Masih berkaitan dengan musim panas 2014 ini. Usai musim semi berlalu, kini suhu panas mulai terasa. Situs Facebook yang semula biru sepertinya mulai memerah dalam imajinasiku. Banjir informasi dari para pengamat jadi-jadian sepertinya masih belum ada habisnya. Sebenarnya sih memang tiap hari ada, tetapi mungkin intensitas di waktu-waktu ini semakin banyak dan semakin sengit.

Aku mengapresiasi para pengguna Facebook maupun jejaring sosial lainnya yang lebih peduli membagikan inspirasi-inspirasi yang baik ketimbang banyak membuka polemik dan diskusi-diskusi yang tidak pada tempatnya. Mari kita ingat, bahwa Facebook bukanlah subtitusi atas silaturahim dan kebersamaan kita. Sehingga lebih baik kita gunakan ia sebagai tempat berbagi hal-hal yang lugas dan mudah dimengerti oleh semua orang.

Membagi-bagikan berita hari ini menurutku bukanla tindakan relevan mengingat informasi adalah salah satu komoditas jualan yang laris di era teknologi informasi seperti sekarang. Biarlah pemilik situs berita yang membagi beritanya secara membabi buta. Kita pilih-pilih yang baik-baik saja, inspiratif dan yang tidak kontroversial.

Bukankah dalam kaidah beragama kita diperlukan tabayyun atas sebuah informasi. Karena kita mungkin tidak sempat untuk cek dan ricek semua hal yang kita ketahui, maka mari pilih-pilih yang maslahat saja, bukan yang mengundang debat dan kontroversi. Juga kita pilih informasi yang masih dalam jangkauan kapasitas kita untuk dibagikan ke orang lain.

Khusus buat rekan-rekanku yang masih mahasiswa. Kita adalah penyandang gelar kaum intelektual. Mengapa masih menggunakan metode-metode pragmatis seperti itu dalam belajar? Bermodal berita lalu membuat banyak sensasi. Masyarakat membutuhkan pemikiran dan kerja keras kita kawan. Minimal kita hadir sebagai solusi dan tidak lagi menjadi bagian dari pengangguran yang selalu menengadahkan tangan kepada orang tua kita.

Indonesia butuh mahasiswa yang bekerja dan berpikir untuk kemaslahatan bangsanya. Bukan politisi duplikat generasi sebelumnya yang hanya gemar berkicau sambil mencuri brankas negara. Mari kita hilangkan perilaku korup kita dengan menjaga kehormatan diri dari kebiasaan menyontek saat ujian dan membangun idealisme saat bekerja. Itu lebih sulit untuk dijalani memang dari pada jadi pengamat berita dan mengomentari fenomena. Tapi itulah yang dibutuhkan negeri ini, bukan status kesarjanaan kita yang ternyata hanya digunakan untuk kelengkapan administratif di tangan bos-bos asing.

Sahabatku, mari bersama kita berpikir dan bekerja untuk Indonesia yang lebih baik. Bekerja dalam diam, berjuang dalam kesunyian, biarkan speaker keras bergaung di luar, tapi kita tetap tenang menyelesaikan pekerjaan kita di kamar yang gelap dan hanya diterangi lampu temaram.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.