimpin yang sebenarnya, yang peka terhadap masalah, yang penuh inisiatif untuk menyelesaikan, yang bergerak cepat untuk menuntaskan persoalan, yang paling siap untuk bertanggung jawab ketika ada kesalahan meskipun itu dilakukan oleh rekanmu di organisasi ini. Jadilah pemimpin sejati setelah kami, kalian bukan sekedar penerus kami, tetapi kalian jiwa-jiwa baru yang akan melahirkan pemimpin baru berikutnya. Jika kalian gagal mentahbiskan diri kalian menjadi pemimpin, jangan harap kalian akan mampu mengkader adik-adik kalian.

Kaderisasi itu melahirkan pemimpin, bukan memperbanyak pengikut. Bahkan bisa juga melahirkan musuh-musuh yang kuat untuk menentangmu nanti. Tetapi yang penting adalah proses kaderisasi telah kita jalankan dengan sebaik-baiknya. Pasti Allah akan memilih yang terbaik dari adik-adik yang telah kita didik itu. Biarkanlah mereka memutuskan masa depan mereka. Karena masalah mereka adalah tanggung jawab mereka pada masanya nanti, bukan urusan kita. Kita hanya bisa terus menyemangati dan mengatakan bahwa “itu adalah yang terbaik” untuk kalian.

Kategori
Misi Perubahan

Titik Megalomania dan Pola Pikir Birokratis #3

Aktivis Semu

Setiap aktivitas yang terjadi hanya berbentuk formalitas lembaga (yang di masa orde baru “asal bapak senang”) dan semakin jauh dari kepentingan umum. Bahwa sebuah lembaga publik itu tugasnya adalah memberikan pelayanan publik, bukan hanya sebatas untuk kelompok-kelompok terbatas apalagi pesanan senior yang masanya telah berlalu dan masalahnya telah berubah. Dan aku melihat banyak kontradiksi atas idealisme dari berbagai pelajaran kepemimpinan dan gerakan yang kuikuti hari ini dengan kenyataan di lapangan, terutama dalam implementasi di lapangannya. Ada himmah yang terlalu mengawang karena para pejuangnya tak menjejakkan kaki di atas bumi melainkan mengambang terbang tapi juga tak tinggi ke langit.

Efeknya adalah proses kaderisasi lembaga dan berbagai upaya pembentukan generasi baru itu bias, karena yang dihasilkan dari proses ini adalah mental pengikut, bukan mental pemimpin. Memang membentuk pemimpin itu ada resikonya. Pemimpin itu orang yang memiliki kemampuan terpaksa bisa ketika menghadapi keadaan terpahit, sedangkan pengikut itu orang yang bingung dan cenderung salah langkah ketika menghadapi situasi sulit karena kebanyakan menunggu instruksi. Bahkan tak jarang pemimpin-pemimpin baru itu akan menjadi musuh besar dari para gurunya karena perbedaan sebuah kepentingan. Tetapi yang kudapati dari berbagai perang bintang di masa lalu, mereka yang berjiwa pemimpin sejati tidak akan pernah menjatuhkan lawannya dengan cara yang keji dan menghinakannya ketika telah dikalahkan.

Lah, kok dari megalomania merembet di masalah kaderisasi lembaga. Aku hanya ingin curhat bahwa sepertinya krisis kepemimpinan generasi muda di organisasi-organisasi mahasiswa itu kian kentara (berdasarkan realita yang bisa terjamah oleh mata dan pikir penulis dan berita kawan). Apakah ini karena faktor megalomania yang dialami oleh para seniornya yang membuat proporsi menyayangi adik-adiknya berubah menjadi mengekang adik-adiknya, sehingga ketika mereka memimpin hakikatnya hanya menjadi pemimpin semu. Atau justru sebaliknya mengekang di titik permulaan dan meninggalkan jauh di titik akhirnya. Tidak penting untuk bertanya, tunjuk hidung sendiri saja yah. Dan saat ini, situasi perpolitikan di negeri kita yang ga jauh beda dengan pasar lelang semakin memperburuk moral generasi muda Indonesia ke depan, sebagian semakin apatis, sebagian lagi benar-benar rusak (gara-gara ga kuat menghadapi sistemnya waktu sudah terjun di dalam), dan sebagian lagi mirip muna (padahal sebenarnya tidak, hanya terlanjur dipersepsikan demikian oleh publik oleh media yang sekarang sangat diragukan independensinya). Kita berlindung kepada Allah dari hal yang sangat buruk itu.

bersambung ….

Kategori
Misi Perubahan

Kaderisasi itu Menciptakan Pemimpin

Dalam dunia organisasi, pergerakan, dan sebagainya penting sekali yang namanya kaderisasi. Sekilas orang yang mendengar kata itu terlihat sangat wah dan mentereng. Memang betul, kaderisasi adalah proses yang sangat elit. Maka biasanya yang jadi kabid kaderisasi dipilih orang-orang yang keren (kira-kira begitu). Nah, apa sih substansi kaderisasi itu?

Berbagi pengalaman tentang kaderisasi dari beberapa organisasi yang pernah ku masuki dahulu, intinya adalah bagaimana merekrut, mengelola dan kelak menempatkan menjadi pemimpin-pemimpin penerus di organisasi. Jadi kaderisasi itu adalah bagaimana menciptakan pemimpin, bukan menciptakan pengikut. Pernyataan ini harus disyaratkan bahwa “pemimpin” itu berbeda dengan “pimpinan”. Pemimpin itu adalah siapa pun yang memiliki kapasitas untuk menjadi teladan dan pengelola dalam setiap aktivitas komunal, sedangkan pimpinan adalah orang-orang yang menjadi pejabat tinggi secara definitif dalam sebuah lembaga. Jadi tidak setiap pemimpin itu pimpinan, dan tidak setiap pimpinan itu pemimpin. Karena terkadang kita menjumpai orang yang berkarakter pemimpin didepak karena tidak “memenuhi” kepentingan yang ada.

Jadi kaderisasi itu hendaknya tidak menjadikan kita berambisi untuk selalu merebut kekuasaan untuk dikuasai oleh orang-orang yang kita bina. Tetapi bagaimana kita menempatkan orang-orang binaan kita agar mereka menjadi aktor intelektual dalam organisasi itu, apa pun posisi awal mereka. Mereka tumbuh besar di sana, berkembang di sana dengan cara mereka namun mengikuti prinsip dasar yang kita pegang dari para founding father organisasi/ pergerakan ini.

Lalu bagaimana kabar kaderisasi yang sudah kita lakukan? Hemm, mari kita lihat adik-adik kita. Sudahkah mereka belajar untuk menjadi pemimpin. Sosok yang paling tangguh ketika mendapat amanah. Sosok yang paling awal mengambil peluang. Sosok yang paling kreatif dalam menyelesaikan. Sosok yang paling visioner dalam membuat keputusan. Jika belum, masalahnya adalah pada diri kita. Ya, pada diri saya yang masih rendah dalam merasa dan menginterpretasikan. Karena aktivitas ini bukan sebuah teori, melainkan dinamika yang perlu ketajaman hati untuk mengasah dan membangunkan jiwa-jiwa muda yang masih tertidur. Mereka potensial, tetapi mereka harus dibangunkan agar sadar dan melek. Sehingga tidak terbuai dalam mimpi dan euforia yang berkepanjangan.

Jika adik-adik hari ini masih manja, takut membuat pilihan, bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda kemandirian untuk mengambil sebuah pilihan. Its mean that we just succed to create followers not leader. Apakah aku sudah? Aku selalu berdoa agar adik-adikku kelak selalu menjadi leader, baik mereka masih menjadi amanahku secara langsung maupun dari kejauhan. Aku hanya bisa berbagi dan menunjukkan apa yang sudah dan akan kulakukan. Jika bermanfaat, biarlah mereka mengambilnya. Dan semoga di hari akhir nanti aku dapat menikmatinya, itulah investasi amal sangat kuperhitungkan hari ini.

Dan sudahkah kaderisasi kita mencetak pemimpin? Kita tentu berharap untuk menjawab “sudah”. Kita buktikan.