Seolah tak berujung, menjadi seorang yang terjun di dunia organisasi pasti akan mengalami permasalahan pelik di setiap pergantian kepemimpinan (kecuali mereka-mereka yang hanya menjadi penganut tradisi dan penerus formal). Dan masalah itu adalah permasalahan yang selalu sama dan membosankan untuk ditulis, apalagi dikaji dan didiskusikan. Yaitu kaderisasi dan kepemimpinan. Berbagai uji coba dan sistem telah diterapkan di berbagai organisasi yang kumasuki hingga kadang aku memilih keluar jika ternyata aku yang merasa tak mampu lagi bertahan dan berkawan dengan sistem itu. Atau terkadang aku sengaja melakukan koreksi semampuku untuk menghasilkan kualitas kerja yang lebih bermutu dalam pandanganku.

Begitu pula di organisasi yang kupimpin selama tahun 2012 (kurang dan lebih dikit) kemarin. Aku tidak ingin permata terakhir yang diamanahkan kepadaku ini menjadi sebuah organisasi biasa yang tidak memiliki jalan terang setelah sekian waktu hanya berkutat pada seputar formalitas lembaga dan event organizer. Organisasi keilmuan adalah gudang inovasi dan kawah candradimuka untuk melahirkan inovator baru Indonesia yang lebih memilih bekerja nyata dan menjadi solusi untuk permasalahan bangsa. Maka, sebuah kesalahan besar jika organisasi ini terus menerus hanya berkutat pada masalah siapa dan bagaimana mekanisme kepemimpinannya, tetapi lupa yang yang akan dihasilkan dan permasalahan apa yang dapat diselesaikan selama satu tahun, lima tahun, hingga sepuluh tahun ke depan.

Maka tanpa membuang waktu, setelah melalui uji eksperimen setengah periode menggunakan metode klasik diperoleh hasil yang nihil dan terancam bubar seperti yang sudah-sudah. Akhirnya sebuah langkah tegas mulai kami buat dalam sebuah gerakan halus untuk menumbuhkan sebuah komitmen belajar bagi siapa pun yang telah berikrar untuk membawa bendera organisasi keilmuan ini. Keteladanan dan bimbingan yang intensif adalah pemantik terbaik yang diusahakan agar selalu tersaji di depan mata para pencari ilmu ini. Dan berharap bagi mereka-mereka yang hanya ingin mengharap “kebesaran nama” organisasi ini untuk segera menyingkir sejauh-jauhnya jika memang tidak pernah punya keinginan belajar, berproses dan berkarya. Bagi kami, tidak usah banyak cing cong untuk merealisasikan berbagai ide, langsung bawa sini, diskusikan sebentar dan segera eksekusi.

Dan metode keorganisasian modern hasil belajar dari tokoh-tokoh yang telah kupelajari serta kugali inspirasinya, dan tentunya dukungan dari dua sahabat terbaikku, maka kami pun mencoba mencetak superteam impian kami agar nantinya mereka tidak pernah mengalami nasib sama seperti kami. Mereka harus lebih siap dan lebih memahami apa yang menjadi visi hidup dan visi bersama mereka sehingga mereka kelak menjadi pemimpin yang meneruskan visi besar organisasi ini, bukan menjadi “penerus” di organisasi semata. Dan inilah tantangan terberat kami dalam waktu kurang dari 4 bulan untuk mempersiapkan singa-singa baru yang sejatinya telah terlanjur “dikotori” oleh potret perilaku kami yang masih kurang konsisten dalam menjadi teladan berkarya baginya, yang kurang perhatian dalam memberikan bimbingan terbaik untuk mereka sebelum tekad ini diwujudkan. Tapi kami yakin, waktu yang masih tersisa ini pasti akan membuahkan hasil pada waktunya nanti.

Dan hari ini aku mungkin akan berkata sangat keras kepada mereka agar mereka terbangun dari kemanjaan sikap dan kekanak-kanakan mereka, sebelum akhirnya kami benar-benar menghilang dalam kehidupan mereka nanti, kemudian menjadi pengamat yang menyamar dalam bentuk rakyat biasa. Mereka harus menumbuhkan jiwa kepemimpinan mereka secara alami, bukan dicitrakan apalagi direkayasa. Mereka harus menceburkan diri dan merasakan pahitnya berbagai tantangan yang ada nantinya, biarlah masalah mereka adalah urusan mereka. Itu akan mendewasakan mereka. Yang penting prinsip mereka telah diluruskan, visi mereka telah disatukan, dan hati-hati mereka ditautkan dalam jalinan ukhuwah yang kokoh.

Hari ini aku ingin berkata kepada mereka, “Adik-adik, reformasi telah dimulai, dan tidak akan pernah berhenti sampai kapan pun, kecuali jika kalian telah membubarkan jalan yang telah dibangun para pendahulu kalian ini”. Jadilah pemimpin yang sebenarnya, yang peka terhadap masalah, yang penuh inisiatif untuk menyelesaikan, yang bergerak cepat untuk menuntaskan persoalan, yang paling siap untuk bertanggung jawab ketika ada kesalahan meskipun itu dilakukan oleh rekanmu di organisasi ini. Jadilah pemimpin sejati setelah kami, kalian bukan sekedar penerus kami, tetapi kalian jiwa-jiwa baru yang akan melahirkan pemimpin baru berikutnya. Jika kalian gagal mentahbiskan diri kalian menjadi pemimpin, jangan harap kalian akan mampu mengkader adik-adik kalian.

Kaderisasi itu melahirkan pemimpin, bukan memperbanyak pengikut. Bahkan bisa juga melahirkan musuh-musuh yang kuat untuk menentangmu nanti. Tetapi yang penting adalah proses kaderisasi telah kita jalankan dengan sebaik-baiknya. Pasti Allah akan memilih yang terbaik dari adik-adik yang telah kita didik itu. Biarkanlah mereka memutuskan masa depan mereka. Karena masalah mereka adalah tanggung jawab mereka pada masanya nanti, bukan urusan kita. Kita hanya bisa terus menyemangati dan mengatakan bahwa “itu adalah yang terbaik” untuk kalian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.