Kawan, pernahkan engkau sakit? Tentu pernah bukan. Aku pun juga. Tapi mungkin kita hanya sakit yang sifatnya sesaat. Yah, sesaat saja. Sakit sehari dibanding sehat setahun yang kita rasakan tentu adalah masa sesaat bukan. Tapi yang sesaat itu terkadang membuat kita seolah tersiksa puluhan tahun. Lebay sekali saat kita lupa dengan ujian yang sejatinya menghapuskan satu per satu dosa kita saat diri ini ikhlas.

Ini adalah kisah hikmah yang kulihat dengan kedua mataku sendiri. Semoga bermanfaat bagi para pembaca blog ini. Di masjid yang kutinggali saat ini adalah salah satu jamaah yang dahulu aktif shalat berjamaah. Beberapa waktu kemudian beliau sakit stroke dan terpaksa absen dari shalat berjamaah karena mengalami kondisi yang memungkinkan beliau tidak mampu bergerak.

Alhamdulillah, setelah beberapa bulan kemudian sang Bapak ini kemudian mulai bisa bergerak meskipun tak terlalu bisa berbicara lagi. Setiap dzuhur dan ashar dengan dipapah putera sulungnya beliau upayakan untuk sering datang shalat berjamaah ke masjid. Sepanjang jalan dengan rute yang cukup berat karena mendaki dengan kemiringan hampir 30 derajat itu dilalui bersama putera sulungnya menggunakan kursi roda.

Hanya ungkapan takjub yang terucap dalam hati. Begitu luar biasanya perjuangan bapak ini untuk mendapatkan pahala utama dalam shalat berjamaah. Beliau belum bisa berjalan dan harus dipapah sang putera tercinta. Saat shalat beliau juga duduk karena belum mampu berdiri sempurna dan melakukan gerakan-gerakan seperti orang yang sanggup shalat. Maka alangkah malunya kita jika hingga hari ini untuk sekedar meluangkan waktu shalat berjamaah saja masih malas-malasan. Lebih malu lagi jika hingga hari ini masih belum mau shalat secara konsisten padahal diberi tubuh yang sehat sempurna.

Semoga sekelumit kisah ini membuat kita lebih bersyukur atas karunia kesehatan dan kesempurnaan tubuh yang masih Allah anugerahkan buat kita. Haruskah kita menunggu nikmat yang luar biasa ini dikurangi-Nya atau diambil-Nya kembali? Alangkah malangnya ketika kita tak segera sadar diri.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.