Hari ini aku berkunjung ke salah satu klien yang memesan pembuatan web kepadaku untuk mengambil materi yang akan diisikan di dalam web toko online-nya www.dayancraft.com. Seorang ibu rumah tangga yang super kreatif lagi pekerja keras. Kunjungan sore ini sambil mudik ke kampung halaman membuatku memetik banyak pelajaran berharga tentang kemandirian.

Tak lupa aku mengeksplorasi sejarah awal berdirinya unit usaha kreatif beliau ini. Unit usaha home industri ini kini telah melibatkan banyak ibu-ibu di lingkungannya untuk memenuhi pesanan. Sebuah industri yang bergerak dalam pemanfaatan limbah produksi kain dari perusahaan garmen dan tekstile untuk dijadikan aneka tas cantik dan berbagai karya kreatif lainnya.

Lama-lama aku benar-benar malu dan membisu dengan kisah yang diceritakan oleh sang ibu ini. Beliau yang bahkan tidak mengenyam bangku kuliah pun tahu bagaimana harus menjadi manusia yang merdeka, QODIRUN ALAL KASBI, itulah salah satu hal yang perlu diusahakan setiap muslim, bukan hanya dalam dia memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi memastikan kemerdekaan dirinya untuk bekerja tanpa ada tuan dan hamba.

Satu kata yang selalu kuingat dari kisah beliau itu,“Karena aku tak ingin diperintah“. Yah bekerja itu akan nyaman ketika dimulai dari sebuah kesepakatan. Ini hanya soal pilihan bagaimana kita akan bekerja, karena ini juga bukan sepenuhnya harus disepakati karena banyak juga yang mau bekerja di bawah tekanan. Tetapi tentu saja ungkapan sang ibu sangat aku setujui karena kesepakatan itu membuat kita mampu bekerja secara gentle.

Kemandirian ekonomi itu akan menjadi cermin bagaimana kita mampu menjaga kemuliaan diri kita untuk tetap bertahan dalam berbagai situasi. Ketika kita lagi bokek, kita berusaha untuk menghemat agar tidak menjadi pengemis atau menjadi koruptor ketika sedang memegang jabatan (emang ada pejabat yang bokek ya). Ketika kita lagi berlimpah kita pun tidak boros dan menghambur-hamburkan harta untuk pamer karena kita ingat akan ada masa susah.

Jika hari ini kita melihat anggota dewan menuntut kenaikan gaji di saat rakyat dan kehidupan negara yang masih ruwet seperti ini, maka aku berpikir kita tidak sedang punya wakil di parlemen karena kita tidak pernah mengusulkan adanya kenaikan gaji dan fasilitas bagi mereka. Itu mungkin sekumpulan orang yang bermental miskin yang lagi beruntung dalam meja judi pemilu yang rutin diselenggarakan setiap 5 tahun di negeri kita. Sudahlah, tidak ada gunanya berurusan dengan penjudi yang miskin.

Kupikir, ibu tadi memberi nasihat yang banyak kepadaku agar aku selalu menjadi orang kaya bagi diriku sendiri. Jika kita yakin Allah maha pemberi maka setiap hari kita adalah orang kaya karena menikmati pemberian-Nya dengan penuh kemerdekaan.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.