Menjelang Pemilu 2014 April mendatang, setiap partai politik menunjukkan dinamikanya. Sudah pasti, media massa akan mengekspos berita berdasarkan kepentingannya masing-masing. Yang lucu, berita yang di media online akan dibagi-bagikan gratis di jejaring sosial, diperdebatkan, dan mungkin diluar itu dijadikan bahan untuk bermusuhan. Mungkin.

Ada yang mungkin tidak banyak disadari. Karena awalnya aku juga termasuk orang yang intens menyimak berita dan menjadikannya sebagai rujukan informasi terpercaya. Tetapi sejak menjadi blogger dan mendalami dunia periklanan media online, sekarang hanya bisa ketawa-ketiwi melihat orang debat dan eyel-eyelan soal berita, apalagi jika itu gosip artis dan berita politik.

Bicara kredibilitas pemberitaan media hari ini sangat naif. Bukan berarti media itu bohong, berita-beritanya bisa jadi banyak yang benar dan faktual. Tetapi bukankah media itu adalah salah satu pos bisnis, ladang para kapitalis menanam investasi. Jadi apa yang menjadi sisi lain dari berita, tentu saja uang. Nah, maka tidak usah heran bahwa media baik secara ekstrim atau tidak pasti mengusung sebuah misi. Yang sudah kapitalis sudah barang tentu semua pemberitaannya bertujuan untuk mengeruk keuntungan. Yang masih idealis tentu juga mengusung propaganda ideologinya. Dan yang jelek adalah media-media yang membabi buta.

Maka membaca berita itu ya biasa-biasa saja lah. Jangan sampai kita membaca berita itu menetap di satu situs. Cek dan ricek sangat penting agar kita tidak menjadi berat sebelah. Dan jangan serius-serius sampai meluap emosi. Masak baca berita saja sampai begitu serius, sedangkan saat tilawah cuma kayak orang nyanyi tanpa ada luapan emosi dan perasaan yang mendalam. Kok jadi kebalik-balik begini. Bukannya berita tidak penting, tetapi berita yang disiarkan media massa tentu tidak lebih penting kan jika dibandingkan dengan informasi-informasi akurat yang menyangkut sendi keimanan kita.

Maka terlalu memposting berita yang subyektif di Facebook menurutku justru menonjolkan sisi kefanatikan kita. Terlalu memuji berita yang menurut kita baik, sebaliknya terlalu mengejek berita yang menurut kita buruk justru akan menimbulkan stigma buruk di tengah banyak orang bingung identitas dan mencari suara yang buruk hari ini. Sementar pengusung kebaiknnya sedikit, dalam jumlah yang lebih besar suara keburukan berkobar. Yang berniat menyuarakan kebaikan tapi salah langkah, ujungnya jadi pembully-an rame-rame.

Menurutku, Indonesia mengalami musim aneh dalam politik (just kidding). Ada musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Sayangnya musim semi dan musim panasnya hanya sesaat. Selebihnya musim gugur dan musim dingin. Musim dimana parpol kembali lupa kepada janjinya di musim semi dan musim panas. Mereka bersemi menjelang lelang kekuasaan, panas saat dekat dengan perebutan kekuasaan. Tapi tiba-tiba gugur saat kekuasaan di tangan dan yang lain menjadi oposisi. Lalu menjadi musim dingin untuk waktu yang lama sekali. Tak ada kehidupan, tak ada harapan selain salju putih yang terlihat indah dikejauhan tetapi dingin menyiksa dan menyisakan luka. Perih sekali bukan.

Nah, pilihlah partai yang mampu menjanjikan musim semi dan musim panas yang panjang. Karena di negeri ini baju musim dingin mahal, apalagi rumah-rumahnya tidak ada penghangat ruangannya. Kenalilah partai yang menjanjikan musim semi dan panas yang panjang itu. Jangan tertipu dengan salju, karena ia dingin dan hanya indah di foto saja untuk dipamerkan.

1 Comment

  1. Pingback: Ketika AD/ART Parpol Diganti Berita | Be Better for Future

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.