Kategori
Pendidikan

Menikah dan Mendidik adalah Peristiwa Peradaban Terpenting.

oleh Harry Hasan Santosa

Wahai para Ayah, tahukah anda, menikah dan mendidik anak adalah peristiwa peradaban terpenting sepanjang sejarah manusia, sepanjang sejarah bangsa2, dan sepanjang sejarah hidup anda?

Sudah selayaknya alokasi waktu, perhatian, tenaga, ruhiyah, keteladanan diberikan sepenuh-penuh kemampuan kita. Dunia masa depan adalah dunia dimana hasilpernikahan kita dan pendidikan anak2 kita menjadi penentu kedamaian, keselamatan dan kelestarian manusia dan alam seluruhnya.

Anak-anak kita akan menghuni peradaban masa depan, yang mungkin kita tidak akan pernah bisa menyinggahinya. Bisa saja anak2 kita lebih dahulu menghadap Robbnya, tetapi pada ghalibnya mereka akan hidup pada ruang dan waktu serta peristiwa di masa depan, yang sadar maupun tanpa sadar, kitalah para ayahnya yang membangun dan mengkonstruksikan persepsi dan pensikapan mereka atas ruang dan waktu serta peristiwa2 itu kelak.

Persepsi dan pensikapan yang baik akan terbangun oleh imaji2 anak2 kita yg positif atas diri mereka, Tuhan, Alam, Masyarakat, Bangsa dstnya, semenjak hari pertama mereka hadir di bhmi menjadi amanah kita para ayah. Imaji2 yg buruk thd diri, Tuhan, alam, masyarakat dll akan melahirkan luka persepsi, dan luka persepsi akan nampak pada pensikapan yg buruk pd semua itu. Secara kolektif tentu saja pensikapan ini akan membuat peradaban manusia semakin kelam. Hak pendidikan adalah hak terbaik dan utama yg bisa kita laksanakan sungguh2 sebelum ajal menjelang.

Bahkan hak anak kita sudah ada jauh sebelum kita menikah, yaitu dicarikan ibu yang baik untuknya. Maka didiklah anak2 kita sebagaimana orang2 shalih dan mushlih berjihad (bersungguh-sungguh) menegakkan peradaban dan kebenaran.

Jadikan peradaban masadepan peradaban yg indah, damai dan lestari bagi manusia dan alam semesta, sebagai warisan terbaik yg bisa kita berikan dalam sepenggal umur kita di dunia, maka wujudkan itu dgn sungguh2 menjalankan pendidikan sejati utk anak2 kita.

Salam Pendidikan Masa Depan

Facebook

Kategori
Cinta

Inspirasi Walimahannya Izza

Ceritanya tadi siang aku ke walimahan salah satu teman se-angkatan yang nikah. Bersama teman-teman sesama single kami asyik mencari sasaran untuk melakukan pengecrokan selama di sana. Ada satu yang orangnya kalem, dan pantas jadi sasaran empuk. Maaf bro, memang beginilah kelakuan kita (eh kami). Alhasil kunjungan kami ke walimahannya Izza menjadi seru banget.

Di samping itu, ada sebuah konsep baru yang benar-benar ideal yang baru kutemukan dengan kepalaku sendiri (biasanya cuma dengar cerita). Yaitu pengaturan tamu hingga prosesi foto-foto pengantin yang benar-benar terjaga. Dalam Islam, hal seperti ini sebenarnya sangat ditekankan agar semua berjalan baik dan syar’i. Begitu memasuki halaman rumah, kami langsung terpisah antara tamu putra dan putri. Kami menyalami among tamu masing-masing dan duduk di tempat yang disediakan.

Tak hanya sampai di situ, ternyata PIC acara hampir semuanya dari keluarga. Mulai dari yang menikahkan, Qari dan saritilawahnya, kemudian yang memberikan khutbah nikahnya. Petugas KUA tinggal mencatat dan mengurus administrasinya saja, karena pernikahannya dilakukan oleh walinya sendiri (alias ayahnya Izza). Wah-wah ini sih namanya benar-benar pesta keluarga.

Kesimpulannya, ada banyak cara untuk mempersiapkan pernikahan yang baik dan syar’i. Semuanya adalah pilihan kita. Tentunya persiapan sebelum pernikahan itu jauh lebih penting. Kata kuncinya, jika ingin mendapatkan yang benar-benar baik, pantaskan diri untuk meraihnya. Bukan mencobai satu-satu, apalagi mem-PHP-i. Ini sekedar nasihat kecil untuk yang nulis ini, dan para bujang-bujang yang lagi galau. He he.

Barakallah Izza dan Sofyan, semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Kategori
Cinta

Pernikahan dan Menyemai Pohon Kehidupan

Hari ini mirip pekan kemarin, datang ke walimahan. Bedanya kalau pekan kemarin ke negeri ngapak, sekarang ke tanah makam leluhur. Loh, maksudku kali ini aku dan teman-teman IM3 UGM Yogyakarta datang ke Imogiri, di walimahan salah satu sahabat sekaligus kakak bagiku yang telah menjadi salah satu jalan pencerahan bagiku terutama yang selalu mengingatkanku untuk teguh di jalan dakwah ini, beliau adalah mas Rezky Lasekti Wicaksono.

Perkenalanku dulu terjadi ketika beliau KKN PPM di dusunku. Sebagai seorang aktivis yang merakyat beliau telah memberiku contoh bagaimana ta’liful qulub dengan masyarakat sebagai obyek dakwah sehingga hari ini kenangan indah beliau di masyarakat tetap terpatri di hati. Dan hari ini masyarakat Banaran pun juga berduyun-duyun hadir di walimah yang bahagia ini, satu minibus mengangkut bapak kepala dusun, ibu-ibu bahkan para geng muda yang dulu sering main bersama beliau.

Tampak begitu gagah beliau mengenakan busana ada Jogja, dan istrinya mbak Ida yang mengenakan busana pengantin muslimah. Wah, ini pasangan yang serasi. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah ya mas. Doaku untuk mu, semoga Allah senantiasa memberi kekuatan dan keluasan rezeki di kehidupan kalian yang baru. Ini pertanda bahwa engkau mungkin tidak akan sesering dulu berkunjung ke dusun kami untuk memberi pencerahan kepadaku dan masyarakat. Itu berarti tanggung jawab berganti kepada generasi yang pernah kau inspirasi.

Di tengah suasana walimah ini, hujan pun turun mengiringi kebahagiaan mereka. Banyak orang yang mungkin tidak suka, tetapi bagi yang memiliki keimanan, inilah rahmat Allah diturunkan untuk mengiringi hari bahagia. Aku turut larut dalam suasana hangat ini. Menyalami dan memeluk beliau. Berfoto bersama. Dan tentunya makan-makan sampai puas (memang dasar mahasiswa). Aku terharu saat bertemu beliau, karena ini pertemuanku dengan beliau setelah hampir 4 bulan tidak pernah bertemu.

Di akhir walimahan, aku mendapatkan inspirasi sekaligus nasihat berharga dari pernikahan beliau berdua. Biasanya, dalam masyarakat Jawa, para tamu undangan yang hadir mendapatkan titipan ulih-ulih beruma makanan dalam besek atau roti. Tapi kali ini kami mendapatkan benih tanaman yang bisa dipilih mulai dari sirkaya, jambu, anggur, dan berbagai jenis tanaman yang lain. Kalau ide ini muncul aku tidak heran, mengingat beliau adalah mahasiswa jurusan kehutanan. Tetapi melihat nasihat yang tersirat di sana, inilah kenangan yang benar-benar tidak hanya akan dikenang, tetapi kelak akan memberi manfaat jika dijaga dengan baik.

Tanaman itu ketika ditanam di rumah dan nanti menjadi besar maka dia akan menjadi pengingat bahwa ini adalah hadiah dari pernikahan mas Sekti. Dan tanaman ini menjadi inspirasi bahwa pernikahan itu memulai sebuah babak baru kehidupan. Pohon kehidupan yang rindang tetapi juga akan sering diterpa badai. Makin tinggi makin berat ujiannya. Maka perlunya saling menjaga dan menguatkan.

Pertanyaannya? Aku sebaiknya memberikan inspirasi apa ya ketika pernikahanku nanti. Hemm, sambil jalan deh. Insya Allah nanti akan ada ide yang muncul. Yang jelas, hari ini tak cuma kenyang, tapi juga mendapatkan ilmu dan inspirasi baru.

Kategori
Cinta

Indahnya Menikah : Inspirasi mas Adnan

Baru aja malamnya membahas materi tentang membangun komitmen pemuda muslim, ternyata paginya Allah mempertemukanku dengan seorang yang emang bener-bener keren. Seorang yang inspiratif lagi pejuang. Siapa dia? Seorang yang pernah menjadi rekan kadep di sebuah organisasi LDK, seorang yang telah memilih untuk menikah muda, dan seorang yang qowiy untuk menjadi contoh laki-laki sejati yang komitmen menjaga kehormatan dirinya. Pertemuan yang tak sengaja ketika sarapan pagi itu menjadi penampar dan pengingat betapa tidak ada apa-apanya diriku dan betapa hinanya diriku jika dibandingkan dengan kekokohan akhlak dan tekad yang beliau miliki.

Hemm, selama ini memang keseriusanku mempersiapkan diri untuk membangun keluarga muslim dan memperbaiki diri masih sangat kurang. Kurang sekali. Banyak habis waktuku untuk retorika-retorika dan canda yang kelewatan. Ah, jadi malu jika sering ketemu beliau. Lagi-lagi beliau akan memotivasiku untuk mempersiapkan diri agar memiliki visi yang jelas tentang kapan memulai kehidupan baru itu. Kehidupan yang indah katanya, yang akan mengantarkan kita pada rezeki yang lebih besar, yang akan mengantarkan kita pada perjuangan hidup yang sebenarnya.

Jika flashback dari sejak muda dan ababil hingga kuliah hari ini, oh sungguh terlalu aku. Aku butuh melakukan redesain lagi untuk memperbaiki perjalanan hidupku yang sepertinya semakin kacau dan tidak jelas ini. Aku harus menciptakan jejak indah yang layak untuk menjadi ibrah ke depan. Jejak yang berisi perjuangan dan perjuangan. Jejak yang berisi perjalanan penuh hikmah. Jejak yang membuat hidup kita lebih hidup. Malu malu malu. Plak, kata-kata mas Adnan adalah tamparan peringatan yang begitu keras di pipiku untuk segera sadar dan bangun. “Hei anak muda, waktumu jangan dihabiskan buat senang-senang gitu. Segera buat persiapan yang matang boy!”

Persiapan menikah, kata beliau dimulai dari tekad dan niat yang kuat. Kemudian memacu diri untuk mulai mandiri. Kemudian memacu diri untuk belajar baik tentang fiqih pernikahan maupun seputar kehidupan rumah tangga. Kemudian memacu diri kita untuk mendefinisikan diri dalam status sosial dan kontribusi bagi masyarakat. Dengan menikah maka banyak potensi maksiat yang segera tertutup dan digantikan oleh amalan-amalan yang berpahala. Bener kan? Tanya aja deh sama yang sudah mengalami, contohnya mbak yang inspiratif ini.

Mas Adnan, sarapan pagi ini membuatku mikir panjang mas. Terima kasih ya. Akan kubuktikan ke depan kalau menikah itu indah. Tapi kapan ya? Hanya Allah yang tahu kapan jodohku disiapkan, tinggal aku membuat perencanaan dan melakukan persiapan terbaik. Kata ust. Asrofi waktu akhirussannah kami di SMA dahulu agar jangan buru-buru menikah mungkin ada benarnya bagiku, karena kebabailanku masih harus diselesaikan, tak secepat mas Adnan. Demikian pula pesan mas Adnan, menyegerakan menikah itu akan menjadikan hidup lebih indah. Tidak perlu bingung, yang penting menikah di waktu yang tepat, dengan pilihan yang tepat dan kondisi terbaik. Semoga Allah meridhoi harapan hati ini.

Untuk jodohku yang belum kuketahui, semoga engkau aman di sana, dalam lindungan Allah. Doakan kebaikan untuk calon suamimu ini ya. Semoga kelak bisa menjadi suami dan ayah yang baik. Terima kasih mas Adnan atas inspirasinya tadi pagi.

Kategori
Cinta

Menikah Itu …..

Ini hasil dari diskusi seru halaqah malam ini. Setelah banyak kasus para ikhwan yang menikah di belakang layar entah karena apa pun alasannya, akhirnya tema ini menjadi bahan tausiyah hingga diskusi seru kami. Berikut poin-poin yang dapat saya bagi pada pembaca sekalian.

Dakwah itu adalah sesuatu yang suci, dan Allah yang akan menjaga kesucian itu. Maka hendaknya menjadi perhatian para aktivis dakwah kampus untuk tidak terjerumus pada virus yang sudah cukup terkenal di kalangan aktivis, yakni VMJ. Pada prinsipnya, semua itu kembali kepada para personal yang menjalani proses tarbiyah itu sendiri. Yang mereka niatannya benar insya Allah akan mendapatkan keridhoan-Nya, yang niatannya salah yah dia akan mendapatkna apa yang diniatkannya itu. Lebih lengkap? Rujuklah hadits pertama pada kitab hadits Arbain karya Syaikh Nawawi.

Bagaimana menyiapkan pernikahan itu? Sebagai tingkatan kedua dalam marathibul amal dakwah maka menikah itu menjadi suatu yang penting untuk mempertahankan eksistensi dakwah ini. Jalur tereksklusif yang biasa dipakai adalah lewat proposal, nyampainya ke siapa dan di ACC, ya itulah yang terbaik untuknya. Bagaimana jika berkeinginan dengan seseorang? Salahkah? Tidak. Justru aneh jika kita suka pada sesama jenis (parah). Hanya jika sudah berkecenderungan pada seseorang, tetap lakukan dengan cara yang terbaik dan syar’i, jangan sampai mencicil (alias membuat kesepakatan di belakang tanpa tujuan yang jelas), hingga akhirnya memformalkan lewat MR seolah-olah itu adalah sebuah upaya yang murni. Allah mahatahu apa yang kita kerjakan.

Jadi tetaplah pada keyakinan bahwa Allah yang akan menentukan jodoh kita, baik yang saat ini mungkin menarik di hati kita, atau mungkin kelak akan ada yang lebih tepat untuk kita. Itu hanya permainan hati, jangan diungkap selagi tak niat untuk menikah. Karena cinta sejati itu yang ketika telah diikat dalam ikatan yang sah. Kata ustadz Salim, mencintai orang yang dinikahi adalah kepastian, serdangkan menikahi orang yang dicintai itu hanya kemungkinan, bisa terjadi bisa saja tidak. Maka mending kita pilih yang pertama, nikah dulu dah dengan cara yang baik, mungkin kepada orang yang kita ketahui lewat buku kepribadiannya saja atau memang orang yang kita kenal, tapi hati-hati, jangan mendahului takdir dan mencoba berbuat maksiat.

Semoga tulisan ini menjadi inspirasi bagi para aktivis, dan semoga menjadi penguat pemahaman yang menulis.

Kategori
Catatan Perjalanan

Green Married

Telah kupetik setangkai bunga

Di dalam dunia ini

Sebagai penghias yang mulia

Dan mewangi

………………. (Maidany – Cinta Dalam Cinta)

Hu hu hu, sejenak teringat lagu yang indah di atas waktu aku mau menulis kisahku waktu ke pernikahannya bulik Mega di Ngawi. Yah, lagu Maidany yang terkenal mellow tapi sangat kusuka. Dan mengapa juga aku memberi judul postingan ini dengan Green Married? Simak liputannya (serasa berita)

Serasa Eksekutif Muda

Bulik akhirnya menikah. Setelah beberapa waktu sudah belajar ngemong anak-anak di Sekolah Alam Bekasi. Ga kebayang deh bagaimana beliau yang begitu kocaknya kemudian bersama dengan anak-anak di sekolah alam dan rame-rame belajar. Yang pasti seru dan mengasyikkan. What ever, kali ini aku mau membahas pernikahannya.

Perjalanan dimulai dengan minibus berkapasitas 15 orang yang kebetulan hanya dinaiki separuhnya 12 penumpang. Aneh tapi keren. Berasa eksekutif muda, bisa selonjor, tiduran bahkan jungkir balik di kendaraan kan. Dari sekian penumpang itu ada aku dan tanteku yang ikut di bus ini. Bus yang sopirnya ramah dan aku bisa berkomunikasi dengan bahasa Jawa tingkat dewa dengan beliau (Penting? Terserah mau bilang apa).

Dari Alaska hingga Rumah Cinta

Ada hal yang kusuka dalam perjalanan ini, bus yang biasanya nrayek penumpang dari kawasan pedalaman Karanganyar ini, ternyata tetap menunjukkan kegagahannya dengan mengambil jalan pintas terdekat ke Ngawi. Biasanya sih bus-bus seperti itu lewat Sragen, tapi kali ini justru kami diajak menyusuri kawasan pedalaman Karanganyar, melewati hutan Karet. Karenanya aku teringat dengan istilah Alaska (Alas Karet). Dan karena itu pula aku kembali teringat saat-saat perpisahan bersama keluarga bidang Pembinaan SKI FKIP UNS. Jadi ingat wajah-wajah sahabatku di masa itu (dan tetap sahabat kok sampe sekarang).

Kemudian aku juga melihat pabrik karet dengan dukungan bau limbahnya yang menyengat dan mencemari sungai. Nah, ketemu nih. Aku mau bilang bahwa adanya pertumbuhan industry di Indonesia yang tidak diikuti dengan pemeliharaan lingkungan berarti sebenarnya kita mengalami minus pertumbuhan ekonomi, jika diteropong dari sudut pandang Prof. Emil Salim, seorang guru besar UI yang terkenal getol menyoroti soal lingkungan hidup.

Aku melihat hutan-hutan karet yang sejuk itu ternyata membuat sebagian manusia industrial menutup mata atas kerusakan lingkungan yang terjadi akibat limbah yang dihasilkan oleh proses teknologi yang tidak bersahabat dengan lingkungan. Dan ini bukan berarti cinta, padahal aku sedang bepergian untuk menjenguk orang yang telah menemukan cintanya. Oh Cinta, kau terabaikan di sini sayang. Aduh aduh, sayang sekali manusia sekarang mulai hilang cintanya terhadap lingkungan. Itu baru masalah karet, industry, dan limbah yang mencemari lingkungan. Demikian keluhku ketika aku melihat fenomena itu. Namun aku tetap gembira, karena hutan itu tidak pernah kujumpai di Gunungkidul. Lagi pula aku sedang melakukan perjalanan ke rumah cinta, jadi harus tetap ceria dong. Secara, mau ketemu bulik juga dan suaminya bulik. Ha ha ha.

Pernikahan Adalah…

Setelah sampai di sana ternyata ijab qabul telah selesai. Yah, tak mengapa lah. Yang penting sudah melihat bulik bahagia dan bisa memegang tangan suaminya sekarang. Tapi ibarat bumi dan langit, aku melihat dua manusia yang berbeda dipersatukan oleh Allah di sini. Tapi bukan karena laki-laki dan perempuan beda jauhnya (itu mah jelas, masak menikah dengan sesame jenis). Suami bulik Mega, mas Aep namanya, orangnya super kalem (nggak tahu deh ya besok kalo udah lama dengan bulik). Padahal bulik orangnya asyik dan selalu penuh dengan keanehan yang membuat orang tertawa terpingkal-pingkal sampai jungkir balik. Wow, pasti akan terjadi akulturasi kebudayaan tingkat akut yang begitu mengesankan nantinya. Yang pasti aku mau ngucapin, barakallahu laka, wa baraka alaykum, wa jama’a bainakuma bikhoir. Amiin, semoga pernikahan bulik senantiasa langgeng dan dinaungi kasih sayang-Nya.

Hal yang mengesankan adalah waktu lesehan dan saling mengenalkan baik dari teman-teman bulik di UNS dan suami bulik yang dari IPB. Ha ha ha, semuanya jadi GJ dibawah pimpinan bulik. Dan tahukah, bulik mengenakan busana hijau, sedangkan mas Aep mengenakan hem biru, kaya seragam dosen FKIP. Tidak penting sih, tapi aku jadi merasa benar waktu menulis judul postingan ini dengan Green Married. * Semakin tidak penting

Dan di sinilah aku menyaksikan untuk yang kesekian kalinya keajaiban pernikahan dua anak manusia. Tidak akan pernah terpikirkan bagaimana manusia itu dapat menikah. Semua berjalan seperti ketentuan takdir-Nya. Tinggal kita memilih, mengikuti jalan yang benar atau memilih cara-cara yang dimurkai-Nya. Bagaimana sebaiknya menikah. Menikah dengan cara yang terbaik dan orang terbaik, bukan menikah mengikuti hawa nafsu. Menikah karena untuk menggapai keridhoan-Nya.

Aku teringat dengan hal-hal yang mungkin masih mengganjal di pikiranku saat ini. Tingkah lakuku, jejak-jejak keburukanku, yang semuanya itu terkadang membuatku minder untuk segera mengazzamkan tekad meminang sang bidadari yang entah di mana berada sekarang. Iya, segera menuntaskan sunnah Rasulullah yang sangat beliau tekankan ini bagi seorang pemuda agar potensi-potensi maksiatku yang rawan sekarang segera terkikis habis dan diganti dengan kecintaan dan kebahagiaan. Jadi, pernikahan adalah tempat terindah untuk menyatukan dua hati yang telah saling bicara meski tak mengenal siapa. Aku tahu itu, dan semoga aku bisa menyiapkannya sampai waktu yang tepat.

Demikianlah sekelumit ceritaku. Ada yang sudah siap menikah? Yah, aku cuma kok. Kalau udah siap menikahlah duluan. Ha ha ha. Aku juga mau menikah kok suatu saat.