Ini hasil dari diskusi seru halaqah malam ini. Setelah banyak kasus para ikhwan yang menikah di belakang layar entah karena apa pun alasannya, akhirnya tema ini menjadi bahan tausiyah hingga diskusi seru kami. Berikut poin-poin yang dapat saya bagi pada pembaca sekalian.

Dakwah itu adalah sesuatu yang suci, dan Allah yang akan menjaga kesucian itu. Maka hendaknya menjadi perhatian para aktivis dakwah kampus untuk tidak terjerumus pada virus yang sudah cukup terkenal di kalangan aktivis, yakni VMJ. Pada prinsipnya, semua itu kembali kepada para personal yang menjalani proses tarbiyah itu sendiri. Yang mereka niatannya benar insya Allah akan mendapatkan keridhoan-Nya, yang niatannya salah yah dia akan mendapatkna apa yang diniatkannya itu. Lebih lengkap? Rujuklah hadits pertama pada kitab hadits Arbain karya Syaikh Nawawi.

Bagaimana menyiapkan pernikahan itu? Sebagai tingkatan kedua dalam marathibul amal dakwah maka menikah itu menjadi suatu yang penting untuk mempertahankan eksistensi dakwah ini. Jalur tereksklusif yang biasa dipakai adalah lewat proposal, nyampainya ke siapa dan di ACC, ya itulah yang terbaik untuknya. Bagaimana jika berkeinginan dengan seseorang? Salahkah? Tidak. Justru aneh jika kita suka pada sesama jenis (parah). Hanya jika sudah berkecenderungan pada seseorang, tetap lakukan dengan cara yang terbaik dan syar’i, jangan sampai mencicil (alias membuat kesepakatan di belakang tanpa tujuan yang jelas), hingga akhirnya memformalkan lewat MR seolah-olah itu adalah sebuah upaya yang murni. Allah mahatahu apa yang kita kerjakan.

Jadi tetaplah pada keyakinan bahwa Allah yang akan menentukan jodoh kita, baik yang saat ini mungkin menarik di hati kita, atau mungkin kelak akan ada yang lebih tepat untuk kita. Itu hanya permainan hati, jangan diungkap selagi tak niat untuk menikah. Karena cinta sejati itu yang ketika telah diikat dalam ikatan yang sah. Kata ustadz Salim, mencintai orang yang dinikahi adalah kepastian, serdangkan menikahi orang yang dicintai itu hanya kemungkinan, bisa terjadi bisa saja tidak. Maka mending kita pilih yang pertama, nikah dulu dah dengan cara yang baik, mungkin kepada orang yang kita ketahui lewat buku kepribadiannya saja atau memang orang yang kita kenal, tapi hati-hati, jangan mendahului takdir dan mencoba berbuat maksiat.

Semoga tulisan ini menjadi inspirasi bagi para aktivis, dan semoga menjadi penguat pemahaman yang menulis.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.