Dalam dunia organisasi, pergerakan, dan sebagainya penting sekali yang namanya kaderisasi. Sekilas orang yang mendengar kata itu terlihat sangat wah dan mentereng. Memang betul, kaderisasi adalah proses yang sangat elit. Maka biasanya yang jadi kabid kaderisasi dipilih orang-orang yang keren (kira-kira begitu). Nah, apa sih substansi kaderisasi itu?

Berbagi pengalaman tentang kaderisasi dari beberapa organisasi yang pernah ku masuki dahulu, intinya adalah bagaimana merekrut, mengelola dan kelak menempatkan menjadi pemimpin-pemimpin penerus di organisasi. Jadi kaderisasi itu adalah bagaimana menciptakan pemimpin, bukan menciptakan pengikut. Pernyataan ini harus disyaratkan bahwa “pemimpin” itu berbeda dengan “pimpinan”. Pemimpin itu adalah siapa pun yang memiliki kapasitas untuk menjadi teladan dan pengelola dalam setiap aktivitas komunal, sedangkan pimpinan adalah orang-orang yang menjadi pejabat tinggi secara definitif dalam sebuah lembaga. Jadi tidak setiap pemimpin itu pimpinan, dan tidak setiap pimpinan itu pemimpin. Karena terkadang kita menjumpai orang yang berkarakter pemimpin didepak karena tidak “memenuhi” kepentingan yang ada.

Jadi kaderisasi itu hendaknya tidak menjadikan kita berambisi untuk selalu merebut kekuasaan untuk dikuasai oleh orang-orang yang kita bina. Tetapi bagaimana kita menempatkan orang-orang binaan kita agar mereka menjadi aktor intelektual dalam organisasi itu, apa pun posisi awal mereka. Mereka tumbuh besar di sana, berkembang di sana dengan cara mereka namun mengikuti prinsip dasar yang kita pegang dari para founding father organisasi/ pergerakan ini.

Lalu bagaimana kabar kaderisasi yang sudah kita lakukan? Hemm, mari kita lihat adik-adik kita. Sudahkah mereka belajar untuk menjadi pemimpin. Sosok yang paling tangguh ketika mendapat amanah. Sosok yang paling awal mengambil peluang. Sosok yang paling kreatif dalam menyelesaikan. Sosok yang paling visioner dalam membuat keputusan. Jika belum, masalahnya adalah pada diri kita. Ya, pada diri saya yang masih rendah dalam merasa dan menginterpretasikan. Karena aktivitas ini bukan sebuah teori, melainkan dinamika yang perlu ketajaman hati untuk mengasah dan membangunkan jiwa-jiwa muda yang masih tertidur. Mereka potensial, tetapi mereka harus dibangunkan agar sadar dan melek. Sehingga tidak terbuai dalam mimpi dan euforia yang berkepanjangan.

Jika adik-adik hari ini masih manja, takut membuat pilihan, bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda kemandirian untuk mengambil sebuah pilihan. Its mean that we just succed to create followers not leader. Apakah aku sudah? Aku selalu berdoa agar adik-adikku kelak selalu menjadi leader, baik mereka masih menjadi amanahku secara langsung maupun dari kejauhan. Aku hanya bisa berbagi dan menunjukkan apa yang sudah dan akan kulakukan. Jika bermanfaat, biarlah mereka mengambilnya. Dan semoga di hari akhir nanti aku dapat menikmatinya, itulah investasi amal sangat kuperhitungkan hari ini.

Dan sudahkah kaderisasi kita mencetak pemimpin? Kita tentu berharap untuk menjawab “sudah”. Kita buktikan.

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.