Aktivis Semu

Setiap aktivitas yang terjadi hanya berbentuk formalitas lembaga (yang di masa orde baru “asal bapak senang”) dan semakin jauh dari kepentingan umum. Bahwa sebuah lembaga publik itu tugasnya adalah memberikan pelayanan publik, bukan hanya sebatas untuk kelompok-kelompok terbatas apalagi pesanan senior yang masanya telah berlalu dan masalahnya telah berubah. Dan aku melihat banyak kontradiksi atas idealisme dari berbagai pelajaran kepemimpinan dan gerakan yang kuikuti hari ini dengan kenyataan di lapangan, terutama dalam implementasi di lapangannya. Ada himmah yang terlalu mengawang karena para pejuangnya tak menjejakkan kaki di atas bumi melainkan mengambang terbang tapi juga tak tinggi ke langit.

Efeknya adalah proses kaderisasi lembaga dan berbagai upaya pembentukan generasi baru itu bias, karena yang dihasilkan dari proses ini adalah mental pengikut, bukan mental pemimpin. Memang membentuk pemimpin itu ada resikonya. Pemimpin itu orang yang memiliki kemampuan terpaksa bisa ketika menghadapi keadaan terpahit, sedangkan pengikut itu orang yang bingung dan cenderung salah langkah ketika menghadapi situasi sulit karena kebanyakan menunggu instruksi. Bahkan tak jarang pemimpin-pemimpin baru itu akan menjadi musuh besar dari para gurunya karena perbedaan sebuah kepentingan. Tetapi yang kudapati dari berbagai perang bintang di masa lalu, mereka yang berjiwa pemimpin sejati tidak akan pernah menjatuhkan lawannya dengan cara yang keji dan menghinakannya ketika telah dikalahkan.

Lah, kok dari megalomania merembet di masalah kaderisasi lembaga. Aku hanya ingin curhat bahwa sepertinya krisis kepemimpinan generasi muda di organisasi-organisasi mahasiswa itu kian kentara (berdasarkan realita yang bisa terjamah oleh mata dan pikir penulis dan berita kawan). Apakah ini karena faktor megalomania yang dialami oleh para seniornya yang membuat proporsi menyayangi adik-adiknya berubah menjadi mengekang adik-adiknya, sehingga ketika mereka memimpin hakikatnya hanya menjadi pemimpin semu. Atau justru sebaliknya mengekang di titik permulaan dan meninggalkan jauh di titik akhirnya. Tidak penting untuk bertanya, tunjuk hidung sendiri saja yah. Dan saat ini, situasi perpolitikan di negeri kita yang ga jauh beda dengan pasar lelang semakin memperburuk moral generasi muda Indonesia ke depan, sebagian semakin apatis, sebagian lagi benar-benar rusak (gara-gara ga kuat menghadapi sistemnya waktu sudah terjun di dalam), dan sebagian lagi mirip muna (padahal sebenarnya tidak, hanya terlanjur dipersepsikan demikian oleh publik oleh media yang sekarang sangat diragukan independensinya). Kita berlindung kepada Allah dari hal yang sangat buruk itu.

bersambung ….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.