Yang membedakan Sultan Muhammad al Fatih dengan kebanyakan anak-anak muda hari ini (mungkin termasuk yang nulis status ini) yang semangat dalam dakwah adalah kelurusan visi dan kepahaman akan sejarah.

Beliau menjadikan nubuwat Rasulullah dan sejarah Islam sebagai pijakan membangun visi untuk membangkitkan semangat pasukan dan mengeluarkan kebijakan strategis (karena memang memiliki posisi strategis sebagai pemimpin kesultanan Ottoman).

Sedangkan yang sekarang, lebih banyak menghabiskan waktu dalam romantika sejarah dan kampanye kosong, tanpa tindakan nyata perbaikan masyarakat yang sudah jauh dari Islam dan hilang kebanggaan untuk menjadi satu umat.

Kecerdasan itu terletak dalam membaca situasi lalu memperbaikinya, bukan membaca literasi lalu membuat narasi. Itulah mengapa seorang Nabi yang ummi menjadi inspirasi peradaban, karena Al-Quran dan Sunnah adalah tindakan dan perkataan yang menjadi bukti, bukan menjadi orasi.

Jika Abu Bakar dan Utsman menuliskan Kalamullah itu, dan al-Bukhari serta yang lainnya mengabadikan semua itu, harapannya generasi sesudahnya menjadikannya kembali sebagai sebuah bukti, bukan membuka ruang perdebatan dan wacana seperti hari ini.

Jika kita tak mampu membuat gebrakan perubahan dan perbaikan umat yang bermanfaat, setidaknya jangan membuat onar dengan menyakiti hati saudara-saudara seiman kita karena pernyataan-pernyataan prematur yang lebih karena luapan emosi, bukan hikmah yang terlahir karena cahaya ilmu yang Allah karuniakan kepada kita.

Banyaknya harta haram yang bercampur aduk dan beredar ditengah-tengah kita cukuplah menjadi salah satu alasan bahwa kita punya PR untuk memperbaiki diri dalam soal makanan dan ketulusan ibadah agar doa-doa kita kembali diijabah oleh Allah. Bukan kebanyakan mengomentari dan mencela situasi. Ini akhir zaman, banyak fitnah dan keburukan yang menimpa umat akibat kesalahan kita sendiri yang lalai pada Allah.

Yuk istighfar yang banyak.

Facebook

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.